"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

Showing posts with label HADITS. Show all posts
Showing posts with label HADITS. Show all posts

26 March, 2020


Hukum Beramal dengan hadith Dha’if
Termasuk malapetaka terbesar yang menimpa kaum muslimin sejak zaman dahulu adalah penyebaran hadith-hadith yang dhaif (lemah) dan maudhu (palsu) di kalangan mereka. Dan musibah ini menimpa seluruh umat Islam sehingga para 'ulama (dai') kecuali mereka yang Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan dari para imam dan pengkritik hadith. Kita juga sering mendengar nasihat  atau ceramah dari salah seorang ulama atau ustadz atau khutbah dari seorang pendakwah yang mengandungi hadith dhaif dan Maudhu.

Hal ini sangat berbahaya karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُـتــَـعَمـِّدًا فَلْيــَـتـَـبَوَّ أْ مَـقْعـَدَهُ مِنَ النـــَّـارِ . متفق عليه
“Barang siapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja maka hendaknya menempati tempat duduknya di neraka” (Muttafaqun alaih).

Telah berkata ibnu Hibban dalam Muqaddimah kitab shahihnya pasal “Wajibnya masuk neraka seseorang yang menisbatkan sesuatu (perkataan maupun perbuatan) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam padahal orang tersebut tidak mengetahui keshahihan hadith tersebut” kemudian beliau (Ibnu Hibban) mengutip dua hadith yang menunjukkan kebenaran perkataannya:

حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka." (HadithRiwayat: Bukhari No.106)

Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, (merupakan salah satu rawi hadits yang adil) - telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

مَنْ حَدَّثَ عَنـِّي بـــِحَدِ يْثٍ يُرَى أَنـــَّهُ كَذِبٌ فَهُـوَ أَحَدُ كَاذِ بـَـيْنِ . رواه مسلم
“Barangsiapa yang mengucapkan suatu hadits dan dia sangka atau duga bahwa hadith ini adalah dusta maka dia satu dari dua pendusta”. (Hadith Riwayat: Muslim)

Dari keterangan di atas, adalah jelas bahawa seseorang yang menyebarkan hadith tanpa memeriksa kesahihannya dahulu, maka dia adalah antara mereka yang berdusta/berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam padahal Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبِ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتـَعَمــِّدًا فَلْيــَتـَبـَوَّ أْ مَقْعـَدَهُ مِنَ النــَّـارِ . رواه البخاري و مسلم
“Sesungguhnya berdusta atas (nama) ku tidak sama dengan berdusta atas nama seseorang (selain aku) Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja maka hendaknya dia menempati tempat duduknya di neraka” (Hadith Riwayat: Bukhari dan Muslim)

Di sini, kita menyedari betapa pentingnya mengetahui masalah yang kita sedang berbincang, kerana kebanyakan penafsir, ustadz, atau khatib yang menyampaikan hadith dhaif dengan alasan ia adalah sebahagian dari Fadhoilul A'mal (keutamaan-keutamaan amal).

HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADITH DHAIF

Para ‘ulama kita (rahimahullahu) telah berikhtilaf dalam hukum meriwayatkan dan mengamalkan Hadit dhaif.  Ikhtilaf ‘ulama ini terbagi tiga:

PERTAMA:  Bahawa hadith dhaif itu tidak boleh diamalkan secara mutlak (sama sekali) baik dalam masalah hukum, aqidah, targhib watarhib dan lain-lainnya. Yang berpegang pada pendapat ini adalah sejumlah besar dari kalangan ‘ulama hadith seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Yahya bin Ma’in, Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Hazm (rahimahullahu) dan lain-lain.

KEDUA:  Boleh mengamalkan hadith dhaif dalam bab Fadhoilul A’mal, Targhib (menggemarkan melakukan suata amalan), Tarhib (mempertakuti diri mengerjakan suatu amal) namun tidak diamalkan dalam masalah Aqidah, dan Hukum. Yang memegang pendapat ini adalah sebahgian ahli fiqh dan ahli hadith seperti Al Hafidz Ibnu Abdil Barr, Al imam Nawawi, Ibnu Sholah –rahimahullahu-.

KETIGA: Boleh mengamalkan hadith dhaif secara mutlak jika tidak ditemukan hadith yang shahih atau hasan. Pendapat ini disandarkan kepada Imam Ahmad dan murid beliau Abu Daud -rahimahumallahu- .

SYARAT-SYARAT UNTUK MENGAMALKAN HADITH DHAIF

Perlu diketahui bahwasanya para ‘ulama yang membolehkan pengamalan hadith dhaif menetapkan beberapa syarat yang mesti diperhatikan diantaranya:

1. Bahwa hadith tersebut tidak terlalu lemah (bukan hadith dhaif jiddan apalagi maudhu)

2. Hadith dhaif itu tidak boleh diyakini bahawa dia adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka hadith diamalkan hanya karena kehati-hatian dari pada mengamalkan sesuatu yang tidak ada dalilnya .

3. Hadits tersebut khusus untuk Fadhoilul A’mal atau Targhib wattarhib. Tidak boleh dalam masalah Aqidah, hukum, Tafsir Al-Qur’an dan lain-lain yang usul (prinsip) dari Ad Dien ini.
4. Orang yang mengamalkan tidak boleh memperkenalkan hadith tersebut kepada masyarakat awam, karena jika melihat hadith itu mashyur dan banyak diamalkan akan mengira bahawa itu adalah sunnah yang shahih.

Namun syarat-syarat ini telah dijawab dan ditanggapi oleh ‘ulama yang tidak membolehkan mengamalkan hadith dhaif secara mutlak sebagai berikut:

Syarat pertama yang mereka kemukakan ini disepakati oleh seluruh ahli ilmu. Namun syarat ini sangat sulit dipenuhi karena mengetahui dan membezakan antara hadith yang dhaif ringan dan berat sangatlah susah bagi kebanyakan orang disebabkan kurangnya ‘ulama hadith apalagi di masa saat kita sekarang ini dimana keberadaan seorang yang tidak menyebutkan hadith kecuali hadith yang shahih dan menjelaskan kepada masyarakat bahaya hadith dhaif sangat jarang berlaku.

Syarat ini sama dengan syarat yang pertama dalam hal harus mengetahui kelemahan hadith tersebut. Namun kenyataan yang kita lihat bahawa kebanyakan orang-orang saat sekarang ini tidak mengetahui hal tersebut, sehingga ketika mengamalkan mereka mengi’tiqadkan (meyakini hadith itu sebagai sabda atau perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga syarat inipun telah dilanggar.

Syarat yang ketiga ini mengharuskan bagi orang yang mau membawakannya untuk tahu lebih dahulu apakah hadith ini termasuk dalam fadhailul A’mal ataukah Aqidah atau Hukum. Lalu syarat ini tidak boleh diterima sepenuhnya karena sesungguhnya fadhoilul ‘Amal itu juga bahgian dari syariat, maka mana dalil yang menunjukkan bolehnya dibeza-bezakan ?

Syarat yang terakhir ini sangat banyak dilanggar oleh kaum muslimin yang mana saat sekarang ini sangat banyak hadith dhaif yang dikenal dan dipakai sama kedudukannya dengan hadith shahih, bahkan lebih. Karenanya sangat banyak ibadah-ibadah yang tidak benar yang mereka kerjakan lalu mereka meninggalkan ibadah-ibadah yang sudah jelas berdasarkan hadith yang shahih -Wallahul Musta’an.

Dari jawaban-jawaban di atas nampak bagi kita kuatnya pendapat yang pertama. Apalagi syarat-syarat yang ditetapkan oleh para ‘ulama yang berpegang pada pendapat kedua (membolehkan untuk fadhoilul ‘amal) sangat susah untuk diterapkan dan telah banyak dilanggar (sengaja atau tidak sengaja) oleh kaum muslimin sekarang.

Adapun kata-kata Imam Ahmad rahimahullahu (pendapat ketiga) bahawa Beliau - Rahimahullahu - jika dia tidak menemukan hadith yang sahih dalam satu bab maka dia berpegang kepada hadith yang dhaif daripada berpegang pada pendapatnya sendiri atau pendapat lain.

Yang dimaksud hadith dhaif di sini adalah hadith “Hasan” dengan istilah kita sekarang, karena pada zaman mereka ilmu Mustholah belum begitu berkembang sehingga pembahgian hadith yang mereka kenal ketika itu hanyalah shahih dan dhaif, karena yang pertama kali yang memasyhurkan pembahgian hadith menjadi tiga (shahih,hasan, dhaif) adalah imam At Tirmidzi yang mana beliau datang setelah imam Ahmad.

Wallahu A’lam

Penutup dan Kesimpulan
Setelah memperhatikan jawaban dan tanggapan yang telah dikemukakan oleh para ‘ulama yang tidak membolehkan mengamalkan hadith dha’if secara mutlak baik itu untuk fadhailul a’mal maupun yang lainnya, maka jelaslah bagi kita bahawa meriwayatkan dan mengamalkan hadith dhaif untuk berbagai hal adalah hal yang dilarang. berkata Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ahmad Syakir –rahimahullahu- “…Bahwasanya tidak ada perbezaan antara masalah ahkam (hukum-hukum) fadhoilul ‘amal dan yang lainnya tentang tidak bolehnya mengambil hadith dhaif sebagai pegangan, bahkan seorang tidak boleh berhujjah kecuali dari khabar yang datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berupa hadith shahih atau hasan”.

Dan perlu diingat bahawa hadith-hadith yang shahih sangatlah banyak dan sudah cukup untuk mengamalkan Ad Dien ini dan kita tidak memerlukan lagi hadith yang lemah. Sangat benar perkataan Imam Abdullah bin Mubarak –rahimahullahu- :

“Pada hadith shahih kesibukan dari (mengamalkan) hadith yang lemah”

Posted by: HAR
Sumber:  “Hukum meriwayatkan dan mengamalkan hadith dhaif untuk Fadhilul ‘Amal dan yang lainnya” oleh Abu Abdillah Muhammad Yusran Anshar.



09 April, 2016

BACAAN ZIKIR SETELAH SOLAT SESUAI
DENGAN SUNNAH NABI


Bacaan-bacaan dzikir yang shahih setelah shalat fardhu, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. (dibaca setelah salam). Dzikir akan menguatkan seorang muslim dalam ibadah, hati akan merasa tenang dan mudah mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan setiap ibadah hendaklah bersandar kepada dalil serta mengambil contoh (ittiba’) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagai bukti kita adalah pengikutnya.

Bacaan 1
أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Astaghfirullaåh. Astaghfirullaåh. Astaghfirullaåh
“Saya memohon ampun kepada Allah. Saya memohon ampun kepada Allah, Saya memohon ampun kepada Allah”

Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beliau beristighfar sebanyak tiga kali dan membaca dzikir di atas. Al Auza’i menyatakan bahawa bacaan istighfar adalah astaghfirullah, astaghfirullah.

Keterangan: HR. Muslim no. 594/7, Lihat Syarh Shahih Muslim, 5: 84. HR. An-Nasai dalam Al Kubaro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. HR. Abu Daud no. 1523 dan An-Nasai no. 1337. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini hasan. HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa hadits ini shahih.

Bacaan 2
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
Allahumma antassalaam, wa mingkassalaam, tabarakta ya dzaljalaali wal ikraam.
“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Keterangan: HR. Muslim no.591 (135), Ahmad (V/275,279), Abu Dawud no.1513, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.737, ad-Darimi I/311 dan Ibnu Majah no.928 dari Sahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu.

Perhatian: Hendaklah dicukupkan dengan bacaan ini dan jangan ditambah-tambah dengan macam-macam bacaan lainnya yang tidak ada asalnya dari NabiShallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Misykaatul Mashaabiih 1/303)

Bacaan 3

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir. Allahumma laa maani’a limaa a’thayta, wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yamfa’u dzaljaddi min kaljadd
“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” 

Keterangan: HR. Al-Bukhari no.844 dan Muslim no.593, Abu Dawud no.1505, Ahmad IV/245, 247, 250, 254, 255, Ibnu Khuzaimah no.742, ad-Darimi I/311, dan An-Nasa-i III/70,71, dari  Al-Mughirah bin Syu’bah.

Bacaan 4
.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
Laailaaha illallah wahdahu la syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in Qodir'. La haula wala quata ila bilah, laa ilaha ilallah wala na'budu ila iiyah, lahun na'mah walahul fadlu, walahut tana'ul hasanu Laa ilaaha ilallah mukhlisina lahud diina walau karihal Kafirun.
“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”

Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengeraskan bacaan dzikir ini di akhir shalat. (Mengeraskan (menjaherkan) bukanlah maksudnya dengan dzikir secara berjama’ah. Dzikirnya tetap masing-masing per individu).

Keterangan: HR. Muslim no.594, Ahmad IV/ 4, 5, Abu  Dawud no. 1506, 1507, an- Nasa-i III/70, Ibnu Khuzaimah no.740, 741, Dari ’Abdullah bin az-ZubairRahimahullah.

Bacaan 5

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.  (Dibaca 10x setiap selesai shalat maghrib dan shubuh).
"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi ruh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa setelah shalat Maghrib dan Shubuh membaca ‘Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir,’  sebanyak 10x Allah akan tulis setiap satu kali 10 kebaikan, dihapus 10 kejelekan, diangkat 10 derajat, Allah lindungi dari setiap kejelekan, dan Allah lindungi dari godaan syaitan yang terkutuk.” (HR. Ahmad IV/227, at-Tirmidzi no.3474). At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan gharih shahih.

Bacaan 6
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allahumma a-’inniy ’ala dzikrika wa syukrika wa husni ’ibaadatika.
“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Keterangan: HR. Abu Dawud no.1522, an-Nasa-i III/53, Ahmad V/245 dan al-Hakim (I/273 dan III/273) dan dishahihkannya, juga disepakati oleh adz-Dzahabi, yang mana kedudukan hadits itu seperti yang dikatakan oleh keduanya, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan wasiat kepada Mu’adz agar dia mengucapkannya di setiap akhir shalat. 

Bacaan 7
سُبْحَانَ اللهُ
Subhaanallaah   (33x)
“Maha suci Allah”

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillah      (33x)
“Segala puji bagi Allah” 

اَللهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar       (33x)
“Allah Maha Besar”

(Untuk melengkapinya menjadi seratus, ditambah dengan membaca:)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.
“Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan: Siapa yang membaca dzikir di atas, maka dosa-dosanya diampuni walau sebanyak buih di lautan. Kata Imam Nawawi rahimahullah, tekstual hadits menunjukkan bahawa bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, masing-masing dibaca 33 kali secara terpisah.  HR. Muslim no.597, Ahmad II/371,483, Ibnu Khuzaimah no.750 dan al-Baihaqi II/187).

Bacaan 8
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ>>للَّهُ الصَّمَدُ> لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ> وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَد
Qul huwallaahu ahad. Allaahusshamad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahu kufuwan ahad.
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ> مِن شَرِّ مَا خَلَقَ> وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ> وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ
فِي الْعُقَدِ>  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Qul a'uudzu birabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wamin syarri ghaasiqin idzaa waqaba. Wamin syarrin naffaatsaati fii al'uqadi. Wamin syarri haasidin idzaa hasada.
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Robb Yang Menguasai waktu subuh, dari kejahatan apa-apa (mahluk) yang diciptakan-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ> مَلِكِ النَّاسِ> إِلَهِ النَّاسِ>> مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ> الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ> مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ >
Qul a'uudzu birabbin naas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas. Minal jinnati wannaas.
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia”

Keterangan: HR Abu Dawud no.1523, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.755 dan Hakim I/253. Lihat pula Shahiih at-Tirmidzi III/8 no.2324. Ketiga surat tersebut dinamakan al-Mu’awwidzaat. 

Bacaan 9.

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allaahu laa ilaaha illaa huu, al hayyul qoyyum, la ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardh. Man djalladjii yasyfa’u ’indahuu illa bi idjnih. Ya’lamu maa bayna aydiihim wa maa kholfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syay-im min ’ilmihii illa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiiyyuhussamaawaati wal ardh. Walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa. Wa huwal’aliiyul ’azhiim. (Surah Al-Baqarah:255)
”Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Faedah: Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.

Keterangan  HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram.

Khusus setelah selesai shalat Shubuh, disunnahkan membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma inniy as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon toyyiban, wa’amalan mutaqobbalan.
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima."

Keterangan  HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Semoga zikir yang sederhana ini boleh menjadi amalan rutin kita  setelah sholat sehingga Allah berkahi aktiviti harian kita.

Wallahu waliyyut taufiq. Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.
RUJUKAN:  https://www.youtube.com/watch?v=ADFAVgykUj8                                                           https://www.youtube.com/watch?v=pXg6ggQTAiQ&nohtml5=False
Posted  by: HAR

24 March, 2015


Today’s Beautiful Hadiths are :
about Eminence of Parents:

1.         Abu Hurairah RA reported: Messenger of Allah (sallallaahu ’alayhi wa sallam) said, “No son can repay (the kindness shown by his father) unless he finds him a slave and buys him and emancipates him.” (Muslim).

2.         Hadith is about Allah’s Love

Abu Hurairah RA reported: The Prophet (sallallaahu ’alayhi wa sallam) said, “When Allah loves a slave, calls out Jibril and says: ‘I love so-and-so; so love him’. Then Jibril loves him. After that he (Jibril) announces to the inhabitants of heavens that Allah loves so-and-so; so love him; and the inhabitants of the heavens (the angels) also love him and then make people on earth love him.”(Bukhari and Muslim).

3.         about Gold and Silk
Abu Musa Al-Ash’ari RA reported: Messenger of Allah (sallallaahu ’alayhi wa sallam) said, “Wearing of silk and gold has been made unlawful for males and lawful for the females of my Ummah.” (Tirmidhi).

4.         about Usury
Narrated Abu Juhaifa: The Prophet (peace be upon him) forbade the use of the price of blood and the price of a dog, the one who takes (eats) usury the one who gives usury, the woman who practices tattooing and the woman who gets herself tattooed. (Sahih Al-Bukhari – Book 72 Hadith 829)

Narrated Abu Huraira: The Prophet (peace be upon him) said, “Avoid the seven great destructive sins.” They (the people) asked, “O Allah’s Apostle! What are they?” He said, “To join partners in worship with Allah; to practice sorcery; to kill the life which Allah has forbidden except for a just cause (according to Islamic law); to eat up usury (Riba), to eat up the property of an orphan; to give one’s back to the enemy and fleeing from the battlefield at the time of fighting and to accuse chaste women who never even think of anything touching chastity and are good believers.”(Sahih Al-Bukhari – Book 82 Hadith 840)

21 March, 2015



FAEDAH TAUHID
SYAFA’AT DAN KEMULIAAN NABI

Hadits ini adalah hadits kelapan yang membicarakan faedah Tauhid. Didalamnya diceritakan mengenai syafa’atul ‘uzhma (syafa’at terkhusus untuk Muhammad) dan kemulian Nabi kita Muhammas Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahawa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabada:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ شُفِّعْتُ ، فَقُلْتُ يَا رَبِّ أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ خَرْدَلَةٌ . فَيَدْخُلُونَ ، ثُمَّ أَقُولُ
أَدْخِلِ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى شَىْءٍ » . فَقَالَ أَنَسٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ
صلى الله عليه وسلم –
Pada hari kiamat, aku diberi syafa’at. Aku berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah dalam syurga orang yang masih punya iman sebesar biji sawi”. Mereka masukinya. Aku pun berkata, “masukkanlah dalam syurga orang yang masih punya iman walau rendah.” Anas berkata, “seakan-akan aku melihat (isyarat) pada jari-jemari Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.” (Hadits Riwayat Bukhari No. 7509)

Lalu disebut hadits syafa’at yang panjang saperti pada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَأْتُونِى فَأَقُولُ أَنَا لَهَا . فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّى فَيُؤْذَنُ لِى وَيُلْهِمُنِى مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لاَ تَحْضُرُنِى الآنَ ، فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ ، فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيُقَالُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ ، وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ ، وَسَلْ تُعْطَ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِى أُمَّتِى . فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ ، فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ . فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ.

Mereka mendatangi ‘Isa. ‘Isa lantas berkata, “Aku tidak pantas memberikan syafa’at tersebut. Hendaklah kalian mendatangi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam.” Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam lantas berkata, “Mereka lantas mendatangiku. Aku memang pantas memberikan syafa’at tersebut. Aku lanats meminta izin pada Rabbku. Allah pun memberikan izin padaku. Aku mendapat ilham untuk boleh memuji-Nya yang tak boleh kuhadirkan saat ini. Aku memuji-Nya dengan pujian tersebut. Aku pun tersungkur sujud dihadapan-Nya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai Muhammad, angkat kepalamu. Permintaanmu akan didengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berikan syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkata. “Wahai Rabbku, umatku, umatku.”

Lalu disebutkan, “Keluaraknlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya seberat gandum.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkat, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung-Nya dengan pujian tadi. Aku pun tunduk sujud.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar, mintalah, engaku akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.”

Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, Umatku, Umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.”

Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Lalu hal itu terlaksana. Aku pun kembali menyanjung_nya dengan pujian yang tadi. Aku pun tunduk sujud.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Angkatlah kepalamu. Permintaanmu akan didengar, mintalah, engaku akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.”

Aku pun berkata, “Wahai Rabbku, Umatku, Umatku.” Lalu disebutkan, “Keluarkanlah (dari neraka) yang masih memiliki iman dalam hatinya sebesar biji sawi.” Keluarkanlah ia dari neraka. Hal itu punterlaksana.” (Hadits riwayat Bukhari No. 7510 dan Muslim No.193)

Dalam Riwayat lain disebutkan:

ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ ، ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَسَلْ
تُعْطَهْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ . فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِى فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . فَيَقُولُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى
كِبْرِيَائِى وَعَظَمَتِى لأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Kemudian aku kembali untuk keempat kelinya. Aku memuji-Nua dengan pujian tadi. Aku pun sujud dihadapan-Nya. Disebutkan “Wahai Muhammad. Angkat kepalamu. Permintaanmu akan diengar. Mintalah, engkau akan diberi. Berilah syafa’at, syafa’atmu akan diperkenankan.” Aku pun berkta, “Wahai Rabbku, izinkanlah kau member syafa’at pada orang yang mengucapkan ‘Laa Ilaha Illallah’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sungguh Aku akan keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan ‘Laa Ilaha Illallah’. (Hadits Riwayat Bukhari No. 7510)

Hadits ini adalah hadits yang mulia yang disebut dengan hadits syafa’at, berisi hadits yang panjang. Hadits ini menjadi argument yang kuat bagi Ahlus Sunnah, yang membantah pemikiran sesat khawarij dan mu’tazilah yang berpendapat bahawa pelaku dosa besar (Al Kabair) kekal dalam neraka.

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1.         RIWAYAT YANG ADA MENUNJUKKAN BAHWA NABI ITU HADIR KALA PEMBERIAN SYAFA’AT, KARENA DIDUKUNG DENGAN PERNYATAAN MENDENGAR DAN MELIHAT DALAM HADITS.

2.         BOLEH ADANYA PENGAJARAN DENGAN PEMBERIAN ISYARAT SEBAGAIMANA ISYARAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DENGAN JARI-JEMARI.

3.         BEGITU MENGERIKAN KEADAAN PADA HARI KIAMAT.

4.         KEMARAHAN ALLAH PADA HARI KIAMAT BEGITU DAHSYAT, YANG TIDAK DIDAPATI KEMARAHAN-NYA SEBELUMNYA ATAU SESUDAHNYA SEPERTI ITU.

5.         YANG MEMINTA SYAFA’AT KEPADA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM ADALAH ORANG-ORANG BERIMAN.

6.         ADA ENAM NABI YANG DISEBUTKAN DALAM HADITS INI DI MANA MEREKA SEMUA DIMINTAI SYAFA’ATNYA, YAITU ADAM, NUH, IBRAHIM, MUSA, ‘ISA, DAN MUHAMMAD. LIMA NABI YANG DISEBUT TERAKHIR DISEBUT DENGAN PARA NABI ‘ULUL ‘AZMI.

7.         DALAM HADITS DISEBUTKAN KEUTAMAAN MASING-MASING RASUL.

8.         DALAM HADITS DISEBUTKAN UZUR MASING-MASING NABI YANG TIDAK BISA MEMBERIKAN SYAFA’AT.

9.         MULIANYA NABI KITA MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DARI PARA NABI DAN RASUL LAINNYA.

10. ADANYA SYAFA’AT UNTUK ORANG-ORANG YANG MENUNGGU PERSIDANGAN DI PADANG MAHSYAR YAITU SEGERA DIBERIKAN KEPUTUSAN. SYAFA’AT INI DISEBUT DENGAN SYAFA’ATUL ‘UZHMA YANG HANYA DIBERIKAN KHUSUS PADA NABI MUHAMMADSHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM. INILAH YANG DISEBUTKAN DALAM FIRMAN ALLAH,
عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“MUDAH-MUDAHAN RABB-MU MENGANGKAT KAMU KE TEMPAT YANG TERPUJI.” (QS. AL ISRA’: 79)

11.        ADANYA SYAFA’AT YANG DITUJUKAN PADA PELAKU DOSA AGAR MEREKA KELUAR DARI NERAKA DAN MASUK DALAM SURGA. SYAFA’AT INI DIBERIKAN OLEH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, OLEH NABI LAINNYA, TERMASUK PULA DIBERIKAN PADA MALAIKAT DAN ORANG BERIMAN.

12.        BERULANGNYA SYAFA’AT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM PADA PELAKU DOSA DARI UMATNYA.

13.        HADITS INI MEMBANTAH GOLONGAN KHAWARIJ DAN MU’TAZILAH YANG MENGINGKARI ADANYA SYAFA’AT.

14.        MENDEKATKAN DIRI PADA ALLAH, BENTUKNYA ADALAH DENGAN SUJUD DAN MEMUJI-NYA.

15.        ALLAH MEMBERIKAN ILHAM PADA NABINYA MUHAMMAD DENGAN SANJUNGAN YANG TIDAK DIKENAL OLEH NABISHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM SAAT DI DUNIA.

16.        NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM BENAR-BENAR DIMULIAKAN OLEH RABBNYA. BELIAULAH MAKHLUK TERMULIA DAN PALING BERTAKWA DI ANTARA MANUSIA. DISEBUTKAN DALAM AYAT,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).
(Surah: Al-Hujurat: 13)

17.        NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TIDAKLAH MEMBERIKAN SYAFA’AT SAMPAI BELIAU MENDAPATKAN IZIN DARI ALLAH. DISEBUTKAN DALAM AYAT,
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat member syafa’at disisi Allah tanpa izin-Nya.” (Surah Al-Baqarah: 255)

18.        ORANG BERIMAN BERTINGKAT-TINGKAT IMANNYA.

19.        IMAN ITU BERTAMBAH DAN BERKURANG.

20.        SEBAB SELAMAT DAN KELUAR DARI NERAKA ADALAH TAUHID DAN IMAN.

21.        BOLEHNYA MENGUMPAMAKAN SESUATU YANG SIFATNYA MAKNAWI DENGAN PENGUNGKAPAN YANG SIFATNYA INDERAWI.

22.        KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID ‘LAA ILAHAA ILLALLAH’. KALIMAT LAA ILAHA ILLALLAH MENJADI SEBAB TIDAK KEKAL DALAM NERAKA.

23.        PENETAPAN KEAGUNGAN DAN KEBESARAN ALLAH.

24.        NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MELIHAT ALLAH KETIKA BELIAU MEMINTA SYAFA’AT. SEBAGAIMANA DISEBUTKAN DALAM RIWAYAT LAIN,
فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي خَرَرْتُ لَهُ سَاجِدًا
“AKU MELIHAT RABBKU DAN AKU TERSUNGKUR SUJUD DI HADAPAN-NYA.” (HR. AL HAKIM NO. 82 DAN IA MENSHAHIHKANNYA, LALU DISEPAKATI PULA OLEH ADZ DZAHABI, DARI HADITS ‘UBADAH BIN ASH SHAMIT RADHIYALLAHU ‘ANHU).

HANYA ALLAH YANG MEMBERI TAUFIK DAN HIDAYAH UNTUK MEMILIKI AKIDAH YANG BENAR.

AAMIN YA RABBAL AALAMIN