"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

11 January, 2017

Makanan dengan merujuk kepada al-Quran dan sunnah
Kajian mengenai kehidupan Rasulullah Shallalluhu 'alaihi wassalam  menunjukkan bahawa walaupun Baginda hidup sebahagian besar  dalam kesederhanaan dalam kehidupan sehari-harinya, namun Baginda tetap bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'al untuk semua. Dia makan setiap apa yang telah disampaikan dengan dan tidak pernah mengadu mengenainya.

BARLI

Barli ditanam pada dua keadaan iaitu penanaman barli musim luruh dan penanaman barli musim bunga. Walaupun masa dengan musim penanaman barli adalah berbeza, tetapi kualiti barli yang dihasilkan adalah lebih kurang sama dan tidak dijejaskan.
Rasulullah menyukainya, pernah mempunyai dalam bentuk roti, bubur, dan doh. Dia juga  menerimanya sebagai hadiah dari sahabat-Nya bersama-sama dengan bahan makanan lain

Telah mengabarkan kepada kami [Hannad bin As Sariy] dari [Waki'] dari [Dawud bin Qais] dari ['Iyadh bin 'Abdullah] dari [Abu Sa'id] dia berkata; "Kami mengeluarkan zakat fitrah ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masih ada di antara kami sebesar satu sha' makanan, satu sha' kurma, satu sha' gandum atau satu sha' susu kering. Kami terus melaksanakan seperti itu hingga Mu'awiyah datang dari Syam. Dan di antara yang ia ajarkan kepada orang-orang adalah: Ia berkata; "Kami tidak melihat dua mud gandum Syam kecuali menyamai satu sha' dari ini." Abu Sa'id berkata; 'Maka orang-orang mengambil pendapat tersebut'. Hadits Nasai No.2466 Secara Lengkap

Barli merupakan satu jenis bijirin yang kaya dengan vitamin B kompleks, zat besi, kalsium, magnesium, manganese, selenium, zink, protein, asid amino, serat dan beberapa jenis antioksida yang lain.

Kajian saintifik moden juga membuktikan kesan yang besar makanan ini terhadap kesihatan dan dianggap menjadi antara minuman yang sihat didunia.

SUSU

Dalam prakteknya, Rasulullah pernah minum susu onta, kambing dan juga sapi. Bahkan secara khusus, beliau menganjurkan umatnya untuk minum susu sapi.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidak ada satupun makanan yang boleh menggantikan makanan dan minuman melebihi susu”. (HR. Ahmad 3/302 dengan sanad yang sahih. Kisah di atas asalnya ada di Muwatha’ dan Sahih Bukhari Muslim. Juga tercantum dalam Sahih Tirmidzi nomor 3455)

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidak ada satupun makanan yang boleh menggantikan makanan dan minuman melebihi susu”. (HR. Ahmad 3/302 dengan sanad yang sahih. Kisah di atas asalnya ada di Muwatha’ dan Sahih Bukhari Muslim. Juga tercantum dalam Sahih Tirmidzi nomor 3455)

Susu kambing  dipercaya memiliki berbagai manfaat luar biasa bagi kesehatan, Ia juga kaya kandungan mineral, kalsium, pottasium, magnesium, fosfor, klorin dan mangan. Hal itu didasarkan pada penelitian yang mengatakan bahawa susu kambing memiliki kandungan nutrisi dan mineral yang cukup lengkap.

KURMA

Rasulullah saw juga bersabda, "Rumah yang tidak ada kurma di dalamnya, maka kelaparanlah bagi penghuninya atau laparlah penghuninya". (HR Muslim dan Tirmidzi).

Manfaat kesehatan dari kurma telah menjadikan buah ini sebagai bahan baku terbaik untuk perkembangan otot. Orang-orang mengambil kurma dalam berbagai cara; mencampur adonan kurma dengan susu, yogurt, atau dengan roti dan mentega untuk menjadikannya lebih nikmat. Adonan kurma bermanfaat bagi orang dewasa dan anak-anak, khususnya pada masa pemulihan dari cedera atau sakit.

Kurma merupakan sumber beragam vitamin dan mineral. Kurma merupakan sumber energi, gula, dan serat yang baik. Mineral penting seperti kalsium, zat besi, fosfor, sodium, potassium, magnesium, dan zinc ditemukan pada kurma. Kurma juga mengandung vitamin seperti thiamin, riboflavin, niacin, folate, vitamin A dan vitamin K.

LABU

Anas ibn Malik RA meriwayatkan : Seorang tukang jahit mengundang Rasulullah SAW untuk makan makanan yang dibuatnya, lalu aku pergi bersama Rasulullah SAW (sewaktu makan) aku melihat Rasulullah SAW mencari-cari labu di sela-sela potongan roti (Hadits Riwayat: Bukhari dan Muslim)

Buah Labu kuning atau yang berwarna orange memiliki karotenoid yang sangat tinggi. Karotenoid dalam buah labu sebagian besar memiliki beta-carotene yang merupakan sumber antioksidan, yang mampu mencegah penuaan dini dan kanser.

Labu kuning juga memiliki kandungan Vitamin C yang berfungsi sebagai kekebalan tubuh, zat besinya berfungsi untuk pembentukan darah, kaliumnya berguna untuk menjaga keseimbangan air dan elektrolit di dalam tubuh serta labu kuning juga mengandung serat yang berfungsi untuk pencernaan tubuh.

Labu kuning juga diketahui mengandung cukup banyak potassium, iaitu mineral yang disebut-sebut mampu menurunkan risiko terkena hipertensi.

MADU

Rasulullah s.a.w. meminum madu itu sebelum makan pagi yang dibantu dengan air. (air yang hendak digunakan untuk dicampurkan dengan madu itu hendaklah disimpan semalaman di dalam suatu bekas sebagaimana yang disukai oleh Rasulullah s.a.w.)

Manfaat madu sangat banyak sekali, selain untuk kesehatan madu juga bermanfaat untuk berbagai penyakit dan keluhan lain yang berkaitan dengan tubuh manusia. Cairan Madu adalah salah satu benda cair yang sangat ajaib dan sangat hebat serta bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Dua penyakit paling berbahaya dimuka bumi ini ternyata juga dapat dilakukan dengan mengambil madu. Zat yang terdapat pada madu mengandung flavonoid, antioksidan yang membantu mengurangi risiko beberapa jenis kanser dan penyakit jantung.

ANGGUR

Anggur - Anggur ialah satu daripada makanan kegemaran Rasulullah SAW kerana mampu membersihkan darah, memberi tenaga dan kesihatan, menguatkan buah pinggang dan membersihkan usus.

Dalam Surah Ar-Rad ayat 4, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  "Dan di bumi ada beberapa potong tanah yang berdekatan (tetapi berlainan keadaannya); dan padanya ada kebun-kebun anggur, dan jenis-jenis tanaman serta pohon-pohon tamar (kurma) yang berumpun dan yang tidak berumpun; semuanya disiram dengan air yang sama; dan Kami lebihkan buah setengahnya dari setengahnya yang lain (pada bentuk, rasa, dan baunya) Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang (mahu) berfikir serta memahaminya"

Manfaat anggur merah untuk kesihatan sangat banyak sekali, saperti boleh memberikan tenaga, degenerasi makula, mencegah katarak, melancarkan pencernaan, menghilangkan kelelahan, mengatasi gangguan ginjal dan lain-lain.

Buah ini mengandung vitamin B1 sebanyak 0,069 mg, vitamin B2 sekitar 0,07 mg, vitamin b3 sekitar 0,188 mg, asam pantotenat mencapai 0,05 mg, folat memenuhi 1% kebutuhan vitamin B9 harian, vitamin C berjumlah 10,8 mg, dan vitamin K yang mengasup 21% keperluan harian manusia.

CUKA

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengunakan cuka dengan minyak zaiton untuk makan. Ia mempunyai kesan yang besar pada fungsi badan kerana ia adalah berguna untuk prestasi limpa, membantu dalam mengawal perut, memuaskan dahaga, membantu dalam pencernaan makanan dan lain-lain Jabir bin Abdullah (R.A) katanya:

Cuka dapat membantu membuangkan kolesterol dan lemak di dalam badan terutamanya pada sistem usus di perut, lemak di saluran jantung, lemak di buah pinggang, membaiki fungsi buah pinggang, dan lemak berlebihan yang boleh membawa pelbagai penyakit dengan cara memulihkan sel-sel organ badan. Dan elok untuk mereka yang menghadapi daran tinggi/ kolestrol dsb nya.

"Rumah yang menyimpan cuka tak akan menderita dari kemiskinan" - Diriwayatkan oleh Ummu, Tirmidzi, Baihaqi

"Cuka adalah kemudahan bagi manusia" Diriwayatkan Oleh Muslim

"Allah telah Meletakkan berkat dalam Cuka, Ia digunakan oleh Para Nabi sebelum Aku", Diriwayatkan oleh Aisyah, Muslim Dan Ibnu Majah. Nabi Muhammad (Saw) suka kepada Cuka.

Jabir menceritakan, "Suatu hari Rasulullah memperlawa saya ke rumahnya. Dia dihidangkan roti. Dia bertanya: 'Adakah apa-apa sos perasa?" Mereka menjawab "Tidak, hanya ada Cuka." Nabi berkata, 'Cuka adalah sos yang baik. "

Jabir pernah berkata, "Aku menyukai cuka sejak aku mendengarnya daripada Nabi Allah".

Naf'a berkata, "Aku menyukai Cuka sejak aku mendengarnya daripada Jabir." (Muslim, Abu Dawud, Nasa'i)

KETIMUN

Timun merupakan jenis sayuran yang masuk ke dalam keluarga tanaman seperti labu  dan semangka (keluarga Cucurbitaceae). Kandungan air pada sayuran mentimun sama seperti yang ada pada manfaat semangka, iaitu sebahgian besar terdiri dari (95 persen) air, yang berarti mengambil ketimun pada hari musim panas, dapat membantu tubuh tetap terhidrasi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Makan Kurma Dengan Mentimun. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata.

“Aku melihat Rasulullah makan buah mentimun dengan ruthab (kurma basah)” (Hadits Bukhari dan Muslim)

Mentimun yang rendah lemak jenuh, kolesterol, dan sodium ini juga sumber yang baik dari vitamin A, asam pantotenat, magnesium, fosfor dan magnesium. Sementara itu juga tinggi kalium, folat, karbohidrat, seng, Vitamin C dan Vitamin K. Semua nutrisi ini sangat membantu untuk menjaga kesehatan tubuh, bahkan dapat mengobati penyakit dan meningkatkan proses dalam tubuh.

Manfaat mentimun lainnya yang sangat penting berhubungan dengan diabetes, kolesterol dan tekanan darah. Jus mentimun mengandung hormon yang diperlukan oleh sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin, yang bermanfaat bagi pasakit diabetes. Selain itu, para peneliti menemukan bahawa senyawa yang disebut sterol dalam mentimun dapat membantu mengurangi kadar kolesterol. Mentimun juga mengandung banyak kalium, magnesium dan serat, yang bekerja secara efektif dalam mengatur tekanan darah. Hal ini membuat mentimun baik untuk mengobati tekanan darah rendah dan tekanan darah tinggi.

BUAH TIN DAN ZAITUN

Buah ini bahkan menjadi sebuah judul surah dalam Al-Quran, iaitu Surah At-Tin. Padahal buah ini sendiri tidak tumbuh di daerah Hijaz Arab. Tanaman ini berasal dari Asia Barat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda ra. “Rasulullah telah diberi hadiah satu wadah buah tin, kemudian Nabi Bersabda, ‘Makanlah!’ Lalu beliau pun memakannya dan berkata, ‘Jika engkau berkata, ‘ada buah yang diturunkan dari surga,’ maka aku boleh katakan, ‘inilah buahnya, kerana sesungguhnya buah syurga tanpa biji. ‘Oleh kerana itu, makanlah, kerana buah tin ini dapat menyembuhkan wasir dan penyakit tulang.”

Dari Abi Usaid Al-Anshari bahawa ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Makanlah minyak zaitun! Sesungguhnya ia diberkahi. Berlauklah dengannya dan berminyaklah dengannya! Sesungguhnya ia keluar dari pohon yang diberkahi”. (HR. Ahmad, Ad Darimi dan Tirmidzi).

Buah tin kering kaya dengan serat, tembaga, mangan, magnesium, kalium, kalsium, dan vitamin K, relatif diperlukan terhadap tumbesaran tubuh manusia. Buah tin juga kaya dengan vitamin A dan B serta kadar tertentu dari vitamin C. Mengandungi Kalsium, fosforus, zat besi yang membantu pertumbuhan badan dan pembangkit tekanan darah. Selain buahnya, daunnya juga memiliki manfaat. Beberapa manfaatnya iaitu untuk obat kencing batu, diabetes, dan asam urat.

DELIMA

Allah SWT menyebut buah delima (rumman) sebanyak 3 kali di dalam ayat Al-Quran Nya untuk menunjukkan betapa hebatnya penciptaan Allah itu dan ia juga disebut sebagai buahan daripada syurga.

Dalam Surah ar-Rahman, ayat 68 Allah berfiman:

“Di dalam kedua- duanya (syurga) juga terdapat buah- buahan serta pohon kurma dan delima”

Dari segi zat pemakanan, buah delima kaya dengan sodium dan mengandungi unsur-unsur nutrien khasiat seperti riboflavin, tiamin, niasin, vitamin C, kalsium dan fosforus. Delima mengadungi lemak dan zat protein yang sangat sedikit sahaja. Buah delima disarankan dimakan dalam mengimbangi pemakanan sempurna dari kelas buah-buahan.

Delima akan membantu tubuh badan kita menstabilkan tahap kolestrol dengan meningkatkan tahap kolestrol yang baik di samping menurunkan kolestrol yang buruk. Mengurangkan risiko penyakit seperti jantung, strok, kencing manis dan juga kanser. Delima juga mampu untuk mengurangkan pengumpulan sel darah kotor dan secara semulajadinya mengurangkan tekanan darah, faktor kepada pencegahan serangan jantung dan strok.

Sumbangan dan Posted by: HAR

20 December, 2016

SEMUA SUDAH DITENTUKAN OLEH ALLAH?
Sampai di manakah manusia sebagai ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergantung pada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menentukan perjalanan hidupnya? Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kebebasan terhadap manusia untuk mengatur hidupnya? Ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang absolut? Dan bagaimanakah orang Islam menerima nasib dan ketentuan Allah (takdir)

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut maka muncullah dua golongan yang saling bertolak belakang berkaitan dalam memahami takdir (Qadr).

Pertama:
Golongan jabariyyah, mereka mengatakan, seorang hamba terpaksa (dikendalikan) dalam perbuatan dan tindakannya, manusia tidak memiliki kehendak dan kemampuan.

Kedua:
Golongan Qadariyah, mereka mengatakan, seorang hamba mempunyai kehendak, kemauan dan keinginan tanpa ada campur tangan kehendak dan kekuasaan Allah. Hamba itu sendirilah yang menciptakan perbuatan tersebut

Memang nasib seseorang itu ada kaitan dengan Qadah dan Qadr yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah telah menetapkan dalam setiap perkara umum yang akan berlaku sehingga akhir zaman. Lebih jelas dikatakan di sini bahawa setiap sesuatu itu telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terlebih dahulu.

Secara umum, semua perkara yang telah ditulis pada Umm al-kitab (al-Lauh al-mahfuz) dan semua ini tidak  akan berubah. Al- Lauh Mahfuzh (لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh catatan kejadian di alam semesta.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ‍‍ا‌ كُلَّ شَ‍‍يْءٍ‌ خَ‍‍لَ‍‍‍قْ‍‍‍ن‍‍َ‍اهُ بِ‍‍قَ‍‍‍د‍َ‍‌رٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan tiap-tiap sesuatu menurut takdir (yang telah ditentukan)”. (Surah Al-Qamar: 49)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman lagi:

إِنَّ‍‍ا‌ نَحْنُ نُحْيِ ‌الْمَوْتَى‌ ‌وَنَكْتُبُ مَا‌ قَ‍‍دَّمُو‌ا‌ ‌وَ‌آثَا‌‍رَهُمْ ۚ ‌وَكُلَّ شَ‍‍يْءٍ‌ ‌أحْ‍‍صَ‍‍يْن‍‍َ‍اهُ فِ‍‍ي ‌إِم‍‍َ‍امٍ‌ مُبِينٍ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami tuliskan segala yang mereka telah kerjakan serta segala kesan perkataan dan perbuatan yang mereka tinggalkan. Dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu kami catitkan satu persatu dalam Kitab (ibu Suratan) yang jelas nyata”. (Surah Ya-Sin: 12)

Daripada Abu al-'Abbas, Abdullah ibn Abbas, radiallahu ‘anhu beliau berkata Aku pernah duduk dibelakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Wassalam pada suatu hari, lalu Baginda bersabda kepadaku:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ
“Ketahuilah bahawa kalau umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan mu manfaat kecuali dengan suatu perkara yang memang Allah telah tentukan untukmu. Sekiranya mereka berkumpul untuk memudharatkan kamu dengan suatu mudharat, nescaya mereka tidak mampu memudharatkan kamu kecuali dengan suatu perkara yang memang Allah telah tentukannya untukmu. Pena-pena telah diangkatkan dan lembaran lembaran telah kering” (dakwatnya) (Hadis riwayat al-lmam al-Tirmizi. Beliau berkata: la adalah Hadis Hasan Sahih)

Terdapat banyak ayat-ayat dan hadith yang menyampaikan maksud ini, bahawa semua perkara yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dari awal masa sehingga akhir. Kita harus faham dari ini bahawa kita boleh berbuat apa-apa dan mencapai apa-apa kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala , maka kita harus meletakkan kepercayaan dan kebergantungan (tawakkal) kepada-Nya.

Tawakkal atau menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bersandarkan ilmu dan kepercayaan seseorang dalam Yang Maha Agung dan nilai kekuasaannya atas segala yang dicipta. Tetapi bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal duniawi dan ukhrawi tidak bermaksud seseorang itu tidak perlu berusaha. Sebaliknya, seseorang itu harus berusaha dengan baik dan bersandar kepada keadilan, pertolongan dan pemberianNya.

Walau bagaimanapun, Allah Subhanahu wa Ta'ala  berhak untuk menghapuskan apa yang dikehendaki-Nya dari takdir tertentu seseorang individu kerana pilihan mereka, tindakan, dan doa. Allah berbuat demikian kerana pengetahuan-Nya yang sempurna dan kebijaksanaan, bukan kerana lupa atau kejahilan, kerana Dia tahu bagaimana orang akan bertindak sebelum diciptakan-Nya. Kita harus faham bahawa nasib kita ditentukan oleh cara kita menggunakan kehendak bebas Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita.

Dengan mendasarkan diri pada keyakinan bahawa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang dapat memberikan kemudharatan maka seorang mukmin tidak akan gentar dan takut terhadap tantangan dan ujian yang melanda, seberapapun besarnya, kerana dia yakin bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong hambaNya yang berusaha dan menyandarkan hatinya hanya kepada Allah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب
"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Umulkitab (Lohmahfuz)". (Surah Ar-Rad: 39)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman lagi:

كل يوم هو في شأن
“Setiap masa Ia di dalam urusan (mencipta dan mentadbirkan makhlukmakhlukNya)!"
(Surah Ar-Rahman: 29)

Kita harus yakin, bahawa dibalik musibah itu ada hikmah yang kadangkala kita belum mengetahui. Allah Maha mengetahui atas apa yang diperbuat-Nya.

Jadi, jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha. Seburuk apa pun keadaan saat ini, semuanya masih boleh berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih boleh berubah.

Memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengubah takdir kita menjadi baik didunia dan mengharapkan kebaikan juga diakhirat. Berdoa lah dan teruslah berdoa. Sebagaimana dalam sebuah hadis Nabi Shallallahu 'alaih wa sallam menjelaskan bahawa takdir yang Allah Subhanahu wa  Ta'ala telah tentukan boleh berubah.

Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam:

إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ
“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah Subhanahu wa Ta'ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika ditanya sama ada rezeki yang telah ditakdirkan boleh bertambah dan berkurang, beliau rahimahullah menjawab, "Rezeki itu ada dua macam. Pertama, rezeki yang Allah ilmui bahawasanya Allah akan memberi rizki pada hamba sekian dan sekian. Rizki semacam ini tidak mungkin berubah. Kedua, rizki yang dicatat dan diketahui oleh Malaikat. Ketetapan rezeki semacam ini bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan sebab yang dilakukan oleh hamba. Allah akan menyuruh malaikat untuk mencatat rizki baginya. Jika ia menjalin hubungan silaturahmi, Allah pun akan menambah rezeki baginya. " (Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H, 8/540.)

Justeru, Omar Ibn Al-Khattab radhiyallahu`anhu  pada suatu ketika, telah melafazkan doa-doa ini ketika bertawaf:

اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي شَقِيًّا فَامْحُنِي وَاكْتُبْنِي سَعِيدًا فَإِنَّكَ تَمْحُو مَا تَشَاءُ
“Ya Allah, jika Engkau telah mentakdirkan aku tergolong di dalam golongan orang-orang yang bahagia, tetaplah aku di dalam keadaan aku. Sebaliknya jika Engkau telah tetapkan aku di dalam golongan orang-orang yang celaka dan berdosa, hapuskanlah takdir itu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan keampunan.” (Majmu’ Al-Fatawa 8/540)

Ibn Kathir katanya: Mansur mengatakan bahawa ia pernah bertanya kepada Mujahid tentang doa sesorang seperti berikut:

اللهم إن كان اسمي في السعداء فأثبته فيهم وإن كان في الأشقياء فامحه عنهم واجعله في السعداء
“Ya Allah, jika nama ku berada dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah nama ku itu diantara mereka. Dan jika nam ku berada dalam golongan  orang-orang yang celaka, maka hapuskanlah nama ku dari golongan mereka , dan jadikanlah nama ku termasuk kedalam golongan orang-orang yang berbahagia".

Maka Mujahid menjawab. "Baik". Kemudian Mansur menjumpainya lagi setahun kemudian atau lebih, dan ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada Mujahid. Maka Mujahid membaca firman-Nya: Sesungguhnya kami menurukankannya pada suatu malam yang diberkati. (Surah Ad-Dukhan: 3), hingga akhir dua ayat berikut. Kemudian Mujahid berkata bahawa Allah memberi ketetapan dalam malam yand diberkati segala sesuatu yang akan terjadi dalam masa satu tahun menyangkut masalah rezeki atau musibah. Kemudian Dia mendahulukan apa yang Dia kehendaki dan menanggung apa yang Dia kehendaki. Adapun mengenai ketetapan-Nya tentang kebahagian dan kecelakaan, maka hal ini ditetapkan-Nya dan tidak akan diubah lagi.

Al-A'masy telah meriwaykan dari Abu Wa'il (iaitu Syaqiq ibnu Salamah) bahawa dia sering sekali mengucapkan doa berikut:

اللهم إن كنت كتبتنا أشقياء فامحه واكتبنا سعداء وإن كنت كتبتنا سعداء فأثبتنا فإنك تمحو ما تشاء وتثبت وعندك أم الكتاب
"Ya Allah, Jikalau Engkau telah mencatat kami termasuk orang-orang yang celaka, maka sudilah kiranya Engkau menghapusnya, dan catatlah kami dalam golongan orang-orang yang bahagia. Dan Jika Engkau telah mencatatkan kami dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah keputusan itu. Kerana sesungguhnya Engkau menghapuskan apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang kehendaki, disisi-Mu terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz)”. (Tafsir Ibn Kathir 13:39)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan (atau diberkahi) rizkinya, atau ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia bersilaturrahim” (Muttafaqun ‘alaih)

Diantara rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-Nya ialah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengalihkan keperluan dunia yang dimohon seorang hamba dari hamba tersebut dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik, misalnya dengan menyelamatkannya dari keburukan atau pengabulannya (permintaannya) ditunda di akhirat atau dosanya diampunkan.

Bahawa ‘Ubadah bin Ash Shamit telah menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ” فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ إِذًا نُكْثِرُ قَالَ: “اللَّهُ أَكْثَرُ” (رواه الترمذي، وقَالَ: وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).
“Tidak ada seorang muslimpun di muka bumi yang berdoa kepada Allah dengan sebuah doa, melainkan Allah akan memberikan kepadanya (sesuai doanya), atau memalingkan darinya keburukan yang setara dengan nilai doanya, selama ia tidak berdoa dengan doa dosa atau pemutusan tali silaturrahim” Kemudian ada seorang laki-laki dari orang-orang yang ada (di tempat) berkata: jika demikian kita perbanyak (berdoa yang banyak) saja. Beliaupun bersabda: “Allah lebih banyak pemberiannya.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata; Ini adalah hadits hasan shahih).

Dari Hasan bin Ali radiallahu Anhu katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam sholat witir iaitu:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi) ((HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jika bala selalu mendatang, ujian asyik  bertimpa, musuh tak berkurang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sulitnya bencana, datangnya kesengsaraan, buruknya ketentutan qadha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan cacian para musuh, Baginda Shalallahu 'alaihi wa salam dari riwayat Abu Hurairah radiallahu Anhu  yang menyebut baginda membaca;

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ القَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu daripada musibah yang tidak mampu aku tanggung, kesulitan yang menjadi sebab-sebab datangnya kebinasaan, takdir yang membawa akibat buruk dan kegembiraan musuh atas penderitaanku.” (Riwayat Al-Bukhari no. 6347 dan Muslim no. 2707)

Apa yang dilakukan para salaf, bukanlah tanpa dalil, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri menegaskan:

Dari Salman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد في العمر إلا البر
“Tak ada yang dapat menolak takdir selain doa, dan tak ada yang dapat memperpanjang umur selain kebajikan.”(Hadith Riwayat At-Termidzi no. 2139. Al-Albani menganggapnya hasan lighairih dah Shahih At-Targhib no. 1639)

Keutamaan do’a  adalah bahawa berdo’a merupakan salah satu faktor yang memungkinkan tercapainya tauhid yang hakiki, sebagai alat untuk mendapatkan keselamatan dan keberuntungan. Dengan cara berdo’a yang tulus dan ikhlas. Keutamaan do’a yang lain adalah orang yang berdo’a akan merasakan nikmatnya bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan merendahkan diri di hadapanNya. Keutamaan do’a yang lain adalah do’a boleh menolak qadar (takdir) dan qadha (ketentuan)

Oleh itu, Allah Maha Mengetahui semua yang diperbuat makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan, hanya orang yang tetap berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja yang dapat bertahan menjalani kehidupan didunia betapa pun pahitnya takdir yang dijalani. Ini adalah rahsia dalam penciptaa dimana kita mesti percaya, kerana telah diriwayatkan dalam banyak hadith yang sahih. Atas sebab ini, kita sentiasa menanamkan dalam diri kita bahawa jika kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam keadaan apa pun, maka derita dan kesulitan yang kita hadapi mungkin berakhir dan berubah.
Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, iaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خبره وشره حتى بعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.”(Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’

Takdir Allah merupakan iradah (kehendak) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan kita, hendak lah kita bersyukur kerana hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita terima dengan sabar dan ikhlas.

Demikian pula riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah sekali, ketika beliau keluar menemui para Sahabatnya pada suatu hari saat mereka sedang berdebat tentang masalah takdir, sehingga wajah beliau memerah, seolah-olah biji delima terbelah di keningnya, lalu beliau bersabda:

أَبِهَذَا أُمِرْتُمْ؟ أَمْ بِهَذَا أُرْسِلْتُ إِلَيْكُمْ؟ إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِيْنَ تَنَازَعُوْا فِيْ هَذَا اْلأَمْرِ، عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تَنَازَعُوْا فِيْهِ

“Apakah dengan ini kalian diperintahkan? Apakah dengan ini aku diutus kepada kalian? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah binasa ketika mereka berselisih mengenai perkara ini. Oleh karena itu, aku meminta kalian, janganlah berselisih mengenainya.” (Hadith Riwayat: At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah, kitab al-Qadah bab Maa Jaa-a fit Tasydiid fil Khaudh fil Qadr, (IV/443, no. 2133), dan dia mengatakan, “Dalam bab ini dari ‘Umar, ‘Aisyah dan Anas. Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini dari hadits Shalih al-Mirri. Sedangkan Shalih al-Mirri mempunyai banyak hadits gharib yang diriwayatkannya sendirian yang tidak diikuti dengan riwayat-riwayat pendukung.” Al-Albani menilai hasan dalam Shahiih Sunan at-Tirmidzi, (II/223, no. 1732 dan 2231).

Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu dengan redaksi:

لاَ تُجَالِسُوْا أَهْلَ الْقَدَرِ وَلاَ تُفَاتِحُوْهُمْ
“Janganlah bergaul dengan orang-orang yang suka membicarakan takdir dan jangan membuka pembicaraan dengan mereka.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad, (I/30), Abu Dawud, (V/84, no. 4710 dan 4720), dan al-Hakim, (I/85).

At-Tahawi menyatakan dalam fahaman beliau:

وأصل القدر سر الله تعالى في خلقه لم يطلع على ذلك ملك مقرب ولا نبي مرسل والتعمق والنظر في ذلك ذريعة الخذلان وسلم الحرمان ودرجة الطغيان
“Sifat taqdir adalah rahsia Allah dalam ciptaan-Nya, dan tidak ada malaikat yang berdekatan dengan Arasy mahupun seorang nabi pun yang membawa risalah telah diberikan pengetahuan tentangnya. Menyelidikinya dan mencerminkan terlalu mendalam apabila ia hanya membawa kepada kemusnahan dan kerugian dan berakhir dengan kekufuran”. (Sumber: Aqidah At-Tahawi)

Kesimpulan, dalam aqidah Islam, mempercayai 'Qadah’ dan Qadr adalah salah satu daripada rukun aqidah, di mana masalah 'Qada’ dan Qadar ini dibicarakan secara meluas dan mendalam oleh semua agama. Mereka beriktikad bahawa semua perkara yang berlaku dan yang terjadi di alam yang maujud ini sudah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebelum sesuatu itu berlaku dan terjadi, di mana semuanya itu sudah ditulis lebih dahulu dalam Luh Mahfuz. 

Kita mestilah mempercayai bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa menentukan dan mengatur sesuatu yang ada di alam ini dengan kebijaksanaan dan kehendak-Nya sendiri tanpa diganggu oleh sesuatu kuasa asing. Selain itu, setiap perkara yang berlaku di alam ini adalah berjalan sesuai dengan ilmu dan iradat Allah yang telah direncanakan-Nya mengikut peraturan-peraturan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah dalam alam yang maujud ini. Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak memberi kemuliaan dan kehinaan dan juga memberi kemanfaatan atau kemudaratan kepada sesiapa sahaja yang dikehendaki-Nya mengikut Qadah’ dan Qadr yang telah ditentukan dan ditetapkan-Nya. Kebaikan atau keburukan ke atas diri seseorang itu sebagai qada’ dan qadar Allah adalah dengan kehendak dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala , kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala  berkuasa melakukan sesuatu perkara yang dipilih dan yang dikehendaki-Nya tanpa halangan. 

Beriman kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, iaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan menimpa kita kecuali telah Allah Subhanahu wa Ta’ala  tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahawa segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya. Demikian pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tiada henti.

Ingatlah saudaraku, tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita menyerahkan semuanya dan beriman kepada apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit teguran sehingga muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman kita.

Allah memiliki berbagai hikmah dalam pemberian rezki. Ada yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan kaya dengan banyaknya rezki dan harta. Ada pula yang dijadikan miskin. Ada hikmah berharga di balik itu semua.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahgian yang lain dalam hal rezki.”
(Surah An Nahl: 71)

Dalam ayat lain disebutkan:
,
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Surah Al Isra’: 30)

Perlu kita ketahui bahwa rezki yang paling besar yang Allah berikan pada hamba-Nya adalah Syurga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya yang sholeh.

Posted by: HAR

10 December, 2016

Dialog Seputar Cinta Rasul dan Maulid Nabi
Oleh: Ustadz Sufyan Fuad Baswedan
Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rasul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?

Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan. (Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana).

Syaikh :          “Assalaamu ‘alaikum…”

Dr. Said :        “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh”

Syaikh :          “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”

Dr. Said :        “Ya, benar”

Syaikh :           “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada
                       Rasul…!”

(Terkejut bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sambil bertanya):

Dr. Said :        “Lho, mengapa boleh demikian?”

Syaikh :          “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi  kecuali
                        negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahawa kalian orang-orang Saudi
                        tidak mencintai Rasulullah ”.

Dr. Said :        “Demi Allah… tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari
                       merayakan maulid Beliau, kecuali kerana kecintaan kami kepadanya!”

Syaikh :          “Bagaimana boleh begitu??”

Dr. Said :        “Anda bersedia diajak diskusi…?”

Syaikh :          “Ya, silakan saja..”

Dr. Said :        “Menurut Anda, perayaan Maulid merupakan ibadah ataukah maksiat?”

Syaikh :          “Ibadah tentunya!” (dengan nada yakin).

Dr. Said :        “Oke… apakah ibadah ini diketahui oleh Rasul , ataukah tidak?”

Syaikh :          “Tentu beliau tahu akan hal ini”

Dr. Said :        “Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau
                        ajarkan kepada umatnya?”

(…. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sedar bahawa jika ia mengatakan: ya, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masih menyembunyikan sebahgian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )

Syaikh :          “Iya… beliau ajarkan kepada umatnya..”

Dr. Said :        “Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?”

(Syaikh pun terdiam seribu bahasa… ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang boleh dijadikan pegangan dalam hal ini…)

Syaikh :          “Maaf, tidak boleh…”

Dr. Said :        “Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat”

Syaikh :          “Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah”

Dr. Said :        “Bagaimana Anda boleh menyebutnya sebagai bid’ah hasanah, padahal
                       Rasul  mengatakan bahawa setiap bid’ah itu sesat??”

Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahawa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahawa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.

Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebahgian kaum muslimin terhadap sikap sebahgian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi . Dialog singkat di atas tentunya tidak mewakili sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahawa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan objektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.

Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Alias menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Kerananya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis (menuduh melakukan perbuatan melanggar hukum) pihak lain sebagai ‘wahhabi’ yang selalu dicitrakan sebagai ‘kelompok Islam serpihan’, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid’ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.

Cara seperti ini bukanlah hal baru. Sejak dahulu pun mereka yang tidak senang kepada dakwah tauhid, selalu berusaha memberikan gelar-gelar buruk kepada para dai’nya. Tujuannya tak lain ialah agar masyarakat awam antipati terhadap mereka. Semaklah bagaimana Fir’aun dan kaumnya menggelari Musa dan Harun :

قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَى
Berkata Firaun: "Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa?

فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِّثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَّا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنتَ مَكَانًا سُوًى
Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidakakan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)"

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَن يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى
Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggal akan naik".

فَتَوَلَّى فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهُ ثُمَّ أَتَى
Maka Firaun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang.

قَالَ لَهُم مُّوسَى وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى
Berkata Musa kepada mereka: "Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa". Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.

فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى
Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka).

قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى
Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusirkamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.

(QS Thaha: 57-63).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta".

(QS Ghafir: 23-24).

Simak pula bagaimana kaum Nabi Luth  hendak mengusir beliau dan para pengikutnya dengan tuduhan ‘orang-orang yang sok menyucikan diri’:

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; kerana sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih". (QS An Naml: 56)

Atau Nabi Shalih ‘alaihissalaam yang dianggap sombong dan pembohong oleh kaumnya… Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِالنُّذُرِ
Kaum Tsamud pun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu).

فَقَالُوا أَبَشَرًا مِّنَّا وَاحِدًا نَّتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَّفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ
Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?" Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila".

أَأُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِن بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ
Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong.

سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَّنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ
Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.

(QS Al Qamar: 23-26).

Sampai junjungan kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tak luput dari julukan-julukan buruk kaumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ ص ۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ فَنَادَوا وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ
وَعَجِبُوا أَن جَاءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". (QS Shaad: 1-4).

Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan objektif terhadap mereka. Kerana boleh jadi kebenaran justeru berpihak kepada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan (dasar) adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih.

Berangkat dari sini, penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mendudukkan masalah perayaan maulid Nabi, benarkah ia merupakan bid’ah hasanah? Benarkah ia merupakan perwujudan cinta kepada Rasul yang dibenarkan? Apakah asal muasal perayaan ini? dan berbagai masalah lainnya seputar maulid Nabi . Tentunya semua akan disajikan secara ilmiah dengan merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman As Salafus shaleh.

Artikel: Basweidan.Wordpress.com