"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

04 September, 2016

KEHIDUPAN SAPERTI RODA YANG BERPUTAR

Kadang gelak tawa menyertai kita, kadang haru tangis menyelimuti kita, kadang kemarahan menguasai emosi kita, kadang kesemuanya itu bercampur, berbaur menjadi satu. Itulah warna kehidupan kita. Kadang terang, kadang meredup, kadang kelabu, kadang hitam, gelap dan kelam. Yang pasti bukan hanya anda hamba Tuhan yang paling malang. Mengapa kita selalu merasa seperti itu? saat tertimpa masalah, saat mendapat musibah, saat menjalani hidup yang berat? mengapa?

Karena kita kurang bersyukur atas nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pada kita. Cobalah kita ingat kembali bahwa di dunia ini masih banyak orang yang lebih malang daripada kita. Kita patutnya bersyukur meski kita sedang tertimpa musibah atau sedang menghadapi suatu masalah yang berat . Itulah cobaan kehidupan.

Ingatlah bahwa hidup selalu berputar, tak selamanya kita diatas, tak mungkin selamanya kita berada dibawah, karena Allah maha “ADIL”.

Ketahuilah saat esok hari tiba, masalah yang menimpa kita akan menjadi “masalah hari kemarin”.

Satu minggu berlalu masalah itu akan menjadi “masalah di minggu lalu”.

Satu bulan berjalan, masalah itu akan menjadi “masalah di bulan lalu”.

Dan begitu seterusnya, maasalah itu makin lama pasti akan menjauh, hingga menjadi “sebuah masalah di tahun lalu” , “sebuah masalah di masa silam”. dan seterusnya hingga masalah itu hanya akan menjadi ”suatu kenangan yang pernah lewat dalam kehidupan kita.”

Maka dari itu, janganlah pernah bingung, jangan khawatir, jangan putus asa, serta jangan menyerah saat kita tertimpa suatu masalah. Tetaplah tegar dan tabah dalam menjalani suatu masalah. Berpikirlah jauh ke depan. Ingatlah bahwa hidup tidak akan pernah terhenti sampai disitu saja, hidup akan terus berjalan dan berputar, Yakinlah bahwa itu semua akan segera berakhir. Yakinlah bahwa anda bisa melaluinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir". (Surah: Al Baqarah : 286 )

- Tim Ustadz –
Posted by: HAR

26 April, 2016

LIHATLAH, SIAPA TEMANMU...!  

"Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang balk sebagai sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan binasa bersamanya"

Wanita adalah bahagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia memerlukan teman, tempat mengadu, tempat bertukar fikiran dan bermusyawarah. Berbagai masalah hidup yang dialami menjadikan dia berfikir bahawa, meminta pendapat, saran dan nasihat teman adalah suatu perkara yang perlu. Maka teman sangatlah penting bagi kehidupannya, siapa  yang tidak memerlukan teman dalam hidup ini?

Namun wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sedar, teman yang baik (shalihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita shalihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah laku.

Seperti ungkapan "Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya".

Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek.

Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui ungkapannya:

"Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan menciplakkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap".  (Riwayat Bukhari, kitab Buyuu', Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)1

Dari petunjuk agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahawa teman itu ada dua macam.

Pertama, teman yang shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian dan teman yang dapat membawamu ke pintu syurga.

Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak dan teman yang boleh menyeretmu ke jurang neraka.

Al-Quran telah menceritakan kepada kita tentang bahawa tipu teman yang kedua, iaitu dapat menyesatkan dan menghalangi dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan (ingatkanlah) perihal hari orang-orang yang zalim menggigit kedua-dua tangannya (marahkan dirinya sendiri) sambil berkata: “Alangkah baiknya kalau aku (di dunia dahulu) mengambil jalan yang benar bersama-sama Rasul? “Wahai celakanya aku, alangkah baiknya kalau aku tidak mengambil si dia itu menjadi sahabat karib! “Sesungguhnya dia telah menyesatkan daku dari jalan peringatan (Al-Quran) setelah ia disampaikan kepadaku. Dan adalah Syaitan itu sentiasa mengecewakan manusia (yang menjadikan dia sahabat karibnya)” (Surah Al-Furqan: 27-29)

Maka alangkah bagusnya nasihat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika beliau berkata," Hati-hatilah dari teman yang jelek ...!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia saperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang saperti itu, karena dia akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati ".

Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang boleh membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari . Dan boleh mendekatkan diri pada Rabbmu, dapat memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.
Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dan takut pada penghisaban amal yang jelek.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Pada hari itu sahabat-sahabat karib: setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan taqwa (iman dan amal soleh). (Surah Az-Zukhruf: 67)

Maka perhatikanlah dengan perinci teman-temanmu itu, kerena teman ada bermacam-macam:

• ada teman yang boleh memberikan manfaat
• ada teman yang boleh memberikan kesenangan (kelezatan)
• dan ada yang boleh memberikan keutamaan.

Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang susah dicari. (Hilyah Tholabul 'ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)

Memang tidak akan pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sedar pada saat memilih teman, bahawa manusia itu saperti barang tambang, ada kualitinya yang bagus dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam :

" Manusia itu adalah barang tambang saperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh-ruh itu saperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi " (Hadith Riwayat Muslim)

Wanita muslimah yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita shalihah, bertakwa dan berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.

Maka Syaikh Ahmad bin 'Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi memberikan nasihatnya juga dalam memilih teman:

"Ketahuilah, bahawasanya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang boleh menimbulkan ghairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang dapt diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar boleh bercakap saja, tetapi itu bukan tujuan kita”.

Ada pula orang yang berteman kerana kepentingan Dien (agama), dalarn hal inipun ada yang kerana ingin mengambil faedah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau kerana mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya.

Kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut:

Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid'ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, kerana kecerdasan adalah sebagai modal utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, kerana terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik, itu harus. Kerana terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak punya rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat dipercaya. Kalau ahli bid'ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid'ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).

Maka wanita muslimah yang benar-benar sedar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriah, status sosial clan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi keutamaan adalah bahan kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya.

"Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan mereka, kerananya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka".

Oleh karena itu datang petunjuk Al Qur'an yang menyerukan hal itu :

"Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang¬-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan mengharap kereadhan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas" (SurahAl-Kahfi:28)

PENULIS: Bintu Humron

Tambahan:
Tidak ada seorang manusia pun yang luput dari kesalahan. Tetapi manusia yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah, melainkan yang mau menyedari kesalahan dan bertekad untuk kembali ke jalan yang benar.

20 April, 2016


Al-Quran datang menyinari hati yang gelap dan jiwa yang gelisah. Al-Quran  datang sebagai penasihat dan bimbingan. Al-Quran juga datang  membawa khabar gembira bagi orang yang mahu beriman dan sebagai pemberi peringatan bagi orang yang mengingkarinya. Betapa banyak kebaikan  dapat di rasakan dengan mempelajari,  membaca, serta mengamalkan  Al-Quran, orang yang sedih akan menjadi gembira, orang yang kebingungan akan menjadi tenang dan orang yang hina akan menjadi mulia dengan mempelajari serta mengamalkannya.

Al-Quran juga sebagai ubat paling mujarab bagi penawar segala penyakit. Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala sesiapa yang membaca ayat-ayat Al-Quran untuk perubatan, maka dia akan mengetahui betapa hebatnya  Al-Qur’an sebagai penyembuhan walaupun pakar perubatan ketika ini masih belum mampu menyembuhkannya. Oleh itu, tidaklah menjadi sesuatu perkara yang menghairankan kalau di katakan Al-Qur’an adalah penawar dan rahmat bagi orang yang beriman,

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَنُنَزِّلُ مِنَ ‌الْ‍‍قُ‍‍رْ‌آنِ مَا‌ هُوَ‌ شِف‍‍َ‍ا‌ء‌ٌ‌ ‌وَ‌‍رَحْمَة ٌ‌ لِلْمُؤْمِن‍‍ِ‍ي‍‍نَ ۙ ‌وَلاَ‌ يَز‍ِ‍ي‍‍دُ‌ ‌ال‍‍‍ظَّ‍‍الِم‍‍ِ‍ي‍‍نَ ‌إِلاَّ‌ خَ‍‍سَا‌ر‌اً
Wa Nunazzilu Mina Al-Qur'āni Mā Huwa Shifā'un WaRaĥmatun Lilmu'uminīna ۙ Wa Lā Yazīdu Až-Žālimīna 'IllāKhasāan

“Dan Kami turunkan dengan beransur-ansur dari Al-Quran Ayat-ayat Suci yang menjadi ubat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepadanya; dan (sebaliknya) Al-Quran tidak menambahkan orang-orang yang zalim (disebabkan keingkaran mereka) melainkan kerugian jua”. (Surah Al-Israa: 82)

Dari segi pahala dan keutamaannya pula, sesiapa yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya  akan mendapat  pahala yang banyak. Orang yang mahir membaca Al-Quran maka pada hari kiamat akan di kumpulkan bersama rombongan malaikat yang mulia. Sedangkan bagi orang yang lancar dalam pembacaannya  akan mendapat dua pahala, iaitu pahala dia membaca Al-Quran dan pahala kesungguhannya  dalam membaca dengan baik dan benar.

Al-Quran akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi orang yang membaca dan mengamalkannya. Bahkan Al-Quran akan menjadi pelindung dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala  di dunia mahupun di akhirat. Sehingga di katakan, orang yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya adalah sebaik-baik manusia.

Rasulullah  Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HadithRiwayat: Bukhari – Muslim).

Masih dalam hadith riwayat Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, tetapi dalam redaksi yang agak berbeza, disebutkan bahawa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Tetapi kebaikan, keutamaan dan pahala tersebut tidak dapat di rasakan kecuali orang yang diberi taufik dan hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala  agar sentiasa beriman kepadaNya, Adapun orang yang ingkar, tidak mahu beriman bahkan tidak mahu membaca, mempelajari, apalagi mengamalkannya, maka  tidak sesekali akan merasakan nikmat dan manfaat sedikitpun. Bahkan Al-Qur’an akan menjadi penyebab mereka di hina dan di sesatkan oleh  sebab  menjadi hujah (alasan) di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diseksa pada hari akhirat kelak.

Pada masa kini, terdapat penyalahgunaan dalam mendalami Al-Quran. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai tempat mencari nafkah. Ada di kalangan mereka menghafal Al-Qur’an bertujuan dapat di gunakan  dalam  majlis-majlis seperti pernikahan dan perayaan tertentu. Mereka diupah dengan menggunakan Al-Qur’an sebagai alat mencari nafkah. Perkara sebegini  berlaku di beberapa buah negara luar. Kesalahan sebegini  seharusnya tidak berlaku. Kesedaran perlu ditanam agar ia tidak  merebak ke negara-negara islam lain.

Masyarakat yang mengupah pembaca dan penghafaz Al-Quran ini  menganggap bahawa Al-Quran  perlu banyak  dibaca di tanah-tanah perkuburan agar simati mendapat pahala yang lebih, sehingga mereka berlumba-lumba mengupahnya. Mereka menganggap  melakukan amalan bid’ah sebegini  ini lebih besar pahalanya daripada ibadah yang wajib. Sebagai contoh, mereka sangat taa’sub  dalam mengamalkannya sementara solat berjama’ah di masjid mereka abaikan.

Mereka juga percaya bahawa bacaan tersebut dapat memberi  manfaat bagi si mati agar terbebas dari siksaan kubur serta  mendapat pahala yang terus mengalir, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  tidak pernah mengajar sedemikian. Bahkan di tegaskan dalam firman-Nya bahawa seseorang tidak memperoleh pahala melainkan dari yang di usahakannya saja. Jika usahanya baik maka dia akan mendapat  balasan yang baik dan jika usahanya buruk dia akan mendapatkan balasan yang setimpal.
.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  yang bermaksud:

وَ‌أَ‌نْ لَ‍‍يْ‍‍سَ لِلإِ‌ن‍‍س‍‍َ‍انِ ‌إِلاَّ‌ مَا‌ سَعَى
Wa 'An Laysa Lil'insāni 'Illā Mā Sa`á

“Dan bahawa sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya”; (Surah An-Najm: 39)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  juga menegaskan dalam sabda beliau yang bermaksud :
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ
“Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara iaitu: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.  
(Hadith Riwayat: Muslim).

Walaubagaimanapun  jika anak si mati yang membaca Al-Qur’an, maka pahalanya akan terus sampai kepadanya, kerana anak adalah hasil usaha didikan kedua ibubapanya. Ini adalah pendapat dari ulama  Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah.

Kesimpulannya, perlu ditegaskan bahawa  bacaan Al-Qur’an tidak dapat memberi manfaat kepada si mati yang semasa hidupnya suka meninggalkan solat, suka berbuat maksiat, dan melakukan pelbagai dosa lain. Malahan mungkin akan berlaku sebaliknya dimana Al-Qur’an akan menjadi saksi setiap perbuiatan didunia sehingga boleh mengheret ke neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan Al-Qur’an yang mulia ini melainkan untuk di baca, difahami dan diamalkan  setiap isi kandungannya. Setiap perintah hendaklah dikerjakan dengan ikhlas. Contoh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  dan para sahabat R.A. Manakala yang berupa larangan hendaknya di jauhi. Al-Quran hendaklah sentiasa dibaca, dan sudah tentu tidak ada yang dapat melakukannya melainkan orang yang hidup dan masih sihat akal  fikirannya serta masih terjaga fitrahnya. Oleh itu, jelaslah bahawa Al-Qur’an memang untuk orang hidup bukan untuk orang mati.

Semoga uraian singkat ini boleh beri manfaat dan membangkitkan kesedaran kita untuk lebih semangat dan waspada dalam melaksanakan ibadah.

Maraji’
 :
1. Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
2. At-Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur’an, karya Al-Imam An-Nawawi.
( Dinukil dari Buletin Al-Bayyinah, edisi 09 / 03 / 01).

Terjemahan Al-Quran: http://transliteration.org/

Alih Bahasa oleh: Puan Norazzah Bte Mahmud

Posted By: HAR

09 April, 2016

BACAAN ZIKIR SETELAH SOLAT SESUAI
DENGAN SUNNAH NABI


Bacaan-bacaan dzikir yang shahih setelah shalat fardhu, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. (dibaca setelah salam). Dzikir akan menguatkan seorang muslim dalam ibadah, hati akan merasa tenang dan mudah mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan setiap ibadah hendaklah bersandar kepada dalil serta mengambil contoh (ittiba’) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagai bukti kita adalah pengikutnya.

Bacaan 1
أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Astaghfirullaåh. Astaghfirullaåh. Astaghfirullaåh
“Saya memohon ampun kepada Allah. Saya memohon ampun kepada Allah, Saya memohon ampun kepada Allah”

Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beliau beristighfar sebanyak tiga kali dan membaca dzikir di atas. Al Auza’i menyatakan bahawa bacaan istighfar adalah astaghfirullah, astaghfirullah.

Keterangan: HR. Muslim no. 594/7, Lihat Syarh Shahih Muslim, 5: 84. HR. An-Nasai dalam Al Kubaro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram. HR. Abu Daud no. 1523 dan An-Nasai no. 1337. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa sanad hadits ini hasan. HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahawa hadits ini shahih.

Bacaan 2
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
Allahumma antassalaam, wa mingkassalaam, tabarakta ya dzaljalaali wal ikraam.
“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Keterangan: HR. Muslim no.591 (135), Ahmad (V/275,279), Abu Dawud no.1513, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.737, ad-Darimi I/311 dan Ibnu Majah no.928 dari Sahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu.

Perhatian: Hendaklah dicukupkan dengan bacaan ini dan jangan ditambah-tambah dengan macam-macam bacaan lainnya yang tidak ada asalnya dari NabiShallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Misykaatul Mashaabiih 1/303)

Bacaan 3

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir. Allahumma laa maani’a limaa a’thayta, wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yamfa’u dzaljaddi min kaljadd
“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” 

Keterangan: HR. Al-Bukhari no.844 dan Muslim no.593, Abu Dawud no.1505, Ahmad IV/245, 247, 250, 254, 255, Ibnu Khuzaimah no.742, ad-Darimi I/311, dan An-Nasa-i III/70,71, dari  Al-Mughirah bin Syu’bah.

Bacaan 4
.
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
Laailaaha illallah wahdahu la syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in Qodir'. La haula wala quata ila bilah, laa ilaha ilallah wala na'budu ila iiyah, lahun na'mah walahul fadlu, walahut tana'ul hasanu Laa ilaaha ilallah mukhlisina lahud diina walau karihal Kafirun.
“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”

Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengeraskan bacaan dzikir ini di akhir shalat. (Mengeraskan (menjaherkan) bukanlah maksudnya dengan dzikir secara berjama’ah. Dzikirnya tetap masing-masing per individu).

Keterangan: HR. Muslim no.594, Ahmad IV/ 4, 5, Abu  Dawud no. 1506, 1507, an- Nasa-i III/70, Ibnu Khuzaimah no.740, 741, Dari ’Abdullah bin az-ZubairRahimahullah.

Bacaan 5

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.  (Dibaca 10x setiap selesai shalat maghrib dan shubuh).
"Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi ruh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa setelah shalat Maghrib dan Shubuh membaca ‘Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, yuhyiy wa yumiytu wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir,’  sebanyak 10x Allah akan tulis setiap satu kali 10 kebaikan, dihapus 10 kejelekan, diangkat 10 derajat, Allah lindungi dari setiap kejelekan, dan Allah lindungi dari godaan syaitan yang terkutuk.” (HR. Ahmad IV/227, at-Tirmidzi no.3474). At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan gharih shahih.

Bacaan 6
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allahumma a-’inniy ’ala dzikrika wa syukrika wa husni ’ibaadatika.
“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Keterangan: HR. Abu Dawud no.1522, an-Nasa-i III/53, Ahmad V/245 dan al-Hakim (I/273 dan III/273) dan dishahihkannya, juga disepakati oleh adz-Dzahabi, yang mana kedudukan hadits itu seperti yang dikatakan oleh keduanya, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan wasiat kepada Mu’adz agar dia mengucapkannya di setiap akhir shalat. 

Bacaan 7
سُبْحَانَ اللهُ
Subhaanallaah   (33x)
“Maha suci Allah”

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillah      (33x)
“Segala puji bagi Allah” 

اَللهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar       (33x)
“Allah Maha Besar”

(Untuk melengkapinya menjadi seratus, ditambah dengan membaca:)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Laa ilaaha illallaåh wahdahu laa syarikalah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syay-in qådiir.
“Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Keterangan: Siapa yang membaca dzikir di atas, maka dosa-dosanya diampuni walau sebanyak buih di lautan. Kata Imam Nawawi rahimahullah, tekstual hadits menunjukkan bahawa bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, masing-masing dibaca 33 kali secara terpisah.  HR. Muslim no.597, Ahmad II/371,483, Ibnu Khuzaimah no.750 dan al-Baihaqi II/187).

Bacaan 8
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ>>للَّهُ الصَّمَدُ> لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ> وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَد
Qul huwallaahu ahad. Allaahusshamad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahu kufuwan ahad.
Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ> مِن شَرِّ مَا خَلَقَ> وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ> وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ
فِي الْعُقَدِ>  وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Qul a'uudzu birabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wamin syarri ghaasiqin idzaa waqaba. Wamin syarrin naffaatsaati fii al'uqadi. Wamin syarri haasidin idzaa hasada.
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Robb Yang Menguasai waktu subuh, dari kejahatan apa-apa (mahluk) yang diciptakan-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ> مَلِكِ النَّاسِ> إِلَهِ النَّاسِ>> مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ> الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ> مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ >
Qul a'uudzu birabbin naas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas. Minal jinnati wannaas.
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia”

Keterangan: HR Abu Dawud no.1523, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.755 dan Hakim I/253. Lihat pula Shahiih at-Tirmidzi III/8 no.2324. Ketiga surat tersebut dinamakan al-Mu’awwidzaat. 

Bacaan 9.

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allaahu laa ilaaha illaa huu, al hayyul qoyyum, la ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardh. Man djalladjii yasyfa’u ’indahuu illa bi idjnih. Ya’lamu maa bayna aydiihim wa maa kholfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syay-im min ’ilmihii illa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiiyyuhussamaawaati wal ardh. Walaa ya-uuduhuu hifzhuhumaa. Wa huwal’aliiyul ’azhiim. (Surah Al-Baqarah:255)
”Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Faedah: Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.

Keterangan  HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram.

Khusus setelah selesai shalat Shubuh, disunnahkan membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma inniy as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon toyyiban, wa’amalan mutaqobbalan.
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima."

Keterangan  HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Semoga zikir yang sederhana ini boleh menjadi amalan rutin kita  setelah sholat sehingga Allah berkahi aktiviti harian kita.

Wallahu waliyyut taufiq. Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.
RUJUKAN:  https://www.youtube.com/watch?v=ADFAVgykUj8                                                           https://www.youtube.com/watch?v=pXg6ggQTAiQ&nohtml5=False
Posted  by: HAR