"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

21 February, 2009

Berbakti pada Kedua Orang Tua-"Makna Al-Birr"

Al Birr iaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam (artinya) :

"Al Birr adalah baik-nya akhlaq". (Diriwayatkan oleh Muslim)

"Al Birr adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al 'Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya." (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)

Berkata Urwah bin Zubair semoga Allah meredhai mereka berdua tentang firman Allah Subhanahu wa Ta'ala bermaksud:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ
ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan rendahkanlah dirimu kepada keduanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah: Wahai Tuhanku! Kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah memelihara dan mendidikku semasa kecil. " ( Surah Al=Israa': 24)
"Jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun". (Ad Darul Mantsur 5/259)

Berkata Imam Al Qurtubi semoga Allah merahmatinya : "Termasuk 'Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah (membolehkan), sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang disukai/disunnahkan). (Al Jami' Li Ahkamil Qur'an Jil 6 hal 238).

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah semoga Allah merahmatinya: Berkata Abu Bakar di dalam kitab Zaadul Musaafir "Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia boleh tertawa (senang) kembali". (Ghadzaul Al Baab 1/382).

Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ’Alaihi wa sallam. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian ini benar?” Maka jawab Rasulullah, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.” (Riwayat Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah).

Begitulah, syari’at Islam menetapkan betapa besar hak-hak orang tua atas anaknya. Bukan saja ketika sang anak masih hidup dalam tanggung jawab kedua orang tuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup berdikari. Tentu saja hak-hak yang agung tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Sehingga tak menghairankan jika perintah berbakti kepada orang tua menempati kedudukan ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah dengan mengesakan-Nya.

Allah berfirman:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibubapa...."(Surah An Nisaa': 36)

Hukum Birrul Walidain (berbakti kepada orang Tua)

Para Ulama' Islam sepakat: bahawa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, hanya yang mereka berselisih ialah tentang ibarat-ibarat (contoh pengamalan) nya.


Berkata Ibnu Hazm, semoga Allah merahmatinya.

"Birul Walidain adalah fardhu (wajib bagi masing-masing individu). Berkat beliau dalam kitab Al Adabul Kubra: Berkata Al Qodli Iyyad: "Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang haram." (Ghdzaul Al Baab 1/382)

Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , diantaranya:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibubapa...." (Surah An-Nisaa': 36)

Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar'iyyah 1/434).

"Dan sembahlah olehmu akan Allah,". Hendaklah tegakkan ibadat, hendaklah engkau sedar selalu bahawa engkau ini adalah 'abdun' iaitu hamba dari Allah dan Dia adalah 'ma'budmu', iaitu tempat menghadapkan sembah. Maka beribadat kepada Allah itu, hendaklah semata-mata kepada Allah, Esa tujuan dan janganlah musyrik. Jangan memandang ada sesuatu yang lain dari Allah. Maka tiba lanjutan ayat: "Dan dengan kedua ibu-bapa, hendaklah berlaku baik." Berlaku hormat dan khidmat, cinta dan kasih. Inilah yang kedua sesudah taat kepada Allah. (Tafsir Al-Azhar)

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada kedua ibu bapa." (Surah Al-Israa': 23)

Sebagai anak, sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan untuk melahirkan rasa bakti dan hormat kita kepada kedua orang tua. Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun termasuk birrul walidain. Saperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Isra:23).

Adapun makna ( qadhoo ) = Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy : yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: "Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya)." (Fathul Qodiir 3/218).

Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bersama seorang laki-laki lanjut usia. Rasulullah bertanya, ”Siapakah orang yang bersamamu?” Maka jawab laki-laki itu, “Ini ayahku”. Rasulullah kemudian bersabda, “Janganlah kamu berjalan di depannya, janganlah kamu duduk sebelum dia duduk, dan janganlah kamu memanggil namanya dengan sembarangan serta janganlah kamu menjadi penyebab dia mendapat cacian dari orang lain.” (Imam Ath-Thabari dalam kitab Al-Ausath)

Berbakti kepada orang tua tidak hanya terbatas ketika mereka masih hidup, tetapi boleh dilakukan setelah mereka wafat. Perkara itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah menjawab, “Yakni dengan mengirim doa dan memohonkan ampunan . Menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orang tua, memelihara hubungan silaturahim serta memuliakan kawan-kawan dan kerabat orang tuamu.” Demikian Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban meriwayatkan bersumber dari Abu Asid Malik bin Rabi’ah Ash-Sha’idi.

3. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ
وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan atas kelemahan dan menceraikan susunya dalam masa dua tahun; bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan kepada Akulah tempat kembalimu. " (Surah Luqman: 14)

Berkata Ibnu Abbas semoga Allah mereadhai mereka berdua "Tiga ayat dalam Al Qur'an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu", Berkata beliau. "Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu." (Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).

Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu'Alaihi wa Sallam bersabda :

"Kereadhaan Rabb (Allah) ada pada kereadhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua" ((Riwayat Tirmidzi dalam Jami'nya (1/ 346), Hadits ini Shahih, lihat Silsilah Al Hadith Ash Shahiihah No. 516).

4. Hadith Al Mughirah bin Syu'bah - semoga Allah meredhainya, dari Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam beliau bersabda :"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya).

Keutamaan Birrul Walidain

Pertama : Termasuk Amalan Yang Paling Mulia

Dari Abdullah bin Mas'ud semoga Allah meredhainya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam: "Sholat tepat pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua". Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah".(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).

Kedua : Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (artinya) :

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ
وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ
أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ
وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungkannya dan telah melahirkannya dengan bersusah payah. Sedang tempoh mengandungnya berserta dengan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa tiga puluh bulan. Setelah ia sampai ke peringkat dewasa dan sampai umur empat puluh tahun, berdoalah ia: Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya bersyukur akan nikmat-Mu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal salih yang Engkau redhai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu, dan sesungguhnya aku dari orang Islam yang tunduk patuh kepadamu. " (Surah Al-Ahqaaf:15)

Dan Firman Allah seterusnya:

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ
عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

"Mereka itulah orang yang Kami terima dari mereka amalnya yang baik yang mereka kerjakan, dan Kami ampunkan kesalahan-kesalahan mereka; Mereka akan dimasukkan ke dalam kumpulan ahli syurga; sebagai memenuhi janji yang benar, yang telah dijanjikan kepada mereka." (Surah Al-Ahqaaf:16)

Diriwayatkan oleh ibnu Umar semoga Allah meredhai keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam : "Apakah Ibu mu masih hidup?", berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam : "Adakah ibu saudaramu masih ada?", dia berkata : "Ya" . Bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam : "Berbuat baiklah padanya". (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami'nya dan berkata Al 'Arnauth : Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami'ul Ushul (1/ 406).

Ketiga : Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga :

Dari Abu Hurairah, semoga Allah meredhainya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Celakalah dia, celakalah dia", Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga".(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).

Dari Mu'awiyah bin Jaahimah semoga Allah meredhai mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam kemudian berkata : "Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia : "Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam : "Tetaplah dengannya karena sesungguhnya shorga itu dibawah telapak kakinya".(Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa'i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

Keempat : Merupakan Sebab keredhaan Allah

Sebagaimana hadits yang terdahulu, "Keredhaan Allah ada pada keredhaan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".

Kelima : Merupakan Sebab Bertambahnya Umur

Diantarnya hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik semoga Allah meredhainya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

"Barangsiapa yang suka Allah besarkan rezkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim".

Keenam : Merupakan Sebab Berkahnya Rezki

Dalilnya, sebagaimana hadits sebelumnya.

Bukan dalam Syirik dan Maksiat

Mesti kita diperintah untuk taat dan patuh kepada mereka, namun hal itu tak berlaku ketika keduanya memerintahkan kita untuk menyekutukan Allah dan bermaksiat kepada-Nya. Rasulullah bersabda,”Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (Riwayat Ahmad)
Kita tentu ingat kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash yang diberi dua pilihan oleh ibunya yang masih musyrik: kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan dan ,minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, beliau berkata,”Wahai Ibu, seandainya Ibu memiliki 1000 jiwa kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan agama baruku (Islam). Karena itu, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad yang berkeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya. Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman:15). Jadi, kalau orangtua kita mengajak kia ke arah kemusyrikan maka tidak wajib kita mentaati mereka. Hanya sebagai anak sahaja tetap berkewajiban bergaul dengan baik selama di dunia. Sikap santun harus senantiasa dijaga.

Awas: Durhaka!

Durhaka kepada orang tua (‘uquuqul walidain) termasuk dalam kategori dosa besar. Bentuknya boleh berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan, menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tua.” (Al-Isra’ : 23). Jika berkata ‘ah/cis/huh’ saja dah tak boleh, apalagi yang lebih kasar daripada itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Barangsiapa membuat hati orang tua sedih, berarti dia telah durhaka kepadanya.” (Riwayat Bukhari). Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda, “Termasuk perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya karena marah.” (Riwayat Thabrani).

Orang tua kita, siapa pun orangnya, memang harus dihormati, apalagi jika beliau seorang muslim. Rasulullah pernah berpesan, “Seorang muslim yang mempunyai kedua orang tua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia memiliki satu orang tua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu shorga terbuka. Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orang tua maka Allah tidak redha kepada-Nya.” Maka ada seorang bertanya, “Walaupun keduanya berlaku zhalim kepadanya?” Jawab Rasulullah, “Ya, sekalipun keduanya menzhaliminya.” (Riwayat Bukhari)

Berhubungan dengan orang tua memang harus hati-hati.

Jangan sampai hanya karena emosi, kelalaian, ketidaksabaran plus rasa ego kita yang besar, kita terjerumus ke dalam ‘uququl walidain' yang berarti kemurkaan Allah. Na’udzubillah. Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah pernah berpesan bahwa keredhaan Allah berada dalam keredhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orang tua? Selagi masih ada waktu dan kesempatan, tunjukkanlah cinta, sayang, hormat, dan bakti kita kepada keduanya, hanya untuk satu tujuan: meraih cinta, ampunan, pahala, dan redha-Nya…Wallahu A’lam.
Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Penyunting/edit: HAR

06 February, 2009

HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE

Ada Apa Dengan Valentine's Day ?

Pada bulan Februari, kita selalu menyaksikan media massa, pusat pusat membeli belah, pusat-pusat hiburan sibuk dan berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar pesta perayaan yang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga di-pagi hari. Semua pesta tersebut berpunca pada satu perkara iaitu Valentine's Day. Biasanya mereka saling mengucapkan "selamat hari Valentine", berkirim kad dan bunga, saling bertukar pasangan, saling memeluk, menyatakan sayang atau cinta karena anggapan saat itu adalah “hari kasih sayang”. Benarkah demikian?


SEJARAH VALENTINE’S DAY

The World Book Encyclopedia (1998) banyak menuliskan versi mengenai Valentine’s Day : “Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.”

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara rambang dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersuka-ria dan objek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda menyebat orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk disebat karena anggapan sebatan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa (Perbezaan halus) Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeza.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di tingkap penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentera muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Kebiasaan mengirim kad Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kahwin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disedari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?. Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita remaja putra-puteri Islam yang terkena penyakit ikut-ikutan mengikut budaya Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikut apa yang kamu tidak ketahui; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya apa yang dilakukan. (Surah Al Israa' : 36).


HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeza dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata; “Memberi salam atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi salam atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyedari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi salam kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

Abu Waqid Radhiallaahu anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan : “Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, kerana: Pertama: ia merupakan hari raya bid‘ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari‘at Islam. Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah mereadhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.

Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”

Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( kesetiaan kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Iaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membezakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.

Di antara impak (kesan) buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Impak buruk lainnya, bahawa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca:

اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang yang engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang yang sesat." (Surah Al-Fatihah: 6-7)

Bagaimana dapat ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.

Lain daripada itu, mengekorinya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى
أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ
مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman, kerana setengah mereka menjadi teman kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka temannya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kamu yang berlaku zalim." (Surah Al-Maidah: 51)

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

"Engkau tidak akan dapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tergamak berkasih mesra dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya..."
(Surah Al-Mujaadalah:22)

Ada seorang gadis mengatakan, bahawa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang asyik memikirkan (obsess) oleh budaya dan gaya hidup mereka.

Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang penting, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahawa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita dapat mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami …dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.

Semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Shurga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan:

“Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (Al-Hadits).

Penulisan dari: alsofwah
Penyunting/edit oleh: HAR

Pendapat Jais sila klik:

Pendapat : suara mimbar Brunei sila klik:

Hari valentine ialah Hari Memperingati kematian Pope/Paderi bagi agama Yahudi. Umat Islam dilarang untuk menyambut dan memperingati hari tersebut kerana ia bukan dari ajaran Islam-oleh Panel Kemusykilan Agama, JAKIM- No Rujukan: PANEL SJAI 140807

28 January, 2009

Sepuluh Perkara Pembatal Keislaman kita

PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN
KEISLAMAN

Segala puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala), Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang terahir Muhammad (Shalallahu 'alaihi Wassalam), para keluarga dan para Sahabat beliau, serta kepada orang- orang yang setia mengikuti petunjuk beliau.

Selanjutnya : ketahuilah, wahai saudaraku kaum muslimin, bahwa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah mewajibkan kepada seluruh hamba – hambaNya untuk masuk ke dalam agama Islam dan berpegang teguh denganya serta berhati –hati untuk tidak menyimpang darinya.

Allah juga telah mengutus NabiNya Muhammad (Shalallahu 'alaihi Wassalam) untuk berdakwah ke dalam perkara ini, dan memberitahukan bahawa barangsiapa bersedia mengikutinya akan mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang menolaknya akan sesat.

Allah juga mengingatkan dalam banyak ayat- ayat Al-Qur’an untuk menghindari sebab- sebab kemurtadan, segala macam kemusyrikan dan kekafiran.

Para ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan, bahawa seorang muslim boleh di anggap murtad ( keluar dari agama Islam) dengan berbagai macam perkara yang membatalkan keislaman, yang menyebabkan halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam.

Yang paling berbahaya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh (10) perkara, yang di sebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama lainnya, dan kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit tambahan penjelasan untuk anda, agar anda dan orang – orang selain anda berhati hati dari hal ini, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.

Pertama:

Diantara sepuluh hal yang membatalkan keislaman tersebut adalah mempersekutukan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) ( syirik ) dalam beribadah.
Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن
يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, dan akan mengampunkan yang lain daripada kesalahan itu bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya; dan sesiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya." (Surah An-Nisaa': 116)

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

"Maka sesungguhnya Allah haramkan kepadanya Syurga, dan tempat kembalinya ialah neraka; dan tiadalah seorang penolong pun bagi orang yang berlaku zalim." ( Surah Maidah: 72)

Dan di antara perbuatan kemusyrikan tersebut adalah ; meminta do’a dan pertolongan kepada orang- orang yang telah mati, bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka.

Kedua:

Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah (Subhanahu wa Ta’ala), meminta do’a dan syafaat serta bertawakkal ( berserah diri ) kepada perantara tersebut.

Orang yang melakukan hal itu, menurut ijma’ ulama ( kesepakatan) para ulama, adalah kafir.

Ketiga :

Tidak menganggap kafir orang-orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan konsep mereka. Orang yang demikian ini adalah kafir.

Keempat:

Berkeyakinan bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad (Shalallahu 'alaihi Wassalam) lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari beliau lebih baik, seperti ; mereka yang mengutamakan aturan - aturan thaghut (aturan – aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang dari hukum Allah ), dan mengesampingkan hukum Rasulullah (Shalallahu 'alaihi Wassalam) , maka orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir.

Kelima :

Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah (Shalallahu 'alaihi Wassalam), meskipun ia sendiri mengamalkannya. Orang yang sedemikian ini adalah kafir. Karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

"Demikian itu kerana sesungguhnya mereka tidak menyukai apa yang diturunkan oleh Allah, lalu Allah menggugurkan amal-amal mereka. " (Surah Muhammad: 9)

Keenam:

Memperolok–olok sesuatu dari ajaran Rasulullah (Shalallahu 'alaihi Wassalam), atau memperolok – olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan agama Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka orang yang demikian menjadi kafir, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ

وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, tentulah mereka akan menjawab: Sesungguhnya kami hanyalah berbual dan bermain-main.Katakanlah: Patutkah nama Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu perolok-olokkan? (Surah At-Taubah: 65)

لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ
مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ

Janganlah kamu berdalih, kerana sesungguhnya kamu telah kufur sesudah kamu beriman. Jika Kami maafkan segolongan dari kamu, maka Kami akan menyeksa puak yang lain, kerana mereka adalah orang yang terus bersalah. (Surah At-Taubah: 66)

Ketujuh :

Sihir di antaranya adalah ilmu guna-guna yang merubah kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian, atau yang menjadikan seseorang mencintai orang lain, atau sesuatu yang di bencinya dengan cara syaitani dan orang yang melakukan hal itu adalah kafir, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

وَلَكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ

"Akan tetapi syaitan itulah yang kafir; kerana merekalah yang mengajarkan manusia ilmu sihir dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat" (Surah Al Baqarah: 102)

Kelapan:

Membantu dan menolong orang – orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى
أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ
مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman, kerana setengah mereka menjadi teman kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka temannya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kamu yang berlaku zalim." (surah Maidah: 51)

Kesembilan:

Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad (Shalallahu 'alaihi Wassalam) , maka yang berkeyakinan seperti ini adalah kafir.

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia pada hari Akhirat kelak dari orang yang rugi. (Surah Ali-"Imran: 85)

Kesepuluh :

Berpaling dari ِِAgama Allah (Subhanahu wa Ta’ala); dengan tanpa mempelajari dan tanpa melaksanakan ajarannya.

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا
مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

"Dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang diberi ingat dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya, sesungguhnya Kami tetap membalas orang yang tidak berdosa (apa lagi orang yang zalim).( Surah As-Sajdah: 22)

Termasuk dalam nomor empat :

Orang yang berkeyakinan bahawa aturan- aturan dan perundang – undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam, atau bahwa syariat Islam tidak tepat untuk diterapkan pada abad ke dua puluh ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu terbatas dalam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur urusan kehidupan yang lain.

Juga orang yang berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Ta'ala dan memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina ( muhsan) yang telah kawin tidak sesuai lagi di masa kini.

Demikian juga orang yang berkeyakinan diperbolehkannya pengetrapan hukum selain hukum Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam segi mu’amalat syar’iyyah, seperti perdagangan, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain sebagainya, atau dalam menentukan hukum pidana, atau lain-lainnya, sekalipun tidak disertai dangan keyakinan bahwa hukum- hukum tersebut lebih utama dari pada syariat Islam.

Karena dengan demikian ia telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) , menurut kesepakatan para ulama’. Sedangkan setiap orang yang telah menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam agama, seperti zina, minum arak, riba dan penggunaan perundang- undangan selain Syariat Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka ia adalah kafir, merurut kesepakatan para umat Islam.

Kami mohon kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) agar memberi taufiq kepada kita semua untuk setiap hal yang di readhai Nya, dan memberi petunjuk kepada kita dan kepada seluruh umat Islam jalannya yang lurus. Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) adalah Maha Mendengar dan maha Dekat. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad (Shalallahu 'alaihi Wassalam), kepada para keluarga dan para shahabat beliau.

(Dinukil dari kitab نواقض الإسلام oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz)

Edit/Penyunting: HAR

18 January, 2009

Berjihad Dengan Israel Dan Amerika ialah Fardhu Ain bagi Setiap Muslim

Kewajipan berjihad menentang israel dan kezaliman mereka serta memerangi musuh Islam seperti Amerika dan negara -negara kuffar ialah satu kewajipan yang wajib ke atas setiap individu umat islam tanpa perlu diperbincangkan lagi.


Imam Ibnu Taimiyyah berkata : "Jika musuh hendak menyerang kaum muslimin, maka menolak musuh itu menjadi wajib atas semua orang yang menjadi sasaran musuh dan atas orang-orang yang tidak dijadikan sasaran mereka.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه فَإِنِ انتَهَوْاْ فَإِنَّ اللّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan (sehingga) menjadilah agama itu seluruhnya (bebas) bagi Allah semata-mata.Kemudian jika mereka berhenti (dari kekufurannya), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat akan apa yang mereka kerjakan. " (Surah Al-Anfaal:39)

Menjadi kewajipan bagi setiap muslimin tua dan muda baik yang mampu atau tidak untuk keluar berjihad menentang musuh-musuh Allah dan menyerang kedudukan mereka, kekuatan mereka dan menghancurkan segala kemampuan mereka sehingga terhapus kezaliman mereka dan terbunuh semuanya musuh Allah dan tiadalah yang tertegak di muka bumi melainkan agama yang diredhai Allah iaitu Islam.

Ar Ramli (Dari Mazhab Syafi'i) mengatakan : "Maka jika musuh telah masuk kedalam suatu negeri kita dan jarak antara kita dengan musuh kurang daripada jarak qashar sholat, maka penduduk negeri tersebut wajib mempertahankannya, hatta (walaupun) orang-orang yang tidak dibebani kewajiban jihad seperti orang-orang fakir, anak-anak, hamba sahaya dan perempuan."

Ibnu Qudamah (dari Mazhab Hambali) mengatakan :"Jihad menjadi fardu 'ain didalam 3 keadaan:

a. Apabila kedua pasukan telah bertemu dan saling berhadapan.

b. Apabila orang kafir telah masuk (menyerang) suatu negeri (diantara negeri negeri Islam), Jihad menjadi fardu ain atas penduduknya untuk memerangi orang kafir tsb dan menolak mereka.

c. Apabila Imam telah memerintahkan perang kepada suatu kaum, maka kaum tsb wajib berangkat.

Hendaklah golongan ahlul sunnah wal jamaah dan mereka yang mengikuti Al-Qur'an dan sunnah menyedari bahawa telah jatuh hukum wajib berjihad dan tidaklah tertunai kewajipan jihad itu dengan berdemonstrasi dan menandatangani memorandum dan bantahan terhadap musuh-musuh Allah sebaliknya terlaksana jihad itu apabila mengangkat senjata dan membunuh musuh-musuh Allah dan menumpahkan darah mereka ke bumi Allah.

Sabda rasulullah : "Barangsiapa yang mati sedangkan ia tidak berperang, dan tidak tergerak hatinya untuk berperang, maka dia mati diatas satu cabang kemunafikan." (HR Muslim, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Abu Awanah dan Baihaqi)

Sabda rasulullah lagi : "Sesiapa yang tidak berperang atau tidak membantu persiapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang hendak berperang dengan baik, nescaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan." Yazid bin Abdu Rabbihi berkata : "Didalam hadith yang diriwayatkan ada perkataan "sebelum hari qiamat." (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi, Tabrani, Baihaqi dan Ibnu Asakir).

Firman Allah subhanahu wa Ta'ala:

لاَّ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ

اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاًّ وَعَدَ اللّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللّهُ

الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

"Tidaklah sama keadaan orang yang duduk (tidak turut berperang) dari kalangan orang yang beriman selain daripada orang yang keuzuran dengan orang yang berjihad (berjuang) di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang yang berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka atas orang yang tinggal duduk dengan kelebihan satu darjat. Dan tiap-tiap satu Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga), dan dilebihkan Allah akan orang yang berjuang atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut berperang dan tidak ada sesuatu uzur) dengan pahala yang amat besar." (Surah An-Nisaa':95)

Menentang musuh-musuh Allah khasnya Israel dan Amerika merupakan kewjaipan ke atas setiap umat Islam Malaysia dan ianya dilakukan dengan perjuangan bersenjata dan pertumpahan darah terhadap musuh Allah bukannya dengan berdemonstrasi dan menandatangani surat bantahan.

Sabda nabi Muhammad saw :

"Perangilah orang-orang musyrik itu dengan hartamu, diri dan lisanmu."(Abu Daud, An Nasa'i, Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Baghawi dan Ibnu Asakir dari Anas ra)

Beliau bertanya lagi : "Apakah Jihad itu? Baginda menjawab: "Engkau perangi orang-orang kafir jika engkau menjumpai mereka dimedan perang." Dia bertanya lagi : "Jihad macam mana yang paling utama?" Baginda menjawab : "Sesiapa yang dilukai anggota badannya dan dialirkan darahnya." (HR Ahmad)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ

مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

"Perangilah orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar dari orang yang diberikan Kitab, sehingga mereka membayar Jizyah dengan taat dan merendah diri." (Surah At-Taubah:29)


Marilah berjihad menentang musuh-musuh Allah dan bersama dengan kelompok mujahidin dan pembela agamanya dari kalangan ahlul sunnah wal jamaah dan jauhilah dari firqah-firqah sesat dan menetaplah diri bersama kumpulan salaf soleh yang berpegang teguh kepada Allah dan rasul dengan pertunjuk yang selamat dan manhaj yang terpelihara.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

بِالآخِرَةِ وَمَن يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيُقْتَلْ أَو يَغْلِبْ

فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا


"Oleh itu, orang yang mengutamakan kebahagiaan akhirat daripada kehidupan dunia, hendaklah mereka berperang di jalan Allah. Dan sesiapa yang berperang pada jalan Allah lalu ia mati (gugur Syahid) atau beroleh kemenangan, maka Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar." (Surah An-Nisaa':74)

Kepada sesiapa yang ingin berjihad menentang Israel dan Amerika dia boleh melakukannya ketika waktu ini dengan tanpa memerlukan izin pemerintah, tanpa memerlukan izin ibubapa dan tanpa memerlukan izin daripada walinya dan bahkan dia boleh melakukan musafir secara sembunyi dan menuju ke tempat-tempat wujudnya musuh-musuh Allah dengan bekalan zakat dari umat Islam.

Cumanya adalah dinasihatkan merujuk kepada fatwa ulama setempat dan merujuk serta mendapatkan maklumat sebenar tentang peranan yang boleh dimainkan dan apakah kewajaran yang perlu dilakukan sebelum melakukan musafir secara membuta tuli tanpa persiapan.

Hendaklah diketahui teerlebih dahulu di manakah kedudukan musuh, bagaimana cara menghadapi mereka, siapakah yang bergelar musuh, di manakah sasaran yang wajar, cara untuk melakukan musafir dan bagaimanakah peranan yang perlu dimainkan dan siapakah yang perlu diberi ketaatan dan wala serta sokongan.

Oleh itu sebelum berangkat ke medan jihad pastikan anda telah dengan semua hal di atas sebelum anda melakukan kesilapan mengabungkan diri dengan musuh ALlah (kumpulan syiah) yang mendakwa mereka berjihad untuk agama Allah sedangkan hakikatnya anda tersalah masuk kumpulan.

Kenali dahulu kepada siapakah harus anda memberikan ketaatan dan sokongan untuk bersama mereka mendapatkan syurga Allah swt.

Segala puji hanyalah bagi Allah swt.

(Buat makluman, saudara tidak memiliki sebarang maklumat melainkan apa yang disampaikan oleh siaran dan rangkaian berita Al-Jazeera oleh itu sebarang usaha mengaitkan saudara dengan kumpulan militan dan pengganas (pada pandangan musuh Islam) akan menghadapi tindakan undang-undang).

Oleh ustaz Emran Ahmad, yeman

Penyunting/editor:HAR

15 January, 2009

Hukum berjihad ke atas Israel ialah Wajib

Para ulama Islam telah sepakat menyatakan bahawa hukum jihad ialah wajib ke atas umat Islam secara kewajipan setiap individu (Fardhu Ain) apabila musuh telah menyerang kaum Muslimin di sesuatu kawasan atau wilayah Islam.

Hukum fardhu Ain (wajib ke atas setiap individu) ini adalah terjatuh kepada penghuni wilayah Islam yang diserang tersebut untuk mempertahankannya dan menjadi hukum Fardhu Kifayah (kewajipan umum) ke atas umat Islam yang lain yang berada di luar wilayah tersebut.

(Seorang bapa yang kesedihan melihat jenazah 3 orang anak kecilnya yang terbunuh akibat serangan Israel dan kemudian anda masih berasa hairan sambil kaget sewaktu membaca perihal umat Islam yang meletupkan dirinya bersama musuh bagi membunuh Yahudi ? Anda mencemuh perbuatan mereka sambil donut dan karipap dalam mulut anda masih belum habis dikunyah sedang anda tidak mengalami penderitaan mereka -

SIAPA SEBENARNYA TERORIS ?

Bagaimanapun, sekiranya penghuni wilayah tidak memadai untuk menghadapi musuh, maka kewajipan meluas kepada kaum muslimin yang berdekatan dengan wilayah tersebut, dan seterusnya jika belum memadai juga, jihad menjadi fardu ain bagi yang berdekatan wilayah tersebut sehingga berikutnya sehingga tercapai kekuatan yang memadai untuk menewaskan musuh. Sekiranya belum memadai juga, maka jihad menjadi fardu ain bagi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia.

Imam Dasuki (Mazhab Hanafi) berkata : "Di dalam menghadapi serangan musuh, setiap orang wajib melakukannya, termasuk perempuan, hamba sahaya dan anak- anak sekalipun tidak diberi izin oleh suami, wali dan orang yang berhutang.''

Di dalam kitab Bulghatul Masalik li Aqrabil Masalik li Mazhab Imam Malik menyebut : "...Dan jihad ini hukumnya fardu ain jika Imam memerintahkanya, sehingga hukumnya sama dengan solat, puasa dan sebagainya. Kewajiban jihad sebagai fardu ain ini juga terjadi di sebabkan adanya serangan musuh terhadap salah satu wilayah Islam. Maka bagi sesiapa yang tinggal di wilayah tersebut, berkewajipan melaksanakan jihad, dan sekiranya orang-orang yang berada di sana dalam keadaan lemah maka barangsiapa yang tinggal berdekatan dengan wilayah tersebut berkewajipan untuk berjihad.

Imam Ar Ramli (Dari Mazhab Syafi'i) mengatakan : "Maka jika musuh telah masuk ke dalam suatu negeri kita dan jarak antara kita dengan musuh kurang daripada jarak qashar solat, maka penduduk negeri tersebut wajib mempertahankannya, walaupun orang-orang yang tidak dibebani kewajiban jihad seperti orang-orang fakir, anak-anak, hamba sahaya dan perempuan.

Umat Islam Sekitar Palestin Dibebani Hukum Jihad Secara Fardhu Ain

Sejak kerajaan Yahudi ditubuhkan pada 1948 dan penaklukan Israel secara haram ke atas bumi dan wilayah Umat Islam di Palestin maka hukum jihad telah jatuh ke atas setiap bahu umat Islam Palestin dan yang berada di sekitar mereka seperti Mesir, Syiria dan Jordan serta Lubnan.

Pada tahun 1947, PBB memutuskan untuk membahagi daerah Palestin. Keputusan ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah dan banyak negara Muslim. Menurut PBB, kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Manakala Baitulmuqaddis, bandar suci Yahudi, Muslim dan Kristian, akan dijadikan bandar antarabangsa.

Israel yang ditubuhkan pada tanggal 14 Mei 1948 diserang oleh pakatan tentera Lubnan, Syria, Jordan, Mesir, Iraq dan negara Arab yang lain. Dalam peperangan ini, Israel berjaya mengalahkan tentera bersekutu Arab dan malah merampas lebih kurang 70% dari keluasan wilayah Palestin.

Umat Islam di Mesir, Jordan serta Syiria termasuk Lebenon (Lubnan) dibebani dengan hukum Jihad Individu (Fardhu Ain) bagi membebaskan Palestin daripada ancaman dan serangan Israel sejak sekian lama lagi malangnya disebabkan oleh perlembagaan Sekular yang didokongi oleh kerajaan terbabit telah menghalang mereka daripada mencampuri urusan Palestin disebabkan tidak mahu terlibat dengan sebarang sentimen agama sebaliknya hanya akan bertindak di atas semangat kebangsaan Arab atau kerana hak asasi manusia dan hanya mahu bertindak dengan menurut saluran yang disediakan barat iaitu melalui PBB atau sekadar memenuhi tanggungjawab yang termaktub di dalam ruang lingkup perjanjian kerajaan masing-masing.

Oleh yang demikian, umat Islam di Negara terbabit perlu melaksanakan kewajipan jihad mereka terhadap membebaskan Palestin dan sekiranya usaha ini tidak dapat dilaksanakan kerana mendapat sekatan daripada Pihak Pemerintah di Negara mereka maka menjadi kewajipan Fardhu Ain (Kewajipan individu) pula kepada setiap rakyat Negara terbabit yang muslim untuk mencarik dan mengoyakkan perlembagaan sekular mereka yang telah menghalang mereka daripada melaksanakan tuntutan jihad wajib bagi membebaskan Palestin daripada serangan Israel.
Hal ini di dasari kaedah di dalam Hukum Syarak iaitu : “Ma la Yatimmu wajib ila bihi Fahuwa Wajib.” (Apa yang diperlukan bagi menyempurnakan perkara yang wajib maka perkara itu juga menjadi wajib) – Lihat di dalam kitab Qawaid Fiqhiyah oleh Syeikh Dr Abd Karim Zaidan m/s 109.

Amaran terhadap mereka yang enggan melaksanakan kewajipan Jihad

Allah swt befirman yang bermaksud :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ
شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ
لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُون

"Kamu diwajibkan berperang, sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci; dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang Mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya." (Surah Al-Baqarah:216)

Di dalam sebuah hadis, baginda rasulullah pernah bersabda yang bermaksud : "Barangsiapa yang mati sedangkan dia tidak pernah berperang, dan tidak tergerak hatinya untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang kemunafikan." (Hadis riwayat Muslim, Abu Daud, Nasa’ie, Ahmad, Abu Awanah serta Baihaqi)

Sabda rasulullah juga : "Sesiapa yang tidak berperang atau tidak membantu persiapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, nescaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan (musibah)." Yazid bin Abdu Rabbih berkata : "Di dalam hadis yang diriwayatkan ada perkataan "sebelum hari qiamat." (Hadis riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi, Tabrani, Baihaqi dan Ibnu Asakir)

Hukum Jihad di Negara yang berjauhan dari Palestin

Tidak diragukan lagi bahawa kewajipan jihad ke atas Israel merupakan hukum wajib ke atas umat Islam yang tinggal berjauhan dengan Palestin namun tuntutan tersebut berbeza-beza ke atas setiap orang berdasarkan kemampuan dan situasi. Maka dalam hal ini berdasarkan kalam ulama’ adalah diyakini bahawa hukum berjihad ke atas Israel masih bertaraf Fardhu Kifayah (kewajipan secara umum) seperti halnya amalan wajib secara kifayah yang lain seperti Solat Jumaat, pengurusan Jenazah, solat berjemaah dan selainnya.

Namun begitu, sekiranya tiada sesiapa yang melaksanakan kewajipan ini daripada pihak yang dituntut maka seluruh umat Islam yang terlibat adalah berdosa. Maksudnya hukum berjihad melawan Israel ialah wajib ke atas seluruh umat Islam di Malaysia secara Fardhu Kifayah dan sekiranya tiada sesiapa pun daripada umat Islam di Malaysia yang melaksanakan kewajipan ini dengan mengirim bantuan baik berupa kewangan, senjata dan tentera (askar) ke Palestin bagi menahan dan membalas serangan Israel maka seluruh umat Islam di Malaysia dibebani dosa yang amat besar.

Menjadi tanggungjawab kerajaan dan pihak pemerintah untuk melaksanakan kewajipan Fardhu Kifayah ini untuk membebaskan umat Islam Malaysia daripada dibebani dosa dan oleh yang demikian sejumlah bantuan askar, kewangan dan senjata perlu dibekalkan sebagai bantuan kepada umat Islam di Palestin dan membantu mereka melawan dan menahan musuh Islam iaitu Israel.

Perlu diingat usaha ini hendaklah dilakukan atas nama agama (Melaksanakan Syiar Islam) dan bukannya di atas alasan dan niat lain seperti semangat kebangsaan, sokongan kemanusiaan dan alasan keamanan dan kononnya untuk menyokong usaha PBB dan sebagainya. Ini kerana tanpa dilakukan usaha pengiriman bantuan ini di atas nama agama Islam, tidak diniatkan atas nama jihad maka bantuan yang dihulurkan adalah sia-sia dan kewajipan Fardhu Kifayah masih tetap belum tertunai dan terangkat daripada bahu umat Islam di Malaysia.

Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud : “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu dilakukan dengan niat dan bagi setiap perkara itu dinilai berdasarkan apa yang diniatkan.” (Hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Sekali lagi perlu dinasihatkan kepada pihak pemerintah, sekiranya usaha jihad berupa Fardhu Kifayah ini tidak dapat tertegak di atas alasan kononnya terikat dengan perjanjian antarabangsa, enggan menonjolkan semangat keagamaan dan cuba mahu menyorokkan syiar Islam dengan alasan menghormati Semangat Sekular yang ditanamkan oleh Penjajah British ke dalam Negara ini maka menjadi kewajipan pula kepada rakyat yang beragama Islam di dalam Negara ini untuk menjatuhkan kerajaan, menggugurkan pemerintah dan melakukan perubahan ke atas kuasa politik di Negara ini bagi membolehkan sebuah pemerintahan baru ditegakkan yang akan dapat menunaikan kewajipan Fardhu Kifayah bagi mengirimkan bantuan dan usaha jihad ke atas umat Islam Palestin.
Sabda rasulullah yang bermaksud : “ Apabila aku memerintahkan kamu dengan sesuatu arahan maka hendaklah kamu mengusahakannya semampu kamu.” (hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim no. 3199)

Di bawah bendera apakah umat Islam dapat berjihad ?Jihad melibatkan darah dan nyawa, ianya bukanlah sesuatu yang dilakukan sekadar suka-suka sebaliknya memerlukan kepada perancangan rapi dan keyakinan yang tinggi. Justeru satu soalan penting amat perlu dikemukakan oleh setiap watak yang berakal sebelum memulakan pengembaraan ke medan jihad iaitu di bawah bendera apakah dia akan berjihad ?
Sejak zaman permulaan Islam lagi sejarah telah menunjukkan penyelewengan berlaku terhadap umat Islam disebabkan oleh sifat ghulu (melampau) dan mengakibatkan perpecahan yang banyak kerana wujud golongan yang menyimpang daripada ajaran Islam yang dibawa oleh rasulullah dan menjadikan jihad sebagai satu usaha mengembangkan fahaman sesat mereka.
Termasuk kumpulan yang sesat dan ditolak oleh ulama Islam ialah Syiah. Keterangan lanjut boleh didapatkan daripada buku Penjelasan Terhadap Fahaman Syiah yang diterbitkan oleh JAKIM pada tahun 1996. Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Malaysia mewartakan fahaman Syiah dikategorikan sebagai ajaran sesat pada 5 Mei 1996.
Jihad merupakan usaha menegakkan agama Islam dan membela umat Islam daripada kezaliman dan kewajipan jihad jelas termaktub di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh yang demikian, perjuangan jihad hanya diiktiraf sekiranya golongan yang melaksanakan jihad ini benar-benar melaksanakannya dengan berpandukan kepada kitab Al-Quran dan As-Sunnah.
Mereka yang berjihad dengan berpandukan kepada Al-Quran dan As-Sunnah dan mengibarkan bendera Al-Quran dan As-Sunnah inilah yang wajib disertai oleh umat Islam di dalam usaha menegakkan jihad ke atas Israel dan musuh Islam. Fahaman Ahlul Sunnah Wal Jamaah (disebut sebagai Sunni atau digelar sebagai nasibi oleh puak Syiah) sahaja yang beraqidah, bertauhid dan beriman dengan Allah dan rasul menurut kefahaman yang diajari oleh rasulullah dan para sahabatnya serta kefahaman ini terpelihara daripada penyelewengan dan kesesatan.
Berdalilkan kepada hadis riwayat Ibnu Umar yang bermaksud : “ Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan umatku pula akan berpecah kepada 73 golongan dan kesemuanya akan berada di dalam neraka kecuali satu golongan.” Maka para sahabat bertanya siapakah golongan yang terselamat wahai rasulullah ? Maka baginda menjawab : “Golongan yang aku dan sahabatku berada di dalamnya.” (Hadis Hasan, riwayat Tirmidzi no. 26, Hakim dan lain-lain)
Kita semua mengetahui para sahabat memahami agama dengan berpandukan kepada Al-Quran dan As-Sunnah serta mewariskan kefahaman agama mereka kepada anak-anak mereka (tabien) dan seterusnya para ulama’ Ahlul Sunnah Wal jamaah yang mewarisi kefahaman agama ini daripada rasul dan sahabat melalui rujukan Al-Quran dan As-Sunnah.
Firman Allah swt yang bermaksud :
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
"Oleh itu, janganlah engkau (wahai Muhammad) menurut kehendak orang kafir, dan berjuanglah dengan Al-Qur'an dengan perjuangan yang besar. " (Surah Al Furqaan:52)
Maka jawapan kepada persoalan di bawah bendera apakah sewajarnya umat Islam berjihad ialah satu sahaja iaitu bendera tauhid (Aqidah) yang menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai dasar dan rujukan.
Kesimpulannya setiap umat Islam wajib memastikan dia berada di bawah bendera yang benar dan didasari oleh Al-Quran dan As-sunnah serta menepati ajaran Islam yang dibawa oleh rasul dan sahabat. Nyawa dan darah tidak harus digadaikan hanya semata-mata semangat dan keyakinan buta tanpa ilmu sehingga tersesat ke dalam neraka akibat kejahilan dan godaan syaitan.
Wallahualam.

(Ditulis oleh Ustaz Emran Ahmad, Yeman) Reka-bentuk: HAR

TAMBAHAN OLEH HUSSAINI ABDUL RAHMAN

Allahummansuri Mujadihidin fil Falestine!!!

Oh umat islam di seluruh dunia….Sedarlah…Bangkitlah….Apakah kita hanya akan menyesali apabila palestine itu sudah lenyap di dunia ini. Adakah kita hanya akan berkata “dulu di tempat itu ialah palestine!!”.

Dapatkah kita melelapkan mata sebab terbayang kesusahan wanita dan anak-anak kecil yang hanya mengharap ihsan Illahi untuk memanjangkan nyawa mereka dan terus terselamat dari serangan ganas rejim Israel yang tiada perikemanusiaan itu.......

Apa peranan kita untuk membantu Palestin di atas kekejaman Israel?
Adakah kita hanya menghimpun rasa marah sahaja tanpa berbuat apa-apa apabila menonton TV atau membaca Utusan di pagi hari bila tibanya di pejabat? Apabila berlakunya tragedi dan episod serangan kejam pihak Zionis ini, banyak agensi kerjaaan dan NGo yang mengadakan pungutan derma. Adakah ini sahaja jalan atau cara yang boleh dan sentiasa dilakukan? Adakah cara ini akan berterusan sehingga bumi Palestin habis lanyak dirakus? Dimanakah Islam yang selama ini dipelihara dan persaudaraan dalam Islam sentiasa dilaung-laungkan?

Saya dpt ni melalui YM, kawan saya forwardkan:-UCAPAN PALESTIN KPD KITA:

"Jikalau kami gugur syahid, dan anda sekelian terus diam membisu dan hanya menyaksikan sahaja, nantikan hari pembalasan. Kami akan tuntut dari Allah di atas kelembapan anda semua. Kami tidak akan redha terhadap kelesuan dan kebisuan anda semua. Kami tidak akan memaafkannya..Doa orang yang teraniaya amat makbul "Ya Allah!! Sebagaimana Engkau Pernah menghantar burung-burung ababil menghancurkan tentera bergajah Musyrikin, maka kami memohon kepada mu Ya Allah....... . turunkan lah bantuan mu kali ini kepada orang orang Islam di GAZA, hancurkanlah rejim zionis..amin. .. Assalamu'alaikum, Please don't break or putuskan mail ni...keep on fowarding to ur friend insyallah, Allah aminkan doa kita

...Jom perbaiki diri dan memperbaiki orang lain...."

Amin

01 January, 2009

PENCEROBOHAN ISRAEL TERHADAP GHAZA

Palestin: Tanggungjawab Persaudaraan Dan Kemanusiaan
Disiarkan pada Jan 04, 2009 .

Pembunuhan ganas yang dilakukan oleh Yahudi Israel di Gaza, Palestin amat memilukan. Ia bukan sahaja mencabar perasaan persaudaraan Islam atau ukhuwwah islamiyyah kita, bahkan ia mencemar dan mengotori nilai kemanusiaan sejagat.

Ketika artikel ini ditulis sudah hampir 400 rakyat Gaza yang dibunuh kejam. Di mana Amerika yang kononnya berjuang memerangi pengganas? Pelindung Israel tersebut pantang ada kegiatan yang dianggap ganas yang dilakukan mereka yang mendakwa muslim terus sahaja dia akan besar-besarkan dan tindakan memeranginya secara membabi buta akan dilancarkannya.
Namun setiap kali Israel melakukan keganasan, dialah yang akan mempertahankannya. Tidak jika Amerika itu digelar syaitan. Bahkan ketika Gaza diserang ganas oleh Israel ketika ini, Bush mengistiharkan HAMAS itulah pengganas. Malanglah umat Islam jika masih ingin mengharapkan dari Amerika.

Demokrasi yang kononnya hendak dijuarai oleh Amerika di dunia Arab hanyalah permainan politik semata. Umpamanya Mesir, sekalipun tampuk kuasa yang ada pada hari ini meminggirkan demokrasi dan mengkhianatinya, namun tampuk tersebut terus dipertahankan oleh Amerika disebabkan berbagai kepentingannya.

Antaranya, Mesirlah pada hari ini yang menghalang kemasukan bantuan melalui sempadannya dengan Palestin. Sukar bagi syaitan berwatak malaikat. Saya tidak pasti dengan lobi Yahudi yang kuat dalam politik Amerika, apakah Obama akan mampu berbuat sesuatu?

Beberapa hari saya menyertai demontrasi membantah kekejaman Israel di hadapan Kedutaan Israel di London. Bersama saya Saudara Maszlee Malik yang sedang menyiapkan Ph.D di sini. Beliau banyak menulis dan membabitkan diri dalam isu-isu Palestin. Juga Saudara Wan Saiful Wan Jan, orang melayu yang aktif dalam politik British dan menjadi calon Parti Liberal Konservatif di UK ini.

Ramai yang menyertainya. Bukan sahaja orang Islam dan Arab, turut sertai juga mereka yang bukan muslim yang terdiri daripada ‘orang putih dan tidak putih’ UK ini. Dato’ Seri Shahidan Kassim yang sekali lagi datang ke London juga turut hadir.

Selama seminggu demonstasi berjalan di London. Bukan sahaja di hadapan Kedutaan Israel, orang ramai turut berdemontrasi di hadapan Kedutaan Mesir kerana negara tersebut menutup sempadannya untuk bekalan makanan dan ubatan disalurkan kepada rakyat Palestin.
Hari Sabtu (hari artikel ini ditulis) demontrasi besar di seluruh London akan diadakan. Bantahan dibuat untuk menyelamatkan rakyat Palestin. Ia melepasi batasan kepuakan atau kepartian yang sempit. Jika sesiapa yang hendak membantah Israel pun masih nak kempen parti, ternyata otaknya sama dengan Israel.

Demonstrasi sebegini, mempunyai peranannya yang tersendiri. Saya juga mengharapkan umat Islam dan masyarakat dunia mengadakannya. Ya, bagi umat Islam sepatutnya tugasan kita lebih besar daripada sekadar tunjuk perasaan. Kita diwajibkan membantu saudara seislam kita yang ditindas atau dikejami dengan harta dan nyawa kita.

Firman Allah: (maksudnya)

“Dan apakah yang menghalang kamu (maka kamu) tidak mahu berperang pada jalan Allah dan (untuk menyelamatkan) orang-orang yang tertindas yang terdiri daripada kaum lelaki, perempuan dan kanak-kanak, iaitu mereka yang selalu (berdoa dengan) berkata: “Wahai Tuhan kami! keluarkanlah kami dari negeri ini, yang penduduknya zalim, dan jadikanlah bagi kami daripada pihakMu seorang pemimpin yang mengawal (keselamatan kami), dan jadikanlah bagi kami dari pihakMu seorang pemimpin yang membela kami (dari ancaman musuh). Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah; dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan taghut (pelampau). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut syaitan itu, kerana sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah”. (Surah al-Nisa, ayat 75-76).

Berdasarkan ini, kata al-Imam al-Jasas (wafat 370H):

“Adalah sesuatu yang diketahui umum bahawa telah menjadi iktikad seluruh kaum muslimin; apabila penduduk sesuatu negeri (kaum muslimin) dalam ketakutan dari serangan musuh, dan mereka tidak mampu menghadapinya merasa terancam negeri, nyawa dan kaum mereka, maka ketika itu wajib ke atas seluruh umat untuk keluar mempertahankan kaum muslimin dari serangan musuh. Ini adalah perkara yang tiada khilaf lagi di kalangan umat. Tiada sesiapa pun yang menyatakan harus dibiarkan ditumpahkan darah kaum muslimin” (Abu Bakr al-Jasas, Ahkam al-Quran, 4/312, Beirut: Dar Ihya al-Turath al-`Arabi).

Namun atas kekangan keadaan yang ada. Ramai para pemimpin umat Islam yang tunduk kepada kehendak Amerika, lalu mereka menjadi pelindung secara langsung atau tidak langsung kepada Israel. Lihat sahaja Mesir yang sanggup menutup sempadannya sehingga bantuan makanan dan ubatan tidak dapat sampai kepada rakyat Palestin, sehingga rakyat Palestin tidak dapat melepaskan diri kekejaman Israel.

Kita umat Islam menjadi umat yang tidak terdaya. Bukan sahaja bertindak, bahkan bersuara pun ramai yang takut. Tidak ramai pemimpin seperti Tun Mahathir Mohamad yang lantang dan berani untuk mengkritik dan berusaha membantah Amerika dan Israel. Ramai yang lain bergantung rahmat kepada Amerika. Bahkan bukan sedikit yang sedang ‘mengidam kerusi kuasa’ bertawakal harap dari Amerika.

Maka, di saat ini, sekurang-kurangnya demontrasi, atau apa sahaja bantahan yang tidak bercanggahan dengan Islam hendaklah dilakukan oleh umat Islam yang tidak berkemampuan. Demikian juga bantuan kewangan. Di Malaysia, sepatutnya mereka yang memegang tampuk-tampuk pentadbiran agama, sama ada yang berada di atas kerusi politik, atau istana perlu menjadi kelompok yang paling lantang membantah dan menghulurkan bantuan.
Saya terharu ketika berjumpa dengan sekumpulan wanita British yang tidak beragama Islam, mengikat serban Palestin di tengkok mereka dan memberitahu kami mereka akan mengambil cuti seminggu untuk menyertai bantahan terhadap Israel. Mereka mengedarkan risalah tentang kekejaman Israel.

Malanglah, jika yang mereka yang seperti ini membantah Israel, tetapi golongan yang diberikan amanah menjaga agama tenggelam dalam keempukan takhta dan membisu seribu bahasa. Di mana pula Majlis Fatwa Kebangsaan ketika ini? Tidak adakah fatwa tentang apakah kewajiban umat Islam dalam isu Palestin? Setelah berletihan dengan isu yoga dan pengkid, tidakkah mahu difikirkan isu Palestin pula?

Jika tidak, malanglah bagi umat Islam yang terdedah kepada dunia berita dan maklumat, tiba-tiba tidak mengambil endah tentang apa yang berlaku di Palestin dan tanggungjawab muslim membela saudara-mara kita kaum muslimin. Sabda Nabi s.a.w:

“Bandingan orang-orang mukmin dalam kasih-sayang, kesian dan simpati sama seperti satu jasad. Apabila satu anggota merasa sakit, maka seluruh angota lain turut berjaga malam dan demam” (Riwayat Muslim)

Islam bersikap adil. Islam tidak pernah menyatakan setiap mereka yang tidak menganut Islam itu adalah musuh Islam. Demonstrasi di seluruh dunia pada hari ini turut dilakukan oleh mereka yang bukan Islam. Islam hanya bermusuh dengan mereka yang melancarkan permusuhan dan kezaliman kepada umat Islam. Samada permusuhan itu atas kebencian kepada agama ini, atau atas sikap yang ingin menzalimi orang lain.

Kemudian, Islam tidak menerima dan membantah kezaliman di mana sahaja ia dilakukan. Samada ke atas muslim atau bukan muslim, samada kepada insan atau binatang dan alam. Kita membantah kekejaman ke atas saudara seakidah kita di Palestin atas nama Islam dan kemanusiaan. Orang lain membantah atas dasar kemanusiaan.

Jika mereka yang bukan Islam dizalimi, kita tetap akan membantah atas dasar Islam dan kemanusiaan. Ini kerana prinsip Islam merangkumi prinsip kemanusiaan sejagat. Namun jika ada yang langsung tidak membantah, maka dia tiada prinsip Islam dan prinsip kemanusiaan.

Dr Mohd Asri Zainal Abidin .Petikan dari Minda Tajdid.