"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

02 August, 2011


PRIORITAS PERJUANGAN PEMIKIRAN

Yang patut juga kita beri perhatian dalam usaha memperbaiki masyarakat ialah mendahulukan segala perkara yang berkaitan dengan pelurusan pemikiran, cara pandang, dan cara bertindak mereka. Tidak diragukan lagi bahawa kita memerlukan suatu landasan yang sangat kuat untuk melakukan perbaikan di dalam masyarakat. Karena tidak boleh masuk akal, bahawa amal perbuatan dapat meniti jalan yang benar, kalau pemikirannya tidak lurus. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:

"Bilakah bayangan akan lurus kalau tongkatnya sendiri bengkok?"

Oleh sebab itu, barangsiapa yang pandangannya tidak baik terhadap suatu perkara, maka perilakunya yang berkaitan dengan perkara itu juga tidak akan baik. Karena sesungguhnya perilaku itu sangat dipengaruhi oleh pandangannya, baik ataupun buruk.

Atas dasar itu, pertarungan pemikiran --yakni pelurusan pemikiran yang menyimpang, dan konsep-konsep yang tidak benar-- harus diberi prioritas dan didahulukan atas perkara yang lain. Hal ini digolongkan sebagai 'perang besar' --dengan al-Qur'an sebagai senjatanya-- sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat al-Furqan; dan juga tergolong sebagai perang dengan lidah dengan memberikan penjelasan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw, "Perangilah orang-orang musyrik dengan harta benda, jiwa, dan lidah kalian. "

PERJUANGAN PEMIKIRAN DI DALAM PELATARAN ISLAM

Ada dua jenis medan pertarungan dalam pemikiran:

Pertama, pertarungan di luar Islam, melawan atheisme,orang-orang Nasrani, dan orang-orang orientalis yang selalu memerangi Islam, dari segi aqidah, syariah, warisan pemikiran,dan budaya. Mereka senantiasa memerangi kebangkitan apapun yang didasarkan pada Islam.

Kedua, pertarungan di dalam pelataran Islam, untuk membetulkan arah perbuatan yang patut dilakukan dalam Islam. Mengarahkan perjalanan hidupnya, dan meluruskan gerakannya, sehingga perbuatan tersebut dapat meniti jalan yang benar untuk menuju tujuan yang benar pula. Kami akan mempersingkat perbincangan tentang hal itu, karena sesungguhnya perbaikan secara internal merupakan dasar dan landasan yang harus kita beri prioritas.

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas, 3: 124, 153; Abu Dawud (2504); Nasai, 6: 7; Darimi. 2: 213; Ibn Hibban, 11: 4708; Hakim, 2: 81; dan di-shahih-kan olehnya sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Muslim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Tidak diragukan lagi bahawa kita sekarang ini menghadapi berbagai arus pemikiran yang tidak benar:

A. Arus Pemikiran Khurafat:

1. Khurafat dalam aqidah;

2. bid'ah dalam ibadah;

3. Pemikiran yang stagnan;

4. Taqlid dalam fiqh;

5. Perilaku yang negatif; dan

6. Permainan yang tidak benar dalam politik.

B. Arus Pemikiran Literal

Yakni arus pemikiran yang literal. Arus pemikiran ini, walaupun keras dalam perkara agama dan pembelaannya, memiliki sifat-sifat yang menjadi ciri khas penganutnya; seperti:

1. Kontroversialisme dalam Aqidah

2. Formalisme dalam ibadah

3. Zahiriyah dalam fiqh

4. Parsialisme dalam memberikan perhatian

5. Kering dalam ruh

6. Kasar dalam melakukan da'wah dan

7. Menyempit diri dalam perselisihan pendapat

C. Arus Pemikiran yang Reaktif dan Keras

Ada lagi aliran yang menolak masyarakat dengan semua institusinya. Walaupun pengikut aliran ini memiliki kelebihan dalam hal semangat dan keikhlasannya, tetapi ada sifat-sifat lain yang dimiliki olehnya; antara lain:

1. Keras dan kaku dalam menjalankan ajaran agama;

2. Membanggakan diri sehingga merasa superior dan melecehkan masyarakat;

3. Memiliki wawasan yang sempit dalam memahami agama, kenyataan hidup, suMah
kauniyah, dan sunnah kemasyarakatan;

4. Tergesa-gesa mengambil tindakan sebelum waktunya;

5. Cepat mengkafirkan dan tidak hati-hati;

6. Mempergunakan kekuatan untuk mewujudkan cita-citanya; dan

7. Berprasangka buruk kepada selain kelompoknya

D. Arus pemikiran yang moderate

Akan tetapi, ada pula arus pemikiran yang moderat, yang didasarkan pada keseimbangan dalam memahami agama, kehidupan, dan perjuangan untuk memenangkan agama. Arus pemikiran ini juga memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari arus pemikiran lainnya; antara lain penekanannya terhadap prinsip-prinsip berikut ini:

1. Memahami ajaran agama dengan pemahaman yang menyeluruh, seimbang dan mendalam

2. Memahami kehidupan nyata tanpa meremehkan atau takut kepadanya. Iaitu kehidupan nyata kaum Muslimin dan kehidupan nyata musuh-musuh mereka.

3. Memahami sunnatullah dan hukum-hukum-Nya yang tetap dan tidak berubah-ubah, khususnya hukum yang berkaitan dengan masyarakat manusia.

4. Memahami tujuan syariah dengan amalan lahiriah yang tidak stagnan

5. Memahami masaalah prioritas yang berkaitan dengan fiqh pertimbangan

6. Memahami perselisihan pendapat dan tata caranya, serta menghadapi dengan sifat yang diajarkan oleh Islam (berkerja sama dalam masalah yang disepakati dan memberikan toleransi kepada orang yang berselisih pendapat dengannya).

7. Mempertimbangkan antara perkara-perkara syariah yang tetap dengan perubahan zaman

8. Menggabungkan antara pendapat salaf dan khalaf (antara pendapat yang orsinil dan pendapat yang modern).

9. Percaya kepada adanya perubahan pemikiran, kejiwaan dan perilaku yang didasarkan kepada perubahan budaya manusia

10. Mengemukakan Islam sebagai projek peradaban yang sempurna, untuk membangkitkan umat dan menyelamatkan manusia dari filsafat materialisme modern

11. Mengambil jalan yang paling mudah dalam memberikan fatwa dan memberikan kabar gembira dalam melakukan da'wah

12. Memunculkan nilai-nilai sosial dan politik dalam Islam seperti - kebebasan, kehormatan, musyawarah, keadilan sosial dan menghormati hak asasi manusia

13. Mau berdialog dengan orang lain dengan cara yang baik iaitu dengan para penentang dari orang-orang bukan Islam atau orang Islam yang inferior pemikiran dan keruhanian; dan

14. Mempergunakan jihad sebagai jalan untuk memperthanan kehormatan kaum Muslimin dan negeri mereka

Itulah arus pemikiran yang harus kita percayai dan kita anjurkan, serta kita anggap sebagai ungkapan hakiki tentang Islam, sebagaimana diturunkan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya, dan yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw dalam sunnah dan sirah-nya; serta seperti apa yang dipahami dan diterapkan oleh para sahabat dan khulafa' rasyidin serta yang dipahami oleh para tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik; sehingga mereka menjadi abad yang terbaik dalam perjalanan hidup umat ini.

TUGAS PENTING ARUS PEMIKIRAN MODERATE

Tidak diragukan lagi bahwa arus pemikiran di atas menjadi tumpuan harapan bagi hari esok dan masa depan umat. Kita harus berusaha keras untuk menganjurkan orang berpikiran seperti itu; mendidik para pendukungnya; memberikan jawaban yang memuaskan terhadap musuhnya; melakukan dialog dengan para penentangnya.

Di antara perkara yang kita ketahui bersama sekarang ini dengan bukti-bukti yang cukup memadai ialah bahwasanya kekuatan-kekuatan yang menentang --baik yang ada di dalam dan di luar-- lebih takut terhadap arus pemikiran seperti ini daripada yang lainnya. Bahkan kekuatan itu cenderung lebih membenci dan memusuhinya daripada arus-arus pemikiran lainnya.

Dahulu musuh-musuh Islam mewaspadai arus pemikiran yang keras dan kaku, namun kini telah muncul ancaman baru, sehingga mereka berkata, "Hati-hati terhadap Islam yang moderat. Ia lebih berbahaya daripada yang lainnya. Arus-arus pemikiran yang lain umurnya pendek dan tidak dapat hidup lama. Adapun arus pemikiran Islam yang moderat ini terus-menerus berlangsung dalam tempo yang cukup lama. Kemoderatan arus ini --menurut dugaan mereka-- tidak dapat dianggap aman. Ia mulai bergerak dengan moderat tetapi kemudian berkembang menjadi ekstrem, karena sesungguhnya ekstremitas tetap tersimpan dalam Islam, sebagaimana yang mereka katakan.

Dari sini musuh-musuh Islam mengkhawatirkan bahaya Islam yang terus merangkak menuju mereka, yang mereka namakan sebagai 'bahaya hijau,' sekaligus mereka jadikan sebagai musuh baru, sebagai ganti 'bahaya merah' yang telah lenyap bersamaan dengan lenyapnya komunisme dari daratan Eropa. Akan tetapi musuh-musuh Islam yang betul-betul sadar, percaya bahwa bahaya Islam hanyalah khayalan belaka dan bukan kenyataan.

Arus pemikiran yang moderat ini mesti menghadapi orang-orang seperti itu dan menyingkapkan kepalsuan mereka, serta mau melakukan dialog dengan orang-orang yang moderat dari kalangan mereka.

Di samping itu, arus pemikiran ini selayaknya juga menghadapi anak-anak mereka sendiri dan para mahasiswa yang ada di dalam negeri Islam, dan juga orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam tetapi mereka memusuhi proyek peradaban Islam dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Mereka berdiri pada barisan musuh umat dan agamanya. Mereka adalah orang yang disifatkan oleh Rasulullah saw yang mulia dalam hadits Hudzaifah yang disepakati ke-shahih-annya bahwa mereka adalah:

"Para penganjur kepada pintu-pintu neraka Jahanam. Barangsiapa menyambut ajakan mereka, mereka akan dilemparkan ke dalamnya." Kemudian para sahabatberkata, "Tunjukkan sifat-sifat mereka kepada kanu wahai Rasulullah." Beliau kemudian bersabda, "Mereka berkulit seperti kita, dan berbicara dengan bahasa kita."[6]

Oleh sebab itu, adalah penting bagi kita untuk memerangi orang- orang yang merusak pemikiran umat, menyesatkan mereka dari hakikat dan identitas yang asli (fitrah Islam). Mereka meletakkan racun berbisa dalam madu yang manis, dan dalam lemak yang lezat; berupa bahan bacaan (majalah, tabloid dsb.), atau audio-visual (berupa musik dan tontonan-tontonan yang menjijikkan). Media-media seperti itu menghancurkan moral anak-anak kita, sebagaimana penyakit AIDS yang begitu dahsyat membunuh manusia.

Sesungguhnya saudara-saudara kita yang ter-Barat-kan (Westernized) membawa pemikiran para penjajah, setelah para penjajah itu sendiri mencabut tongkatnya dan meninggalkan tanah air kita. Merekalah yang membawa kembali konsep-konsep Orientalis dan Salibis, yang kebanyakan tidak bekerja dengan tulus untuk kemajuan peradaban kita pada hari ini. Kalaupun ada yang betul-betul tulus hatinya, mereka tidak mempunyai perangkat yang baik untuk memahami peradaban kita, sumber-sumber dan warisan yang diberikan olehnya. Perangkat yang paling penting adalah bahasa dan cita rasa terhadap bahasa tersebut.

Pertarungan kita yang hakiki adalah pertarungan kita melawan "para ekstrimis" yang sebenarnya. Mereka terdiri atas para pengikut sekularisme dan sisa-sisa Marxisme. Pada hari ini mereka menggunakan baju liberalisme Barat, yang mempertajam senjata pena mereka untuk memerangi Kebangkitan Islam, dan kebangkitan barunya; mengacaukan da'wahnya; menghalangi para dainya; dan menciptakan istilah-istilah baru untuk menjauhkan umat dari agamanya (Islam); seperti: Islam politik, atau fundamentalisme. Mereka jugamenciptakan perpecahan dan pertempuran berdarah antara rakyat dan pemerintahan Islam yang sedang berkuasa, untuk melemahkan kekuatan negara. Pertempuran itu tidak pernah berhenti, karena bila satu pertempuran selesai, maka muncul pertempuran lainnya dengan bentuk yang baru dan lebih dahsyat.

Sesungguhnya usaha untuk mengalihkan pertarungan dari jalur itu, dan upaya untuk menciptakan musuh-musuh yang berasal dari kalangan aktivis Islam itu sendiri, yang berselisih pendapat dengan sebagian orang dalam masalah-masalah cabang di dalam fiqh, ataupun cabang di dalam aqidah, ataupun dalam memberikan prioritas amalan, atau dalam masalah-masalah kecil lainnya, merupakan satu kelalaian besar akan hakikat musuh yang mengintai dari semua arah. Musuh-musuh ini menginginkan agar umat Islam saling membunuh antara satu bagian dengan bahagian yang lainnya. Mereka hanya ingin menonton pertarungan itu dari jauh, kemudian di akhir pertarungan mereka memberikan pukulan yang mematikan terhadap semua kelompok yang sedang bertarung itu. Kalau ada di antara para da'i Muslim yang melakukan hal itu, maka ini adalah musibah yang sangat besar. Karena sesungguhnya ketidaktahuan terhadap masalah seperti itu dianggap sangat membahayakan. Dan siapa yang melakukannya padahal dia mengetahui masalah yang sebenarnya, sungguh merupakan musibah yang lebih besar, yang sudah barang tentu bahayanya juga jauh lebih besar. Sebab, ia dapat dianggap sebagai satu bentuk pengkhianatan terhadap Islam, umat, dan kebangkitan.

Salah seorang penyair berkata,

"Kalau kamu tidak mengetahui bahwa kamu sedang diadu domba maka itu adalah suatu musibah. Tetapi bila kamu mengetahuinya, maka musibahnya lebih dahsyat. "

Saya yakin bahwa arus pemikiran moderat ini mempunyai tugas besar yang harus diusahakan dengan serius. Tugas itu mesti dilakukan dengan kejujuran dan keikhlasan untuk menyatukan barisan kaum Muslimin --barisan orang-orang yang bekerja untuk Islam-- di atas landasan yang tidak mengandung pertentangan, atau di atas dasar rukun aqidah yang enam: iman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdirnya. Selain didasarkan kepada rukun amalan yang lima: dua kalimah syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Rumah Allah. Serta didasarkan kepada dasar-dasar sifat dan perilaku yang baik, serta menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan yang diharamkan, khususnya dosa-dosa besar.

Sebenarnya kita dapat melakukan pertemuan yang didasarkan kepada landasan-landasan utama tersebut, dan tidak mengapa bagi kita untuk berselisih pendapat dalam masalah-masalah juz'iyyat dan kecil. Kita boleh berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu'iyah, berbeza pendirian, dan berbeda pendapat dalam mengambil kesimpulan hukum melalui ijtihad. Perbezaan seperti itu diperlukan dalam menjalankan agama, dan sudah menjadi tabiat manusia biasa, serta sifat alam semesta dan kehidupan ini, sebagaimana yang telah saya paparkan secara terperinci dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-lkhtilaf al-Masyru' wa al-Tafarruq al-Madzmum.

Saya telah menyebutkan pada berbagai buku yang saya tulis bahwasanya boleh saja jumlah jamaah para aktivis Islam menjadi banyak, asal jumlah yang banyak itu mempunyai spesialisasi
masing-masing, dan bukan jumlah yang banyak tetapi saling bertentangan dan bermusuhan satu sama lain. Karena sesungguhnya pertentangan dan permusuhan akan menyebabkan kehancuran.

Kita harus berusaha dengan gigih untuk menyatukan para aktivis yang berkhidmat untuk Islam, menyokong da'wahnya, menegakkan syariahnya, dan menyatukan umatnya. Usaha gigih dalam bentuk pemikiran dan tindakan praktis untuk mendekatkan jurang pemisah, menanamkan kepercayaan, menanamkan suasana toleran dan prasangka baik, menjernihkan jiwa dari perasaan ujub, tertipu, dan menuduh serta menghina orang lain.

"Seseorang telah dianggap berbuat jahatr apabila dia telah melakuan penghinaan terhadap saudaranya yang Muslim."[7]

Menurut pandangan saya, pekerjaan tersebut tergolong prioritas yang sangat penting dan harus didahulukan di lapangan Islam pada hari ini. Jika para aktivis Islam tidak menyadari adanya perpecahan yang sedang mereka jalani, maka seluruh umat Islam akan dilindas. Mereka akan dimangsa oleh taring dan kuku tajam musuh Islam dan umat Islam. Arus pemikiran akan dimatikan demi arus pemikiran yang lain. Satu kelompok akan dibunuh menyusul kelompok yang lain sampai semuanya dapat dimusnahkan.

Apabila kita pada hari ini memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai kekuatan umat kita yang besar, dari satu benua ke benua yang lain, maka hendaknya kita berjerih payah –paling tidak-- untuk menyatukan kekuatan besar yang terpisah-pisah itu agar dapat menyongsong Kebangkitan Islam. Kebangkitan yang dapat diajak untuk berdialog dan saling memahami, iaitu dengan menghilangkan ganjalan-ganjalan dan ektremisme, mendekatkan konsep-konsep berlainan, mengatur langkah, menghadapi berbagai masaalah perjalanan hidup umat dalam satu barisan, bekerja sama, dan memberikan toleransi pada perbedaan pendapat. Usaha saling memahami, bekerja sama dan menyatukan pandangan merupakan satu kewajiban agama, dan keperluan hidup yang sangat mendesak. Jika kita tidak dapat disatukan oleh satu pemikiran, maka hendaknya kita dapat disatukan oleh pelbagai bencana yang mengancam kita; sebagaimana dikatakan oleh Syauqi.

"Kalau jenis diri kita ini wahai Ibn Talh memisahkan kita, maka sesungguhnya pelbagai musibah yangmengancam seharusnya dapat menyatukan barisan kita."

PENERAPAN HUKUM SYARIAH ATAUKAH PEMBINAAN DAN INFORMASI

Terjadi suatu perdebatan di sini bahwasanya kebanyakan orang-orang yang bekerja di lapangan Islam --khususnya orang-orang yang sangat ambisius- memberikan perhatian yang sangat besar kepada persoalan yang mereka sebut "penerapan syariah Islam". Mereka hanya memberikan perhatian kepada satu segi saja, yaitu penerapan hukum Islam, terutama hukum hudud, qishas, dan ta'zir.

Sesungguhnya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pekerjaan tersebut merupakan salah satu bahagian dari Islam, yang tidak boleh kita lalaikan, atau kita berpaling darinya. [8]

Akan tetapi kalau kita sangat berlebihan memberikan perhatian kepadanya dan membicarakannya, serta menganggapnya sebagai masalah yang utama dan puncak tujuan kita, maka sesungguhnya hal ini akan membawa kesan yang buruk terhadap pemikiran Islam, dan amal Islami, atau kesan yang tidak baik dalam pemikiran masyarakat awam. Keadaan seperti ini dapat dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, yang dapat membahayakan syariah dan da'wahnya. Saya selalu mengatakan, "Sesungguhnya hukum-hukum saja tidak akan dapat menciptakan masyarakat, dan tidak dapat membangun umat. Sesungguhnya yang dapat membentuk masyarakat dan membangun umat adalah pendidikan dan pengajaran, kemudian hukum-hukum tersebut memberikan perlindungan dan perisai kepadanya."

Oleh sebab itu, kita mesti memberikan perhatian terhadap persoalan yang hakiki ini dari segi pemikiran dan tindakan. Kita harus membuat rencana pengembangan dan rancangan yang sesuai untuk mempersiapkan "Pendidikan Islam yang Sempurna dan Modern" yang terus mengikuti perkembangan anak-anak Muslim sejak dari buaian, hingga mereka keluar dari universitas, dengan mempergunakan metode yang sesuai, sistem yang menarik, sarana audio visual, teknnologi canggih, yang dapat mewujudkan pentingnya agama bagi kehidupan, dan menegaskan kesempurnaan Islam, keadilan hukum-hukumnya, kemukjizatan kitab sucinya, keagungan Rasul, keseimbangan peradaban, dan kekekalan umatnya.

Pendidikan itu tidak harus dilakukan dalam pelajaran agama atau pendidikan Islam saja. Tetapi dimasukkan dalam setiap mata pelajaran, bahan-bahan kajian ilmiah dan sastra. Pendidikan itu dimasukkan dalam mata pelajaran dan ilmu-ilmu sosial, bahasa dan sastra, dan juga dimasukkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Suasana di sekolah, tempat belajar harus diusahakan yang Islami agar dapat membantu menumbuhkan generasi Muslim yang percaya kepada Allah, bangga terhadap agama dan umatnya. Generasi yang tumbuh dengan sempurna dengan ruh, akal, tubuh dan perasaannya, ikhlas kepada tuhannya, berkhidmat kepada negaranya, toleran terhadap orang lain, dan melakukan kebaikan untuk seluruh umat manusia.

Kita harus menghadapi pemikiran fiIsafat, metodologi materialisme dan komunisme, yang kosong dari ruh agama, dan bertolak belakang dengan filsafat Islam tentang pandangannya terhadap Allah dan manusia, serta tentang hidup dan alam semesta, dan tentang agama serta dunia.

Di samping itu kita juga mesti membuat penelitian dan pengembangan dalam bidang lainnya, misalnya dalam bidang informasi dan kebudayaan, yang memiliki pengaruh dan kesan yang luar biasa terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Perangkat informasi yang membentuk pemikiran, kecenderungan, perasaan, trend pemikiran dan jiwa manusia.

Dalam keadaan apapun, bidang informasi ini tidak boleh kita berikan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Islam, sebagai rujukan yang paling tinggi dalam kehidupan kaum Muslimin dan jamaah Muslim, dalam bergaul, berpikir dan berperilaku.

Ada dua titik tolak yang saling menyempurnakan dalam tindakan yang dapat kita lakukan.

Pertama, mempersiapkan ahli informasi Muslim dalam semua bidang kehidupan, pada semua peringkatnya, yang mampu menampilkan bahwa Islam mempunyai berbagai kemampuan yang besar untuk setiap zaman.

Termasuk dalam kelompok ini adalah para seniman dari berbagai bidang; seniman dalam bidang nasyid, drama, dan lakon.

Atas dasar itu, kita memerlukan orang yang dapat menulis skenario, sutradara (pengarah), artis, juru kamera, dan juga eksekutifnya.

Perkara ini tidaklah mudah, karena berkaitan dengan hukum-hukum agama dan non-agama. Kita harus membuat target tertentu, prasarana yang jelas, pentahapan yang jelas, agar tidak mengalami kekurangan, dan pembinaan manusia dapat dilakukan dengan sempurna. [9]

Kedua, kita berusaha mempengaruhi para ahli informasi dan seniman di masa kini. Karena sesungguhnya di antara mereka ada orang-orang Islam yang salat dan mau berpuasa, tetapi mereka--karena latar belakang pendidikan dan budayanya—menyangka bahwa apa yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan Islam, dan tidak mendatangkan kemurkaan Allah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang telah mengetahuinya, akan tetapi mereka terpengaruh dengan gaya hidup orang di sekitarnya dan kebiasaan hidupnya sehari-hari.

Kita harus berusaha dengan keras untuk meraih mereka, sehingga mereka memahami ajaran agama mereka dan bertaubat kepada Thhan, dan akhirnya mereka bergabung dengan kafilah dai islam dan sifat-sifat utamanya.

Pada tahun-tahun terakhir ini saya telah menyaksikan beberapa orang seniman dan artis yang bertaubat, dan para bintang film wanita. Akan tetapi kebanyakan mereka telah menjauhkan diri dari seni dan para seniman, untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka lari membawa agamanya.

Sebetulnya, ada tindakan yang lebih baik yang dapat mereka lakukan. Ialah tetap berada dalam bidang sulit itu, dan mempergunakan perkataan Umar bin Khattab setelah dia masuk Islam sebagai pedoman mereka:

"Demi Allah, tidak ada suatu tempat yang dahulu saya pergunakan untuk menyebarkan kejahiliyahan kecuali tempat itu harus saya pergunakan juga untuk menyebarkanIslam."

Tindakan seperti ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan melakukan kerja sama berbagai pihak, dan menyingkirkan kerikil-berikil tajam di jalanan.

Catatan kaki:

6 Muttafaq 'Alaih dari Hudzaifah, al-Lu'lu' wal-Marjan.

7 Diriwayatkan okh Muslim dari Abu Hurairah r.a.

8 Lihat buku kami Malamih al-Mujtama' al-Muslim al-ladzi Nansyuduh, bab "at-Tasyri' wal-Qanun."

9 Lihat buku kami Malamih al-Mujtama' al-Muslim al-ladzi Nansyuduh, bab "al-Lahw wa al-Funun."

------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy

24 September, 2010

khutbah Iedul Fitri 1431h/2010m

Khutbah Idul Fitri 1431 H: Mewujudkan Hakikat Taqwa
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Ramadhan yang telah kita akhiri memberikan kebahagiaan tersendiri bagi kita, hal ini karena ibadah Ramadhan yang salah satunya adalah berpuasa memberikan nilai pembinaan yang sangat dalam, yakni mengokohkan dan memantapkan ketaqwaan kita kepada Allah swt, sesuatu yang amat kita dambakan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Agar pencapaian peningkatan taqwa dapat kita raih dan dapat kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi penting bagi kita memahami hakikat taqwa yang sesungguhnya.Kita mengutip ungkapan sahabat Nabi Muhammad saw yakni Ali bin Abi Thalib ra tentang taqwa, iaitu:
الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ
Taqwa ialah :Takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).
Dari ungkapan di atas, ada empat hakikat taqwa yang mesti ada pada diri kita masing-masing dan ini dapat menjadi kayu ukur keberhasilan ibadah Ramadhan kita.
Pertama, Takut Kepada Allah. Salah satu sikap yang mesti kita miliki adalah rasa takut kepada Allah swt. Takut kepada Allah bukanlah seperti kita takut kepada binatang buas yang menyebabkan kita hendak menjauhinya, tapi takut kepada Allah swt adalah takut kepada murka, siksa dan azab-Nya sehingga hal-hal yang boleh mendatangkan murka, siksa dan azab Allah swt hendaklah kita jauhi. Sedangkan Allah swt sendiri wajib kita dekati, inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah).
Karena itu, orang yang takut kepada Allah swt tidak akan melakukan penyimpangan dari segala ketentuan-Nya. Namun sebagai manusia biasa mungkin saja seseorang melakukan kesalahan, karenanya bila kesalahan dilakukan, dia segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada orang yang dia bersalah kepadanya, bahkan bila ada hak orang lain yang diambilnya, maka dia mau mengembalikannya. Yang lebih hebat lagi, bila kesalahan yang dilakukan ada jenis hukumannya, maka iapun bersedia dihukum bahkan meminta dihukum sehingga ia tidak menghindar dari hukuman. Allah swt berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS Ali Imran [3]:133).
Sebagai contoh, pada masa Rasul ada seorang wanita yang berzina dan ia amat menyesalinya, dari perzinahan itu ia hamil dan sesudah taubat iapun datang kepada Rasul untuk minta dihukum, namun Rasul tidak menghukumnya ketika itu karena kehamilan yang mesti dipelihara. Sesudah melahirkan dan menyusui anaknya, maka wanita itu dihukum sebagaimana hukuman untuk penzina iaitu direjam sampai mati yang menyebabkan kematiannya, Pada ketika Rasul menshalatkan jenazahnya, Umar bin Khattab mempersoalkannya karena ia wanita penzina, Rasulullah kemudian menyatakan:
لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Maksudnya :Ia telah bertaubat, suatu taubat yang seandainya dibagi pada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya masih cukup. Apakah ada orang yang lebih utama dari seorang yang telah menyerahkan dirinya kepada hukum Allah? (HR. Muslim).
Bagaimanakah pula seseorang yang melakukan perzinahan , apalagi kalau dia seorang yang berstatus isteri orang ,hukuman rejam sampai mati yang wajibkan dilaksana keatas orang tersebut.Apabila hukuman tersebut tidak dilaksanakan dan tidak mau bertaubat atau tidak sempat taubat terus meninggal dunia .sudah pasti azab allah sedang menunggu didalam kuburnya dan di akhirat kelak akan mendapat azab yang amat pedih.
Maka dengan ada nya Ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya mendidik kita untuk menjadi orang yang takut kepada Allah swt yang membuat kita akan selalu menyesuaikan diri dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya. Kalau kita ukur dari sisi ini, kenyataan menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang belum bertaqwa karena tidak ada rasa takutnya kepada Allah swt.
Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Hakikat taqwa yang Kedua kata Ali bin Abi Thalib adalah Beramal Berdasarkan Wahyu. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar dapat bertaqwa kepada-Nya. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu beramal atau melakukan sesuatu berdasarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt, termasuk wahyu adalah hadits atau sunnah Rasulullah saw karena ucapan dan perilaku Nabi memang didasari oleh wahyu. Dengan kata lain, seseorang disebut bertaqwa bila melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam konteks inilah, menjadi amat penting bagi kita untuk selalu mengkaji al-Quran dan al Hadits, sebab bagaimana mungkin kita akan beramal sesuai dengannya, bila memahaminya saja pun belum dan bagaimana pula kita boleh memahami bila membaca dan mengkajinya tidak.
Kita sememangnya di perintah untuk mencontohi Nabi dalam ibadat seperti shalat,puasa,haji dan sebagainya,tetapi , terkadang kita lupa , bukan hanya ibadat tersebut sahaja kita diwajibkan menurut ajaran Allah dan Nabi ,malah dalam menjalani kehidupan rumah tangga,menasihati anak-anak,cara berpakaian dan akhlak terhadap orang lain juga kita diperintah untuk mengikut ajaran allah dan rasul kerana di akhirat nanti ibu bapa akan diminta pertanggungjawab oleh Allah atas orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya seperti isteri-isteri dan anak-anaknya dan sesiapa saja yang menjadi tanggung jawabnya .
Cuba kita kaji dalam kehidupan para sahabat, mereka selalu berusaha untuk beramal berdasarkan wahyu, karenanya mereka berusaha mengkajinya kepada Nabi dan para sahabat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang suka bertanya. Meskipun mereka suka melakukan sesuatu, tapi bila ternyata wahyu tidak membenarkan mereka melakukannya, maka merekapun berusaha untuk meninggalkannya.
Suatu ketika ada beberapa orang sahabat yang dahulunya beragama Yahudi, mereka ingin sekali dapat melaksanakan lagi ibadah pada hari Sabtu dan menjalankan kitab taurat, tapi turun firman Allah swt yang membuat mereka tidak jadi melakukannya, ayat itu adalah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨﴾
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqarah [2]:208).
Dalam ayat ini allah memerintahkan kita untuk jadi orang Islam seratus peratus bukan separuh-separuh sahaja .
Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Ketiga yang merupakan hakikat taqwa menurut Ali bin Abi Thalib ra yang patut kita hasilkan dari ibadah Ramadhan kita adalah Mempersiapkan Diri Untuk Akhirat. Mati merupakan sesuatu yang pasti terjadi pada setiap orang. Keyakinan kita menunjukkan bahwa mati bukanlah akhir dari segalanya, tapi mati justeru awal dari kehidupan baru, yakni kehidupan akhirat yang bahagia atau sebaliknya adalah sangat tergantung pada keimanan dan amal shaleh seseorang dalam kehidupan di dunia ini. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu mempersiapkan dirinya dalam kehidupan di dunia ini untuk kebahagiaan kehidupan di akhirat kelak.
Bila kita sudah menyedari kepastian adanya kematian, maka kita tidak akan mensia-siakan kehidupan di dunia yang tidak lama ini . Kita akan berusaha memperbaiki perjalanan hidup di dunia ini untuk melakukan sesuatu yang dapat memberikan nilai baik, sebagai apapun kita dan siapapun status kita dalam masyarakat Karena itu bila kita tidak baik dan orang mengkritik kita, hendaklah kita terima kritikan itu dengan senang hati.
Walau bagaimanapun ,ada dikalangan manusia yang tidak suka dikritik atas kesalahan yang dilakukannya ,malah sentiasa merasa diri mereka betul dan benar.ada yang tidak mahu mendengar teguran dari sesiapapun ,kerana merasa diri adalah terbaik dan paling benar .
Berlainan dengan orang-orang hebat dikalangan para salafussholeh dahulu,walaupun sebagai seorang khalifah seperti khalifah Umar bin Abdul Aziz salah satu contohnya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz telah menerima jabatan sebagai khalifah, dia merasa perlu beristirahat karena keadaan badannya yang sudah amat lelah dan mata yang sudah amat mengantuk, apalagi ia baru saja mengurus keluarganya yang meninggal yakni Khalifah Sulaiman. Baru saja dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan meletakkan kepalanya di atas bantal, tiba-tiba datang anaknya Abdul Malik lalu berkata: “Ayah, apa yang akan ayah lakukan sekarang?”.
“Aku ingin istirahat sejenak anakku”, jawab Umar.
“Apakah ayah akan beristirahat, padahal ayah belum mengembalikan harta rakyat yang dirampas secara zalim oleh orang tertentu kepada yang berhak?”.
Jawab Khalifah Umar “Aku akan lakukan semua itu nanti setelah zuhur, semalam aku tidak dapat tidur karena mengurus bapa saudaramu yg meninggal dunia”, jawab Umar.
Lalu anaknya berkata lagi “Ayah, siapa yang dapat memberi jaminan bahwa ayah akan tetap hidup sampai zuhur nanti?”. Kerana ajal bila-bila masa akan menemui ayahnda tanpa ada amarannya ,Tanya Abdul Malik lagi .
Mendengar pertanyaan anaknya itu, terbakar rasanya semangat Umar sehingga seperti hilang rasa mengantuk dan lelah yang dialaminya, lalu Umar berkata: “Hai anakku mendekatlah kepadaku”.
Setelah anaknya Abdul Malik mendekat, Umar mencium kening anaknya lalu berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku anak keturunan yang membantuku dalam agamaku”.
Saudara kaum muslimin yang berbahagia :
Apakah kita memiliki anak sepertimana Abdul Malik anak Khalifah Umar bin Abd Aziz ini yang ingin ayahnya selamat di akhirat kelak?alangkah ruginya orang yang memiliki anak yang langsung tidak memikirkan kebahagiaan ibu bapa nya diakhirat nanti ,anak sebegini merasa rugi apabila ibubapa mereka bersedekah dengan orang yang berhajat dan memerlukan.Yang lebih teruk lagi menghalangi ibu bapa untuk berbuat baik kepada orang lain, sedangkan anak-anak mereka berpesta dan membazir dengan harta benda peninggalan ibu bapa mereka ,tanpa memikirkan langsung nasib ibubapa mereka di akhirat kelak.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera bangkit dari tempat tidurnya dan iapun mengumumkan: “Barangsiapa yang hartanya telah diambil secara zalim, maka hendak mereka mengadu kepada khalifah”.
Kebaikan yang dilaksanakan waktu hidup yang digunakan membuat Khalifah Umar bin Abdul Aziz sampai kesulitan mencari org yg berhak dibantu karena tingkat kesejahteraan yang tingggi. Hendaklah kita akui banyak diantara kita yang merasa mati masih lama sehingga tidak mahu beramal shaleh, baik sebagai pribadi, keluarga, masyarakat maupun organisasi sosial dan politik, keluhan kita adalah kita sering beralasan tidak ada waktu, kekurangan waktu, atau sengaja menghindar untuk di jumpa orang yang memerlukan pertolongan,dengan berbagai-bagai alasan terkadang mereka-reka alasan yang bohong demi untuk tidak mau bertemu dengan orang yang tidak disukai atau untuk menghindar dari membantu kesusahan orang lain.karena itu Allah swt mengingatrkan kita semua:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴿١١٠﴾
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS Al Kahfi [18]:110).
Manakala seseorang sudah melakukan segala sesuatu sebagai bentuk persiapan untuk kehidupan sesudah kematian, maka orang seperti inilah yang disebut dengan orang yang cerdas dan cemerlang dunia dan akhirat meskipun ia bukan sarjana atau kaya atau berstatus tinggi dan elit .Karena itu, Rasulullah saw bersabda:
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Orang yang cerdas cemerlang dunia akhirat adalah orang yang menundukkan nafsunya dan beramal bagi kehidupan sesudah mati (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim).
Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt.
Hakikat taqwa yang Keempat menurut Ali bin Abi Thalib adalah Ridha Meskipun Sedikit. Setiap kita pasti ingin mendapat sesuatu khususnya harta dalam jumlah yang banyak sehingga dapat mencukupi diri dan keluarga serta dapat berbagi kepada orang lain. Namun keinginan tidak selalu sejalan dengan kenyataan, ada waktu dimana kita mendapatkan banyak, tapi pada saat lain kita mendapatkan sedikit, bahkan sangat sedikit dan tidak cukup. Orang yang bertaqwa selalu ridha dan menerima apa yang diperolehnya meskipun jumlahnya sedikit, inilah yang disebut dengan qana’ah, sedangkan kekurangan dari apa yang diharapkan dicari lagi dengan penuh kesungguhan dan cara yang halal. Rasuah dan Korupsi yang menjadi penyakit moden sekarang adalah karena tidak ada sikap ridha menerima yang menjadi haknya, akibatnya ia masih saja mengambil hak orang lain dan berterusan mengambil hak rakyat walaupun hartanya sudah menggunung tinggi bukan setakat mengkayakan dirinya sendiri malah mengkayakan kaum keluarganya hasil dari wang Negara dan rakyat ,jadilah yang kaya semakin kaya yang miskin semakin terhimpit oleh kemiskinan. Oleh itu Allah swt mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:
وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١٨٨﴾
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.(QS Al Baqarah [2]:188).
Cuba kita lihat betapa contoh daripada para sahabat Nabi s.a.w.yang sememang telah ditentukan oleh allah menjadi penghuni syurga .
Suatu ketika, Ali bin Abi Thalib baru pulang lambat dari biasanya. Isterinya, Fatimah putri Rasulullah menyambut kedatangan suaminya dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa wang lebih banyak karena keperluan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah, “Aku mohon maaf karena tidak membawa balik wang sesenpun.
Tidak nampak sedikitpun kekecewaan pada wajah Fatimah, bahkan ia tetap tersenyum dan dapat memaklumi keadaan suami yang dicintainya.
Ali amat terharu terhadap isterinya yang begitu tawakkal meskipun ia tidak dapat memasak malam itu karena memang tidak ada bahan makanan yang boleh dimasak.
Ketika waktu shalat tiba, seperti biasa Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama’ah. Sepulang dari shalat, seorang yang sudah tua menghentikan langkahnya menuju rumah. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali, anaknya Abu Thalib?”, tanya orang itu.
“Betul”, jawab Ali kehairanan .
Orang tua itu menyeluk sakunya seraya berkata, “Dulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah wang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.”
Dengan amat gembira Ali mengambil wang itu yang berjumlah 30 dinar. Sesampai di rumah, Ali kemukakan kepada isterinya rizki yang tidak terduga itu. Tentu saja Fatimah sangat gembira ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak runsing lagi memikirkan keperluan sehari-hari. Tanpa berpikir panjang, Ali langsung berangkat menuju ke pasar.
Ketika hampir tiba ke pasar, Ali melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepadaku, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”cuba kita lihat walaupun Ali seorang khalifah , beliau tidak mengambil kesempatan sebagai khalifah untuk meraut harta rakyat untuk memperkayakan dirinya,malah untuk makanan seharian pun beliau tidak memiliki apa-apa.
Beliau juga tidak berperasangka buruk terhadap peminta sedekah,berlainan dengan kita yang selalu berperasangka buruk terhadap peminta sedekah ,bukan setakat tidak mau memberi sedekah malah kita berbperasangka buruk dan berbohong terhadap peminta sedekah.Sedangkan Allah berfirman dalam surah addhuha :
وأما السائل فلا تنهر
Maksudnya : adapun orang yang meminta-minta jangan kamu caci dan maki mereka .
Tanpa berpikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh wangnya kepada orang itu dan Ali pulang dengan tangan kosong. Tentu saja melihat sang suami pulang tidak bawa apa-apa, Fatimah kehairanan. Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya dan ini justeru membuat Fatimah begitu terharu terhadap sang suami. Dengan diiringi senyum yang manis, Fatimah berkata: “Apa yang engkau lakukan juga akan aku lakukan seandainya aku yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya.”
Alangkah bahagianya seseorang suami memiliki isteri seperti Fatimah binti Rasulullah ini,beliau tidak mengeluh atas apa yang dilakukan oleh suaminya memberi kesemua wang kepada Faqir itu tadi.
Alangkah malangnya , sekiranya kita memiliki seorang isteri yang tamak dan kedekut,yang hanya memikirkan untuk dirinya sendiri sahaja tanpa menjadi dukungan kepada suami untuk berbuat baik bersedekah , malah melarang suami dari berbuat baik dengan alasan-alasan yang direka cipta dengan kebohongan.malah sanggup menggadaikan maruah diri demi kepuasan nafsu yang tidak kunjung puas .
Sidang Jemaah Iedul fitri yang berbahagia:
Sikap menerima membuat kita dapat bersyukur dan bersyukur membuat kita akan memperoleh rizki dalam jumlah yang lebih banyak, bahkan bila jumlahnya belum juga lebih banyak, rasa syukur membuat kita dapat merasakan sesuatu yang sedikit terasa seperti banyak sehingga yang merasakan manfaatnya tidak hanya kita dan keluarga tapi juga orang lain. Inilah diantara makna yang harus kita pelajari dari firman Allah swt:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim [14]:7).
Dari huraian di atas dapat kita simpulkan bahwa bertaqwa kepada Allah swt memerlukan kesungguhan sehingga kita dituntut untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Akhirnya marilah kita sudahi ibadah shalat EId kita dengan berdoa bersama-sama.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengاantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَرِّرَ الْمَسْجِدَ الأَقْصَى وَأَرْضَ فِلِسْطِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرَْإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي أَفْغَانِسْتَان، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كَشْمِيْرَ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الْعِرَاقِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الشِّيْشَانِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah dan menangkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di jalan-Mu di mana pun mereka berada. Tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin Palestin, bebaskan Masjid Aqsha dan tanah Palestin dari perompak Yahudi . Ya Allah, bantulah pula saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di Afghanistan, Kasymir, Irak, Chechnya, dan negeri-negeri kaum muslimin yang lain, wahai Penguasa alam semesta.
اَللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُوْدَ وَالْكَفَرَةَ وَالْمشْرِكِيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُبَدِّلُوْنَ دِيْنَكَ وَيُعَادُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ كَلِمَتَهُمْ وَأَدِرْ عَلَيْهِمْ دَائِرَةَ السَّوْءِ. اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ.
Ya Allah, hancurkanlah orang-orang Yahudi, kafir, musyrik, dan atheis yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mengganti agama-Mu, dan memerangi orang-orang yang beriman. Ya Allah, cerai-beraikan kesatuan mereka, porak-porandakan ideologi mereka, dan kepung mereka dengan keburukan. Ya Allah, turunkan azab-Mu kepada mereka, azab yang tidak akan ditarik dari orang-orang yang banyak berbuat dosa.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Akhirnya saya ucapkan selamat hari raya eidul fitri kepada jemaah shalat eid semua
تقبل الله منا ومنكم تقبل يا كريم , والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
sribahgia2010habeeb

10 July, 2010

'Fahaman Wahabi Berasaskan Pemikiran Ibnu Taimiyyah' Oleh: Ghafani Awang Teh (JAKIM)


Gerakan Wahabi diasaskan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi (1703 – 1791 M) lahir di Uyaynah utara Riyadh di daerah Nejad Arab Saudi. Bapanya adalah seorang qadhi di Nejad yang berpegang kepada akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah. Selain berguru dengan bapanya beliau juga berguru dengan ulama-ulama Ahlu Sunnah Wal-Jamaah di Mekah dan Madinah. Gurunya yang terkenal di Madinah ialah Syeikh Muhammad Hayat yang menulis kitab Al-Hashiyah ‘Ala Sahih al-Bukhari.



Imam Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan seorang ulama’ yang banyak dipengaruhi Mazhab Hanbali tetapi pegangan tauhidnya berasaskan fikrah Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim yang juga bermazhab Hanbali. Beliau tertarik dengan pemikiran dua pemikir dan cuba menghidupkan kemabli konsep pemikiran Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.



Ibnu Taimiyyah ( 1263 – 1328 M) adalah seorang pemikir besar umat Islam. Pemikiran Ibnu Taimiyyah menimbulkan bantahan beberapa ulama berfahaman akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah yang sedang menguasai pemikiran akidah pada masa itu sehingga ia di penjara, dilarang menulis dalam penjara dan akhirnya meninggal dunia dalam penjara di Damshik Syiria. Ibnu Qayyim (1292 – 1350 M) adalah juga murid kepada Ibnmu Taimiyyah.



Secara umumnya Syeikh Mohammad bin Abdul Wahab muncul ketika pengaruh Mazhab Hanbali sedang merosot dan umat Islam pada masa itu banyak melakukan pencemaran akidah seperti khurafat, bid’ah dan wakil gabenor Turki pula terlibat dengan rasuah. Beliau telah melancarkan reformasi dan pembaharuan di semenanjung Arab dalam usaha membersihkan mengembalikan umat Islam kepada ajaran sebenar al-Quran dan Hadis Sahih Rasulullah s.a.w. Usahanya mendapat sokongan beberapa pemimpin kabilah Arab di Nejad.



Berasaskan gerakan reformasi inilah maka ia beruasaha menghapuskan rasuah, segala macam bid’ah, khurafat dan pelbagai perbuatan yang membawa kepada syirik. Penegak-penegak fahaman Wahabi ini juga menamakan fahaman mereka sebagai kumpulan Salafi iaitu kumpulan yang tidak terikat dengan mana-mana mazhab seperti mana yang berlaku di zaman Rasulullah dan kepimpinan sahabat-sahabat selepasnya.



Bagaimana pun terdapat juga penganalisis politik Arab bahawa gerakan Wahabi ini lahir sebagai usaha untuk membebaskan bangsa Arab dari pemerintahan Kerajaan Uthmaniah Turki yang menguasai negara Arab pada masa itu. Muhammad bin Saud (pengasas pemerintah Kerajaan Arab Saudi sekarang) telah memimpin kabilah Arab dan mendapat sokongan British berjaya memerintah Arab Saudi. Muhammad bin Saud dan pengasas fahaman Wahabi itu telah bersatu dalam usaha mengukuhkan kepentingan masing-masing dan usaha mereka berjaya. Kerajaan Uthmaniah Turki gagal mengawal kebangkitan Muhammad bin Saud dan perkembangan gerakan Wahabi kerana sibuk memnperkukuhkan penyebaran Islam di Eropah.



Menurut sumber sejarah ulama Mekah dan Madinah pada awalnya menentang fahaman Wahabi di mana berlaku isu kafir mengkafir yang hebat di antara ulama Ahli Sunnah Wal-Jamaah dengan ulama Wahabi. Bagaimana pun gerakan Wahabi berjaya menawan dua tempat suci itu maka bermulalah fahaman itu bertapak kukuh.



Pada prinsipnya fahaman Wahabi ini membuat terjemahan serta tafsiran al-Quran dan hadis sebulat-bulatnya mengikut fahaman pemimpin mereka serta ditegaskan dengan pendirian keras pergerakan itu. Mereka juga dikatakan menolak fahaman 4 Mazhab utama serta pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah.



Menurut K.H Sirajudin Abbas seorang ulama besar Indonesia dalam buku 40 Soal-Jawab Agama menyatakan konsep moden fahaman Wahabi antaranya adalah seperti berikut:


. Dalam mempelajari ilmu Usuludin hendaklah berpegang kepada fahaman yang diasaskan oleh Ibnu Taimiyyah.

. Di dalam amalan fiqh pula tidak berpegang kepada mana-mana mazhab malah boleh menampal antara satu sama lain (Talfiq).

. Berpegang kepada sumber al-Quran dan hadis sahih sahaja tanpa berpegang kepada Ijmak dan Qias.

. Melarang keras umat Islam berdoa melalui tawassul (perantaraan).

. Melarang ziarah kubur walaupun maqam Rasulullah s.a.w. Kerajaan Arab Saudi membenarkan Jemaah Haji dan Umrah menziarah Maqam Rasulullah itu adalah atas dasar menziarahi Masjid Nabawi.

. Menghancurkan tugu-tugu peringatan kerana semua itu menjadikan umat Islam syirik.

. Melarang membaca qasidah dan berzanji yang memuji Rasulullah s.a.w. tahlil dan seumpamanya.

. Melarang umat Islam mengadakan sambutan hari-hari kebesaran Islam seperti Maulid Nabi, Isra’ Mikraj dan lain-lain.

Melarang umat Islam belajar sifat 20 dan seumpamanya.

. Fahaman Asa’ari iaitu fahaman Ahlu Sunnah Wal-Jamaah dibuang jauh-jauh.

. Imam dilarang membaca Bismillah pada permulaan Fatihah.

. Tidak boleh membaca wirid-wirid yang memuji Rasulullah.

. Tidak boleh melagu-lagukan lafaz al-Quran dan laungan azan tetapi boleh baca dengan lurus sahaja.

. Menghadakan majlis zikir secara berjemaah dilarang.

. Amalan tariqah dilarang sama sekali.

. Amalan berwirid selepas solat berjemaah dilarang keras.


Fahaman Wahabi menjadi pegangan Kerajaan Arab Saudi yang menguasai Masjidil Haram Mekah dam Masjid Nabawi Madinah. Berdasarkan penguasaan dua tempat suci ini maka fahaman Wahabi terus bertapak kukuh. Malah Kerajaan Arab Saudi menjadi negara Islam paling banyak menyumbangkan dana-dana untuk perkembangan dakwah dan syiar Islam di seluruh dunia.



Di negara kita Kerajaan Perlis Indera Kayangan satu-satunya negeri yang tidak berpegang kepada mana-mana mazhab. Mereka mendakwa berpegang kepada al-Quran dan hadis sahih sepenuhnya seperti mana yang diamalkan di Arab Saudi. Terdapat kalangan pelajar Malaysia yang belajar di Arab Saudi dan mahir dalam selok belok hukum tertarik dengan fahaman Wahabi dan mengembangkannya di Malaysia.



Penerapan fahaman Wahabi di kalangan umat Islam di negara ini yang sejak berkurun lama berakar umbi dengan Akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah telah menimbulkan salah faham di kalangan umat Islam. Manakala bagi orang awam yang kurang mahir dalam selok belok mazhab maka lebih baik bertaqlid dengan pegangan mazhab sedia ada.



Hakikatnya fahaman Wahabi tidak membawa pemikiran baru tentang akidah. Mereka hanya mengamalkan apa yang telah dikemukakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bentuk yang lebih keras berbanding apa yang diamalkan oleh Ibnu Taimiyyah sendiri. Perkembangan fahaman Wahabi dan penerapan mazhab lain dalam masyarakat Islam di negara ini tidak dapat dielakan kerana kesan pengglobalan ilmu di dunia hari ini.



Malah dalam penghayatan muamalah dan sisitem perbankan Islam di negara ini dan di dunia sekarang banyak menggunakan kaedah yang terdapat dalam Mazhab Hanafi.



Kesimpulannya dari segi tauhid fahaman Wahabi bukan ajaran baru dan juga tidak termasuk antara 73 cabang ajaran sesat seperti mana yang dijelaskan ulama berdasarkan huraian hadis penjelasan 73 ajaran sesat itu.


Tarikh : 23 Disember 2006
Sumber : Pengarah Bahagian ILIM
Editor : PRO JAKIM
Hits : 24629

02 April, 2010

Fardhu Kifayah dan Fardhu ain


PRIORITI ( KEUTAMAAN) FARDHU 'AIN ATAS FARDHU KIFAYAH

APA KATA AL ALLAMAH DR MOHD YUSUF AL QARADHAWI :


TIDAK diperselisihkan lagi bahwa perkara fardhu mesti didahulukan atas perkara yang hukumnya sunnah; tetapi perkara-perkara yang fardhu itu sendiri memiliki berbagai tingkatan.

Kita yakin betul bahwa fardhu ain harus didahulukan atas fardhu kifayah. Karena fardhu kifayah kadangkala sudah ada orang yang melakukannya, sehingga orang yang lain sudah tidak menang-
gung dosa karena tidak melakukannya. Sedangkan fardhu ain tidak dapat ditawar lagi, karena tidak ada orang lain yang boleh menggantikan kewajiban yang telah ditetapkan atas dirinya.

Banyak hadits Nabi yang menunjukkan bahwa kita mesti mendahulukan fardhu ain atas fardhu kifayah.

Contoh yang paling jelas untuk itu ialah perkara yang ada kaitannya dengan berbuat baik terhadap kedua orang tua dan berperang membela agama Allah, ketika perang merupakan fardhu kifayah, karena peperangan untuk merebut suatu wilayah dan bukan mempertahankan wilayah sendiri; iaitu peperangan untuk merebut suatu wilayah yang diduduki oleh musuh. Kita hendaklah melakukan peperangan ketika ternyata tanda-tanda musuh mengintai kita dan hendak merebut wilayah yang lebih luas dari kita. Dalam hal seperti ini hanya sebagian orang saja yang dituntut untuk melakukannya, kecuali bila pemimpin negara menganjurkan semua rakyatnya untuk pergi berperang.

Dalam peperangan seperti ini, berbakti kepada kedua orangtua dan berkhidmat kepadanya adalah lebih wajib daripada bergabung kepada pasukan tentara untuk berperang. Dan inilah yang diingatkan oleh Rasulullah saw.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin Ash r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi saw. Dia meminta izin untuk ikut berperang. Maka Rasulullah saw bertanya kepadanya, "Apakah kedua orangtuamu masih hidup” Dia menjawab, "Ya." Rasulullah saw bersabda, "Berjuanglah untuk kepentingan mereka." (10)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw kemudian berkata, "Aku hendak berjanji setia untuk ikut hijrah bersamamu, dan berperang untuk memperoleh pahala dari Allah SWT." Nabi saw berkata kepadanya: "Apakah salah seorang di antara kedua orangtua mu masih hidup?" Dia menjawab, "Ya. Bahkan keduanya masih hidup." Nabi saw bersabda, "Engkau hendak mencari pahala dari Allah s.w.t.?" Lelaki itu menjawab, "Ya." Nabi saw kemudian bersabda, "Kembalilah kepada kedua orangtuamu, perlakukanlah keduanya dengan sebaik-baiknya."

Diriwayatkan dari Muslim bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw seraya berkata, "Aku datang ke sini untuk menyatakan janji setia kepadamu untuk berhijrah, aku telah meninggalkan kedua orangtuaku yang menangis karenanya." Maka Nabi saw bersabda, "Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis."

Diriwayatkan dari Anas r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw sambil berkata, "Sesungguhnya aku sangat ingin ikut dalam peperangan, tetapi aku tidak mampu melaksanakannya." Nabi saw bersabda, "Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih ada yang hidup?" Dia menjawab, "Ibuku." Nabi saw bersabda, "Temuilah Allah dengan melakukan kebaikan kepadanya. Jika engkau melakukannya, maka engkau akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengerjakanibadah haji, umrah, dan berjuang di jalan Allah."

Diriwayatkan dari Mu'awiyah bin Jahimah bahwasanya Jahimah datang kepada Nabi saw kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, aku ingin ikut berperang, dan aku datang ke sini untuk meminta pendapatmu." Maka Rasulullah saw bersabda, "Apakah engkau masih mempunyai ibu?" Dia menjawab, "Ya." Rasulullah bersabda, "Berbaktilah kepadanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kakinya." (13)

Thabrani meriwayatkan hadits itu dengan isnad yang baik, (14) dengan lafalnya sendiri bahwa Jahimah berkata, "Aku datang kepada Nabi saw untuk meminta pendapat bila aku hendak ikut berperang. Maka Nabi saw bersabda, 'Apakah kedua orangtuamu masih ada?' Aku menjawab, 'Ya.' Maka Nabi saw bersabda, 'Tinggallah bersama mereka, karena sesungguhnya syurga berada di bawah telapak kaki mereka.'"

BEBERAPA TINGKAT FARDHU KIFAYAH

Saya ingin menjelaskan di sini bahwa sesungguhnya fardhu kifayah juga mempunyai beberapa tingkatan. Ada fardhu kifayah yang cukup hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, dan ada pula fardhu kifayah yang dilakukan oleh orang banyak. Ada pula fardhu-fardhu kifayah yang tidak begitu banyak orang yang telah melakukannya, bahkan tidak ada seorangpun yang melakukannya.

Pada zaman Imam Ghazali, orang-orang merasa aib bila mereka tidak menuntut ilmu pengetahuan di bidang fiqh, padahal ia merupakan fardhu kifayah, dan pada masa yang sama mereka meninggalkan wajib kifayah yang lain; seperti ilmu kedokteran. Sehingga di suatu negeri kadangkala ada lima puluh orang ahli fiqh, dan tidak ada seorangpun dokter kecuali dari ahli dzimmah. Padahal kedokteran pada saat itu sangat diperlukan, di samping ia juga dapat dijadikan sebagai pintu masuk bagi hukum-hukum dan urusan agama.

Oleh karena itu, fardhu kifayah yang hanya ada seorang yang telah melakukannya adalah lebih utama daripada fardhu kifayah yang telah dilakukan oleh banyak orang; walaupun jumlah yang
banyak ini belum menutup semua keperluan. Fardhu kifayah yang belum cukup jumlah orang yang melakukannya, maka ia semakin diperlukan.

Kadangkala fardhu kifayah dapat meningkat kepada fardhu ain untuk peristiwa Zaid atau Amr, karena yang memiliki keahlian hanya dia seorang, dan dia mempunyai kemungkinan untuk melakukannya, serta tidak ada sesuatupun yang menjadi penghalang baginya untuk melakukannya.

Misalnya, kalau negara memerlukan seorang faqih yang ditugaskan untuk memberi fatwa, dan dia seorang yang telah belajar fiqh, atau dia sendiri yang dapat menguasai ilmu tersebut.

Contoh lainnya ialah guru, khatib, dokter, insinyur, dan setiap orang yang memiliki keahlian tertentu yang sangat diperlukan oleh manusia, dan keahlian ini tidak dimiliki oleh orang lain.

Misal yang lain ialah apabila ada seorang yang mempunyai pengalaman di bidang ketenteraan yang sangat khusus, dan tentara kaum Muslimin memerlukannya, yang tidak dapat digantikan oleh orang lain, maka wajib baginya untuk menawarkan diri melakukan tugas tersebut.

Catatan kaki:

10 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Jihad; dan Muslim dalam al-Birr. hadits no. 2549

11 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dalam al-Jihad (2528): Ibn Majah (2782); dan
disahihkan oleh Hakim. 4:152-153, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

12 Al-Mundziri berkata dalam kitab ar-Targhib wat-Tarhib: "Abu Ya'la dan Thabrani meriwayatkan dalam as-Shaghir dan al-Awsath, dengan isnad yang baik, Maimun bin Najih yang
dikuatkan oleh Ibn Hibban, dan rawi-rawi yang masyhur (al-Muntaqa, 1474). Al-Haitsami mengatakan: "Orang-orang yang meriwayatkannya adalah shahih, selain Maimun bin Najih tetapi telah dikuatkan oleh Ibn Hibban." (Al-Majma', 8:138)

13 Diriwayatkan oleh Nasai dalam al-Jihad. 6: 111; Ibn Majah (2781); Hakim men-shahih-kannya dan disepakati oleh al-Dzahabi. 4:151.

14 Begitulah yang dikatakan aleh al-Mundziri (lihat al-Muntaqa, 1475); al-Haitsami berkata: "Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini semuanya tsiqat." (Al-Majma', 8:138)

------------------------------------------------------

FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy

17 January, 2010


Al-Qaradawi: Tokoh Tajdid


Kedatangan Dr Yusuf al-Qaradawi ke Malaysia amat dialu-alukan. Walaupun saya tidak sempat mengikuti ucapan beliau pagi semalam yang khabarnya berkaitan buku terbarunya Fiqh al-Jihad, tetapi saya telah pun membeli buku tersebut sejak dua bulan lepas. Buku tersebut merupakan karya terbesar beliau selepas Fiqh al-Zakah.

Saya antara pengkagum Dr Yusuf al-Qaradawi. Bukan kerana namanya, tetapi kerana kesarjanaannya. Buku-bukunya mempunyai nilai analisis dan kebebasan akal dari sebarang fanatik mazhab. Beliau adalah tokoh tajdid yang menyeru kepada keluasan fekah dan kemerdekaan minda dari ketaksuban pandangan tokoh kepada penilaian setiap pendapat dengan adil berteraskan al-Quran dan a-Sunnah.

Dalam buku terbarunya itu beliau menyebut tentang kaedah dalam penulisannya:
“Mengambil manfaat dari khazanah fekah islami dan mengiktiraf lautannya yang luas dengan tidak cenderung kepada hanya satu mazhab tanpa melihat mazhab yang lain, atau terikat dengan satu imam tanpa melihat imam yang lain.

Bahkan kita menganggap peninggalan besar ini (khazanah fekah) milik setiap pengkaji untuk dia menyelami dasarnya, membongkar simpanannya, menggali setiap penjurunya, membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat yang lain, satu dalil dengan dalil yang lain tanpa taksub kepada satu pandangan atau taklid berterusan kepada satu mazhab.

Bahkan kadang-kala kita mengambil pendapat Abu Hanifah, kemudian pendapat Malik, kemudian pendapat Syafii, kemudian pendapat Ahmad, kemudian pendapat Daud (maksudnya Daud al-Zahiri-pen). Bahkan mungkin dalam beberapa perkara kecil kita keluar dari mazhab sunni kepada mazhab Zaidiyyah, ataupun Ja’fariyyah ataupun Ibadiyyah jika kita dapati penyelesaian masalah dalamnya.

Mungkin juga kita akan mengambil sebahagian pendapat mazhab yang hilang seperti Mazhab al-Auza’i, Mazhab al-Thauri dan Mazhab al-Tabari. Bahkan kita kadang kala akan keluar dari kesemua mazhab itu pergi ke dataran luas fekah para sahabat Nabi s.a.w, tabi’iin, dan atba’ al-tabi’in yang mana mereka ini tiada mempunyai sebarang mazhab yang diikuti. Mereka seperti al-Khulafa al-Rasyidin, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Umar, Ibn ‘Abbas, ‘Aishah, Mu’adz, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Thabit dan para sahabat r.ahum yang lain.

Demikian juga murid-murid mereka seperti mereka yang dikenali sebagai fuqaha (ahli fekah) yang tujuh di Madinah, juga selain mereka di Mekah, Kufah, Basrah, Mesir, Syam dan wilayah-wilayah yang lain yang para sahabah dan murid-murid mereka bertebaran. Antaranya; Sa’id bin al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Mujahid, Ata`, Tawus, al-Hasan al-Basri, Ibn Sirin, ‘Alqamah, al-Aswad, Masruq, al-Nakha’i, al-Laith bin Sa’d dan selain mereka…” (Fiqh al-Jihad, 1/24, Kaherah: Maktab Wahbah).

Saya fikir jika ada orang yang ingin berpegang dengan keluasan mazhab atau intelektualisma yang seperti itu di Malaysia tentu akan ada yang menuduh ini puak ‘derhaka mazhab’, tidak beradab dengan jasa orang-orang lama kita, keluar mazhab Syafi’i, rasa terlalu pandai dan berbagai lagi. Bahkan lebih trajik; wahabi dan sesat.

Sebab itulah barangkali pandangan-pandangan agama kita membeku dan generasi baru tidak dapat melihat keluasan Islam akibat kesempitan jendela fikir kita. Kita kononnya ini menghormati khazanah agama di Tanah Melayu sehingga kita melarang orang lain meneliti pandangan luar mazhab, padahal kita lupa tindakan seperti itu menyebabkan kita menyisihkan sekian banyak khazanah kesarjanaan dari berbagai-bagai aliran pemikiran dalam umat ini. Bukan salah bermazhab, tetapi salahnya itu fanatik mazhab sehingga menganggap setiap yang luar itu salah dan enggan menilai lagi pendapat yang dipakai hanya kerana ‘ini mazhab kita!!’.

Sebab itu Dr Yusuf al-Qaradawi ketika memperkatakan tentang Manhaj Mu’asir li al-Fatwa (Kaedah Semasa Dalam Fatwa) menyebut perkara pertama adalah “Membebaskan diri dari fanatik dan taklid”. Beliau menyebut:

“Pertama, membebaskan diri dari fanatik mazhab dan mengikut secara buta tuli kepada si fulan
dan si fulan, samada dia dalam kalangan ulama terdahulu atau kemudian“. Dikatakan “ tidak bertaklid itu melainkan seorang fanatik atau dungu”.

Aku tidak rela untuk diriku salah satu dari sifat tersebut. Membebaskan diri dari fanatik mazhab itulah sebenarnya merupakan penghormatan yang sepenuhnya kepada para imam dan fakih (ahli fekah). Tidak bertaklid kepada mereka bukanlah merendahkan kedudukan mereka, sebaliknya itulah yang menepati jalan mereka, juga melaksanakan wasiat mereka agar tidak bertaklid kepada mereka.

Kita mengambil agama dari sumber yang mereka ambil (al-Quran dan al-Sunnah). Juga tidak bertalkid kepada mereka bukanlah bererti mengabaikan fekah dan warisan mereka. Sebaliknya, sewajarnya merujuk dan mengambil faedah daripadanya, dari pelbagai aliran tanpa berat sebelah ataupun fanatik. Pendirian seperti ini tidak mensyaratkan seorang sarjana muslim yang berdikari kefahamannya itu mesti sampai ke peringkat ijtihad mutlak seperti para imam yang terdahulu.”
( al-Qaradawi, al-Fatwa bain al-Indibad wa al-Tasaiyub, m.s 101, Beirut: al-Maktab al-Islami).

Ungkapan kemerdekaan ilmu dan kebebasan diri dari kongkongan taksub amat dimusuhi oleh sesetengah pihak. Oleh kerana sejak sekian lama mereka dipayung oleh rasa fanatik lalu mereka tidak akan bertanya atau mempersoalkan lagi apa yang dilontarkan oleh guru mereka sehingga pemikiran agama menjadi longlai dan dihakiskan oleh cabaran zaman.Namun kelompok agama ini tetap ingin mewarisi takhta ‘empayar agama’ yang tokoh-tokohnya tidak boleh dipersoal, atau pandangan mereka dibincang semula, maka mereka pun mengeluarkan fatwa ‘siapa keluar mazhab dia sesat’, atau ‘siapa banyak tanya atau mengkritik pandangan kita atau kebiasaan kita dia biadap’, bahkan siapa yang cuba memahami Islam di luar dari yang kita terangkan maka ‘dia sesat dan terkeluar dari Ahlus Sunnah’.

Seakan bagi mereka ini para sarjana Islam dari mazhab-mazhab yang lain kesemuanya sesat dan bukan Ahlus Sunnah sehingga kita dilarang memahami dan berpegang dengan kajian mereka! Hal ini bertambah buruk apabila aliran tarekat turut berkembang dalam negara kita kebelakangan ini. Ramai dalam kalangan tarekat yang memegang tradisi ‘jangan tanya, ikut saja’ amat marah melihat gerakan pembaharuan yang meminta agar fungsi akal dihidupkan dalam mengikuti agama ini. Islam adalah agama fitrah dan waras. Akal mempunyai kedudukan yang penting dalam Islam sehingga orang gila atau belum sempurna akalnya tidak diletakkan atas neraca dosa dan pahala.

Ibn Taimiyyah

Walaupun al-Qaradawi tidak fanatik kepada mana-mana tokoh, namun ini bukan bererti tiada tokoh kesayangan atau tokoh yang beliau kagumi. Dr al-Qaradawi pernah menyebut
“Al-Imam Ibn Taimiyyah ialah daripada kalangan ulama umat yang aku sayangi, bahkan barangkali dialah yang paling jantung hatiku sayangi di kalangan mereka dan paling dekat kepada pemikiranku” (Al-Qaradawi, Kaif Nata‘amul ma‘a al-Sunnah, m.s. 170, Mesir: Dar al-Wafa).

Hampir kesemua buku-buku Dr al-Qaradawi dipenuhi nukilan dari Syeikhul Islam Taimiyyah (meninggal 728H) dan muridnya al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (meninggal 751H). Ini kerana dua tokoh agung ini terkenal dengan usaha tajdid membangunkan semula umat dan membebaskan mereka dari daerah fanatik, jumud dan ‘malas berfikir’.Kata al-Qaradawi dalam al-Thaqafah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah:

“Ibn Taimiyyah dan institusinya adalah salafis. Mereka itu benar-benar tokoh tajdid (revival). Tiada seorang pun yang cuba menafikan pemikiran tajdid mereka, melainkan dia seorang yang keras kepala.” (m.s 59, Kaherah: Maktab Wahbah).

Golongan fanatik mazhab seperti Ahbash membantah beliau kerana suka merujuk kepada Ibn Taimiyyah. Kata al-Qaradawi: “Termasuk perkara yang pelik, mereka golongan Ahbash ini mentohmah aku ini wahhabi dan taksub dengan para imam Wahhabi, kerana seringkali aku apabila bercakap mengambil daripada Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim dan madrasah mereka berdua, mereka (Ahbash) menuduh Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim ini menyalahi ijma’ dalam persoalan ini dan itu..”.

Di Malaysia, kelompok anti-Ibn Taimiyyah bersarang di sesetengah pondok, jabatan agama dan beberapa institusi yang lain. Ada yang keluar dalam TV dan akhbar menyesatkan Ibn Taimiyyah, bahkan mengkafirkannya. Jika mereka baca karya al-Qaradawi tentu tuduhan yang sama akan dikenakan kepada beliau. Maka al-Qaradawi juga tidak terlepas dari berbagai tohmahan. Beliau pernah dituduh sebagai liberalis, wahabis dan berbagai lagi. Tuduhan itu datang dari berbagai, samada kelompok fanatik mazhab, fanatik tarekat, juga yang aliran salafi jalur keras yang jumud. Bahkan ada buku yang melebelnya sebagai ‘anjing yang menyalak’.

Dalam masa yang sama Barat juga melancarkan permusuhan dengan beliau. Ini kerana beliau bekerja untuk Islam, menulis, berceramah dan merancang. Sebelum al-Qaradawi menjadi ‘gergasi’ dengan nama yang besar seperti sekarang, beliau juga pernah memasuki penjara. Bahkan ketika ini pun ada negeri yang tidak membenarkan beliau masuk. Demikian hari-hari yang mesti dilalui dalam melakukan agenda dakwah dan pembaharuan. Seorang tokoh itu tetap tokoh dan akan ada yang membelanya.

Dr Mohd Asri Zainal Abidin.

25 December, 2009

PAULUS: Pencipta Agama Kristian

Oleh: Siti Sakinah bt Mohd Khirrudin


Pendahuluan

Tidak lengkap rasanya agama Kristian jika kita tidak mengenali Paulus dengan lebih dekat. Setiap perbincangan mengenai agama Kristian disentuh pasti Paulus juga akan dikaitkan. Siapakah Paulus sebenarnya?.

Para penyelidik berpendapat bahawa Paulus merupakan orang yang memainkan peranan penting dalam mencorakkan agama Kristian. Sumber yang ada dalam agama Kristian sekarang ini dicipta oleh Paulus sendiri. Segala peraturan yang terdapat di dalamnya seperti prinsip- prinsip, dasar agama dan upacara- upacara adalah ditetapkan oleh Paulus juga. Bahkan dia yang bertanggungjawab dalam menggubal pegangan penganut- penganut agama tersebut. Dengan kata lain, agama Kristian yang ada sekarang ini adalah hasil ciptaan Paulus, bukan seperti yang diwahyukan Allah s.w.t kepada Nabi Isa a.s untuk disampaikan kepada umatnya. Di sini sama-sama kita mengkaji dan mengenali Paulus dengan lebih terperinci.


Latar Belakang Paulus

Asal usul Paulus.

Nama Paulus asalnya Saul, setelah dia memeluk agama Kristian namanya ditukar kepada Paulus. Paulus seorang yang berbangsa Yahudi. Lahir di Tarsus ibukota Cicillia, Asia Minor. Ayahnya seorang saudagar Yahudi romawi yang bernama Kissai dari suku Benyamin. Ibunya juga berketurunan Romawi.

Pendidikan Paulus.

Pada peringkat awal pendidikannya, Paulus dihantar untuk mempelajari dan mendalami agama Yahudi di Jerusalem serta dididik menjadi Rabbi. Setelah tamat pengajian, dia kembali ke Tarsus lalu bekerja sebagai pembantu ayahnya di samping mengajar hukum agama Yahudi kepada bangsanya.

Selain daripada pendidikan Taurat yang dianuti dengan fanatik serta mempunyai pengetahuan yang tinggi terhadapnya, dia juga mahir dalam bidang pendidikan ala Romawi serta pendidikan dan pengajaran falsafsah Yunani. Dia sendiri penganut fahaman aliran Farisi (Farusyin) yaitu golongan yang sangat anti terhadap ajaran Nabi Isa a.s.


Paulus Dan Agama Kristian

Penentangan Paulus terhadap agama Kristian.

Sewaktu agama Kristian yang dibawa oleh Nabi Isa a.s sedang meningkat pengaruhnya, Paulus telah dipanggil ke Juresalem untuk membantu membanteras agama tersebut. Tugas yang diserahkan kepadanya itu dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh. Akibatnya banyak pengikut Nabi Isa menjadi mangsa kekejaman dan kerakusannya.

Walau bagaimanapun, agama Nabi Isa tetap berkembang sehingga tidak dapat dibendung malahan ia semakin tersebar dengan luasnya. Oleh yang demikian, jelas bagi kita Paulus adalah seorang penentang yang paling kejam dan keras terhadap ajaran dan pengikut- pengikut Nabi Isa. Berbagai- bagai usaha dilakukan semata-mata untuk menjatuhkan agama yang dibawa Nabi Isa a.s.

Paulus memeluk agama Kristian.

Menurut keterangan yang lalu, Paulus sangat tegas dalam usahanya untuk menghancurkan agama Kristian. Namun begitu, Paulus yang berkobar- kobar hendak meruntuhkan agama Kristian itu tiba- tiba mendakwa memeluk agama tersebut di samping menyatakan dia sebagai utusan rasul. Apakah muslihatnya?.

Ada yang menceritakan ketika Nabi Isa tidak ada lagi di Palestin, Paulus telah diberi tugas menangkap serta membasmi pengikut Nabi Isa yang lari ke Damsyik. Semasa dalam perjalanan ke sana, di pertengahan jalan tiba- tiba Paulus menyatakan yang dia telah bertaubat. Dia menerangkan bahawa satu peristiwa aneh telah berlaku pada dirinya. Dia ternampak akan cahaya dari langit yang terang di sekelilingnya. Ketika itu dia jadi gementar lalu terdengar satu suara berkata kepadanya:” Wahai Saul kenapa engkau menganiayai aku, engkau lawan murid- muridku sebenarnya akulah yang kau aniayai!” Lalu Paulus menyahut:” siapakah engkau ini ya tuhan?” Maka terdengar oleh Paulus suara sabdaan tuhan itu: “ Akulah Yesus yang engkau aniayai itu. Sukarlah bagimu sekarang ini menghindari dosa”. Selepas peristiwa itu dia segera kembali dari Damsyik dengan sedar dan bertaubat.

Pada mulanya orang-orang Kristian tidak dapat menerima dan mempercayainya. Tetapi oleh kerana kepandaian dan kebijaksanaan dia bergaul serta berbicara dengan mereka, lama- kelamaan mereka dapat juga menerimanya.

Dalam Al-Kitab berlaku percanggahan tentang peristiwa aneh yang terjadi atas diri Paulus. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam “kisah rasul- rasul” didapati bercanggah di antara satu sama lain. Buktinya, dalam “kisah rasul- rasul” fasal 9 menerangkan bahawa orang yang bersama- sama Paulus turut mendengar suara dari langit itu, manakala dalam fasal 22 ada menyebut bahawa mereka tidak mendengar suara tersebut cuma melihat cahayanya sahaja.

Selain itu, satu perkara lagi yang tidak munasabah langsung tentang panggilan “tuhan” terhadap diri Isa. Bagaimana Paulus boleh memanggil diri Isa “tuhan” secara spontan setelah suara itu memperkenalkan dirinya sebagai Isa, padahal sebelum itu Paulus amat memusuhi Isa a.s. Bahkan perjalanan yang sedang dilakukannya itu pun tidak lain hanya untuk menangkap pengikut- pengikut Isa di Damsyik.

Banyak para pengkaji berpendapat permusuhan Paulus terhadap agama Kristian itulah yang mendesaknya memeluk agama tersebut. Dengan demikian sangat mudah baginya untuk memerangi agama Kristian dengan senjatanya yang baru yaitu meruntuhkan agama tersebut dari dalam dengan merosakan, merubah dasar- dasar dan akidah agama itu.

Penyebaran agama Kristian.

Ekoran daripada peristiwa yang di atas, Paulus dengan terbuka mengaku bahawa dirinya menjadi rasul Isa. Ini menyebabkan Paulus menganggap taraf kerasulan yang dikurniakan kepadanya sama dengan taraf rasul- rasul utama yang lain.

Paulus sebenarnya tidak pernah berguru dengan Nabi Isa dan tidak pernah mendengar pengajaran dari baginda sendiri. Walhal Paulus tidak pernah sekalipun berjumpa atau melihat baginda. Tetapi dia mendakwa dirinya rasul, segala pengajarannya dikatakan daripada wahyu tuhan Isa.

Paulus menyebarkan agama Kristian bukan sahaja di Palestin tetapi di beberapa buah negeri yang jauh seperti Antiogia dan lain- lain, bahkan sampai ke Roma. Setelah banyak orang mula mempercayainya, Paulus mengambil kesempatan ini dengan memasukan perubahan- perubahan ke dalam agama Kristian. Di antaranya: dia mengatakan bahawa Isa Al- Masih itu bukan manusia biasa tetapi beliau anak tuhan yang telah dilahirkan oleh seorang wanita yang suci. Kelahiran beliau juga untuk menebus dosa Nabi Adam dan Hawa serta semua keturunannya. Pelbagai lagi perubahan yang dilakukan Paulus dalam agama Kristian.

Seperti yang diketahui, Paulus mempunyai pengetahuan yang luas dalam kebudayaan dan falsafah Yunani. Dengan demikian dalam diri Paulus terkumpul 2 pengaruh yaitu Yahudi dan Yunani. Selain itu, Paulus mempunyai kepintaran dalam membentuk suatu agama agar dapat diterima oleh semua bangsa, sedangkan agama Kristian yang dibawa oleh Nabi Isa hanya untuk bangsa Yahudi sahaja. Manakala Paulus memindahkannya kepada seluruh bangsa. Bagi menarik orang Yahudi dan bukan Yahudi pada ajaran baru itu, Paulus telah mengadunkan beberapa ajaran Yahudi dan falsafah Yunani ke dalamnya. Setelah itu berduyun- duyun orang barat yang bukan bangsa Yahudi memeluk agama Kristian namun orang timur pula menjauhkan diri daripadanya. Hal ini diakui sendiri oleh Paulus dalam risalah epada muridnya Timotius. (Timotius 1:15)

Oleh sebab itu agama Kristian yang dibentuk Paulus bertukar daripada agama timur kepada agama barat sehingga pusat agama itu sendiri terletak di sebelah barat,iaitu Rom, padahal ia muncul di timur,iaitu Jerusalem.

Dalam erti kata yang lain, Paulus pandai menggunakan serampang mata semata- mata untuk menarik semua bangsa manusia kepada ajarannya. Pelbagai pendekatan digunakan olehnya. Ditegaskan bahawa Paulus memasukkan beberapa ajaran Yahudi untuk menarik bangsa Yahudi ke dalam agamanya, mengambil falsafah Yunani untuk menarik orang Yunani dan mengumumkan bahawa Isa adalah penyelamat, pembebas dan lain-lain untuk menarik penganut ajaran Mithras dan Cybele. Tidak cukup dengan itu, Paulus juga berusaha menarik perhatian golongan terpelajar dengan meminjam idea- idea dan pemikiran ahli falsafah Yunani, terutama daripada Philo. Resapan falsafah Philo dalam pemikiran Paulus dapat dilihat melalui istilah-istilah keagamaan yang sering digunakan sehingga sekarag kini seperti anak sulung tuhan, pengantara tuhan dan manusia, bayang- bayang tuhan dan sebagainya.

Dengan demikian jelas bagi kita Paulus merupakan sumber penting agama Kristian yang ada sekarang, walaupun agama ini disebut sebagai ajaran Isa tetapi hakikatnya ia sudah diubah oleh Paulus. Dia yang bertanggungjawab mencorak dan mengubah agama ini.


Peranan Paulus Dalam Agama Kristian

Paulus nabi palsu

Telah diterangkan dalam keterangan yang lalu, Paulus tidak pernah langsung bertemu dengan Nabi Isa a.s apalagi berguru dengan beliau. Paulus cuma sempat berjumpa dengan para pengikut dan anak murid baginda sahaja. Walau bagaimanapun mereka tidak percaya kepada Paulus yang mendakwa dirinya sebagai utusan rasul.

Semasa Nabi Isa hidup di dunia sebagai Nabi Allah, baginda berpesan kepada umatnya suatu pesanan penting bahawa akan datang beberapa Mesias (utusan) palsu dan nabi- nabi palsu selepas ketiadaan beliau, perkataan dan pesanan Nabi Isa itu terdapat di dalam Al- Kitab. (Markus 13:5- 2, markus 13 :21)

Menurut pesanan dan kata- kata Nabi Isa itu jelaslah bahawa mereka- mereka itu telah pun muncul dan salah seorangnya adalah Paulus. Dia yang mengaku kononnya bertemu cahaya di langit dan menerima wahyu dari Isa. Walhal dia sebenarnya mahu mengambil kesempatan terhadap agama Kristian dan merubahnya.

Tepatlah apa yang dikatakan Nabi Isa katanya: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang datang dengan memakai namaku dan berkata akulah mesias serta mereka menyesatkan banyak orang”. (Matius 24:4-5)

Ramalan Nabi Isa ini tepat dan terbukti sekarang, bahawa ada yang mengaku rasul diutuskan oleh Isa dengan mendapat bimbingan roh kudus serta mengajar dogma yang bertentangan dengan ajaran Isa.

Konsep ajaran Paulus.

Sebagaimana yang kita ketahui ajaran Nabi Isa adalah lanjutan daripada syariat Nabi Musa. Di peringkat awal kemunculan Nabi Isa pengikut- pengikutnya hanya berpegang pada syariat agama yang dibawa oleh nabi- nabi sebelumnya kerana kedatangan Isa bukan membawa syariat baru bagi menggantikan syariat lama, malahan ia hanya menyeru umat Bani Israil pada toleransi, penyucian dan zuhud.

Tetapi agama itu telah diubah oleh Paulus menjadi satu agama baru. Paulus memainkan peranan yang besar dalam membentuk prinsip- prinsip, dasar- dasar dan dogma yang terdapat dalam agama Kristian sekarang ini. Hukum- hukum baru yang diwujudkan antaranya termasuklah menghadkan perbuatan haram kepada 4 jenis sahaja yaitu zina, memakan haiwan yang dicekik, memakan darah dan memakan haiwan yang disembelih atas nama berhala. Selain itu, banyak lagi hukum yang haram dihalalkan Paulus. Hukum wajib berkhatan yang dipusakai daripada syariat Nabi Ibrahim juga dihapuskan atas alasan amalan tersebut boleh menyebabkan orang bukan Yahudi enggan memeluk agama Kristian. Wajarkah agama diubah berdasarkan alasan ini, dimanakah kekuatan agama tersebut sehingga terpaksa diubah untuk menarik minat manusia. Inilah agama yang dicipta manusia tidak sempurna seperti yang Allah wahyukan sempurna segalanya.

Saripati ajaran yang dibentuk oleh Paulus adalah seperti berikut:

1) Agama Kristian adalah untuk semua bangsa bukan untuk Bani Israil sahaja, padahal Nabi Isa diutuskan Allah hanya untuk Bani Israil.

2) Konsep ketuhanan.

Menurut Paulus tuhan mempunyai tiga peribadi: tuhan bapa, tuhan anak dan roh kudus. Perbincangan tentang ketuhanan dalam agama Kristian sampai sekarang belum selesai, semakin dibincangkan semakin keliru dan tidak mendapat kata putus.

3) Inkarnasi.

Menurut Paulus Isa telah melakukan inkarnasi di bumi melalui benih Daud. Dengan demikian, Paulus telah menegaskan bahawa Isa adalah anak Yusuf dan Maryam sebagaimana salasilah yang ditulis dalam Matius. (Matius 1: 1- 16)

4) Dosa warisan.

Pada pandangan Paulus manusia sepatutnya hidup kekal di syurga tetapi kerana dosa Adam dan Hawalah semua Manusia berada di bumi. Dengan itu semua manusia yang lahir ke dunia menanggung bebanan dosa yang dilakukan oleh mereka berdua. Lalu Isa dianggap sebagai penebus bagi dosa tersebut.

5) Penyaliban dan penebusan.

Menurut Paulus lagi, Nabi Isa menyerahkan dirinya untuk dikorbankan sehingga disalib bagi menebus dosa manusia yang diwarisi oleh Nabi Adam. Setiap harus beriman dengan penyaliban dan penebusan dosa agar memperolehi kehidupan yang kekal dan kembali pada hari kiamat.

6) Konsep kebangkitan.

Isa bangkit semula dari alam kubur selepas tiga hari dikebumikan. Beliau terus naik ke langit serta duduk di kanan bapanya untuk memerintah manusia. Semua orang mesti mempercayai bahawa Nabi Isa bangkit dan hidup kekal supaya mereka juga akan beroleh kehidupan yang kekal.

7) Tuhan Yesus.

Paulus menegaskan dengan yakin bahawa Nabi Isa adalah tuhan. Dengan adanya dasar ini, maka lahirlah prinsip triniti yang menetapkan tuhan itu terdiri daripada tiga peribadi, Allah bapa, Allah anak dan roh kudus.

Kesemua ajaran-ajaran di atas ini adalah yang ditunjukkan oleh Paulus, dia yang bertanggungjawab terhadap semua itu. Segala ajaran- ajaran tersebut adalah bohong belaka. Sebagaimana yang telah dikatakan Paulus dalam surat kepada jemaah di Roma

seperti berikut: “ Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi orang berdosa?” (Roma 3:7)

Jelaslah sekarang Paulus sebenarnya seorang pendusta. Dia sendiri yang membuat pengakuan sedemikian.


Perbezaan Ajaran Nabi Isa Dan Paulus

Sebelum kita akhiri perbincangan ini, kita perhatikan beberapa perbezaan yang jelas antara ajaran Paulus dan ajaran Nabi Isa. Sebagai contoh:

1) Isa menyangkal dirinya tuhan yang Maha Esa, (Matius 7: 21-22). Sedangkan Paulus menganggap bahawa Isa adalah tuhan, (Korintus 1: 1-9)

2) Isa menganjurkan taubat nasuha untuk mendapat keampunan tuhan atas dosa yang dilakukan oleh manusia, sedangkan Paulus menggantungkan keampunan dosa manusia kepada penyaliban Isa.

3) Isa tetap mengakui keunggulan hukum Taurat dan penguat kuasaannya di kalangan pengikut- pengikutnya. (Matius 5: 17- 18). Sedangkan Paulus mengajar bahawa hukum Taurat tidak dipakai lagi selepas penyaliban Isa untuk menebus dosa manusia. (Rom 7 : 4-6). Bahkan digantikan dengan iman terhadap penyaliban itu sendiri.(Rom 3: 21- 28)

4) Isa tidak pernah membicarakan dosa warisan, sedangkan Paulus mengajar mengenai dosa warisan. (Rom 5 : 12)

5) Isa mengajar Injil dikalangan orang Yahudi sahaja. (Matius 10: 5-6). Manakala Paulus memperluaskannya kepada orang- orang bukan Yahudi. (Kisah rasul- rasul 14 : 46)

6) Isa mewajibkan amalan berkhatan sebagai meneruskan hukum Nabi Ibrahim. Sedangkan Paulus tidak mewajibkannya.. (Rom 3 :30)


Penutup

Pada bahagian penutup ini ingin disimpulkan bahawa Paulus memeluk agama Kristian adalah untuk memerangi agama tersebut, dia ingin menghancurkan agama Kristian dari dalam dengan merosakan prinsip- prinsip dan dasar- dasar agama itu. Dia memasuki agama ini pada lahirnya untuk menjadi penganutnya yang secara lahir sebagai senjata penikam.

Perbuatan seperti ini banyak terjadi dalam sejarah agama- agama. Dalam Islam pun berlaku perbuatan yang serupa itu, yaitu Abdullah bin Saba’. Seorang Yahudi yang menampakkan dirinya sebagai seorang Islam padahal kafir dalam hatinya. Dia melakukan pemberontakan dan merosakan fikiran umat Islam di waktu itu. Tetapi hasutan Abdullah bin Saba’ tidak dapat tersebar dengan baik seperti Paulus kerana Allah telah menyebut di dalam kitab suciNya Al- Quran bahawa agama Islam akan dipelihara dan dijaga olehNya.

Dengan itu lain halnya dengan Injil Isa a.s yang telah hilang di dalam pergolakan kerana tidak ada yang melindungi agama Kristian dari pukulan- pukulan yang kejam yang ditujukan kepadanya oleh musuh- musuh dari luar dan dalam. Dari itu runtuhlah agama Isa a.s dan berdirilah sekarang ini agama Paulus.

14 December, 2009

Benarkah Umat Kristian Mematuhi Agama Mereka??

Sesuatu agama adalah tertegak berdasarkan apa yang terkandung di dalam kitab suci mereka, kerana kitab suci ini berasal dari Tuhan. Tetapi apakah yang akan terjadi sekiranya kitab suci itu sekarang sudah dinodai, apakah masih layak ia disebut sebagai sebuah kitab suci?

Itulah Alkitab yang berada di tangan orang Kristian sekarang, mereka begitu bangga namun
tidak pernah teliti membacanya. Bagaimankah boleh seorang Kristian yang dilarang makan babi, tetapi mereka memakannya? Seorang Kristian yang seharusnya bersunat, tetapi mereka menolaknya? Seorang Kristian yang seharusnya kalau mati dikafani, mereka malah menggunakan peti? Ini merupakan suatu pelanggaran berat kerana mereka melanggar syariat agamanya sendiri.Semua percanggahan ajaran di dalam Alkitab ada dalam tulisan ini, oleh sebab ia adalah sangat penting dibaca bagi mereka yang terpedaya oleh dakyah pendakwah-pendakwah Kristian dan lemah iman mereka.

A. PELANGGARAN ORANG KRISTIAN TERHADAP ALKITAB MEREKA

1. Injil Melarang Memakan Daging Khinzir (babi)

Inilah sebuah fakta mengenai kebohongan orang Kristen yang mengatakan bahwa mereka sangat taat pada ajaran Yesus yang terkandung dalam kitab suci mereka. Kebohongan ini terungkap ketika Alkitab sebagai kitab suci mereka dengan tegas melarang makan babi, dalilnya ada pada Kitab Ulangan 14 : 8 yang berbunyi:

“Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biah, haram itu bagimu.

Dan juga pada kitab Imamat 11 : 7 yang berbunyi:

“Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.”

Dalam Alkitab terbitan tahun 1968, bunyi kitab Imamat 11:7 adalah seperti berikut:

“Demikian juga babi, meskipun berkuku belah, iaitu kukunya bersela panjang tetapi tidak memamah biak ,haram bagimu.”

Sedangkan dalam terbitan 1979, ayat haramnya babi tersebut diubah, diganti, ditambah, menjadi “babi hutan”:

“Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, iaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu.” (Imamat 11:7).

Theologi Kristen Menghalalkan Babi

Sebahagian orang Kristian membantah ayat yang mengharamkan babi di atas dengan mengatakan: “Yang dilarang pada ayat di atas adalah babi hutan, kalau babi di bandar dibolehkan”. Itulah jawapan orang-orang yang kebingungan, semua jawapan yang diberikan tidak lagi berdasarkan logik akal. Padahal mengikut akal yang sihat, apa bezanya antara babi hutan dengan babi di bandar? Walaupun di hutan atau di bandar, ia tetap bernama babi. Yang di hutan memiliki hidung yang sama bentuknya dengan yang di kota, hanya bezanya yang di hutan tidak dibela sedang yang di kota lebih terbela. Setujukah saudara?

Selidik punya selidik, ternyata golongan Kristian juga memiliki dalil yang menguatkan pendapat mereka bahwa babi itu halal hukumnya. Hal ini didasarkan pada ucapan Paulus yang terdapat di dalam Kitab Roma 14 : 2, 3, 17 dan 20. Dalam satu kitab suci terdapat dua hukum yang berbeda, yang lebih parah lagi pada ayat 20 dikatakan: “…segala sesuatu adalah suci (halal).”

2. Alkitab Melarang Minum Khamar (Arak)

Dalam salah satu kegiatan peribadatan orang Kristen ada yang namanya perjamuan suci/perjamuan kudus. Kegiatan ini dilakukan dengan meminum secawan anggur (berwarna merah) yang katanya melambangkan darah Yesus, kemudian memakan sepotong kecil roti yang melambangkan daging Tuhan Yesus. Lalu bagaimanakah pandangan Injil mereka tentang minum arak sendiri? Hal ini boleh dilihat pada kitab Imamat 10:9. Dan juga ada dalil lain yang menguatkan bahwa minum-minuman keras itu haram dan sangat dilarang bagi orang yang mengimani Injil.

(4) Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. (14) Janganlah ia makan sesuatu yang berasal dari pohon anggur; anggur atau minuman yang memabukkan tidak boleh diminumnya dan sesuatu yang haram tidak boleh dimakannya.” (Hakim-hakim 13 :4 dan 14)

Ironis, orang Kristian menodai ibadahnya dengan minum anggur yang terbukti sudah diharamkan oleh Tuhan mereka sendiri. Sebenarnya orang Kristian yang pernah mengikuti kegiatan perjamuan kudus (dengan meminum darah Tuhan dan memakan dagingnya) lebih kejam dan lebih jahat dari Sumanto (orang makan manusia yang sudah mati ). Kalau Sumanto itu hanya makan daging manusia, tetapi orang Kristian dengan teganya makan daging Tuhan sendiri. Bahkan lebih haus dari drakula, sebab drakula hanya minum darah manusia, sedang mereka meminum darah Tuhan itu sendiri.

Theologi Kristen Menghalalkan Minum Anggur

Mereka tentunya mempunyai alasan kenapa mereka melanggar larangan minum anggur ini, dan ternyata memang mereka punya dalil untuk menguatkan pendapat mereka tersebut. Salah satu dalil yang digunakan mereka untuk menghalalkan minum anggur adalah sebuah cerita dalam Injil tentang mukjizat tuhan Yesus yang pertama mengubah air menjadi anggur yang sangat nikmat rasanya. Kalau Tuhan mereka saja melakukan mukjizat dengan merubah air menjadi anggur, kenapa kita umatnya tidak boleh meminum anggur.

Kenapa Tuhan malah melanggar hukum yang dibuatnya sendiri? Kenapa Tuhan mereka melakukan satu mukjizat yang bertentangan dengan hukum sebelumnya yang sudah ditetapkan jauh hari sebelum Yesus lahir.

3. Bersunat wajib bagi laki-laki Kristian

Perintah sunat bukan perintah baru, melainkan sudah ditetapkan Allah lama dan jauh sebelum Yesus lahir ke dunia. Lihat dalil pada kitab Kejadian 17:10-11 yang berbunyi :

(10) Inilah perjanjian-Ku, yang wajib kamu pegang perjanjian antara aku dan kamu serta keturunanmu, iaitu setiap laki-laki di antara kamu wajib disunat. (11) hendaklah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara kamu dan Aku.

Orang Kristian juga tidak dapat mengambil teladan baik dari Nabinya yang sangat terkenal iaitu Nabi Ibrahim (Abraham), padahal anak Nabi Ibrahim disunat semua.
Sila lihat kepada ayat ini:

“Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, kemudian ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.” (Kejadian 21 :4)

Bahkan Tuhan Yesus orang Kristen sendiri disunat. Aneh bukan bila sampai ada orang Kristen yang mengaku pengikut Yesus malah menolak disunat. Cuba kita lihat pada kitab Lukas 2:21.

“Dan ketika genap delapan hari dan ia (Yesus) hendaklah disunat, ia diberi nama Yesus.”

Orang Kristen Menolak Hukum Sunat

Lagi-lagi alasan utama mereka menolak hukum sunat didasarkan pada perintah Paulus, pada beberapa ayat yang berikut ini:

“Sesungguhnya aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak berguna bagimu….sebab bagi orang yang berada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai erti, hanya iman yang berkerja oleh kasih.” (Galatia 5:2)

Ada juga perkataan Paulus di Galatia 6:15 dan 1 Korintus 7:19.

Semua ayat-ayat di atas adalah ucapannya Paulus, dan ternyata orang Kristen itu lebih mentaati perintah Paulus berbanding perintah Tuhan mereka sendiri. Sebenarnya Tuhannya Paulus atau Yesus?

4. Alkitab mengajarkan berdoa harus menengadahkan tangan

Inilah salah satu bukti persamaan ajaran Alkitab dengan Al-Qur’an, yaitu kalau berdoa harus menengadahkan tangan. Mari kita dengar firman Tuhan berikut ini :

“Oleh karena itu Aku ingin, supaya dimana orang laki-laki berdoa dengan menengadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.” (1 Timotius 2 : 8)

Berdoa dengan cara ini merupakan cara yang sopan dan bukti kalau kita ini memang betul-betul memerlukan pertolongan Tuhan dengan cara meminta kepada-Nya.

Orang Kristen Berdoa Malah Menggenggam Tangan

Kalau ditanya kenapa mereka berdoa dengan cara demikian? Tentu mereka menjawab ini adalah ajaran yang telah kami terima dari orang-orang tua serta pemuka agama kami dari dulu hingga sekarang.

Maka kalau mereka memang benar, suruh mereka menunjukkan mana dalil dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa kalau orang Kristen berdoa hanya menggenggam tangan mereka? Ajaran ini berasal dari manusia, dan hanya hasil rekayasa dan tipu daya para pendeta agar cara beribadah orang Kristen tidak sama dengan orang Islam.

5. Alkitab mengajarkan kalau oranag Kristen mati mesti dikafani

Syariat yang ada dalam Alkitab menyebutkan bahwa kalau orang Kristian itu mati, sepatutnya mereka dikafani (ini adalah kewajiban).

“Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengafaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, dimana belum pernah dibaringkan mayat.” (Lukas 23:53)

“Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” (Yohanes 11:44)

Orang Kristian Kalau Mati Tidak Dikafani

Penyimpangan terberat mereka terlihat dari awal mereka mengurus jenazah, sampai proses penguburan. Misalkan, harga peti mati tiga kali lebih mahal dari kain kafan, menghiasi jenazah dengan pakaian mahal, menyertakan semua barang kesukaan mayat ke dalam peti, mayat pula diawetkan. Itu semua tidak pernah ada dalam syariat agama kristian.

6. Orang Kristen Meyakini Ajaran Dosa Warisan

Maksud dari dosa warisan adalah dosa yang dilakukan oleh satu orang (iaitu Adam) karena telah melanggar perintah Allah dengan memakan buah terlarang, sehingga dosa itu menjalar kepada manusia yang lain. Dalam dosa itu terdapat maut, jadi sangat berbahaya bagi orang Kristen yang mati sebelum dibaptis, karena ia mati dalam keadaan mewarisi dosa Adam.

Lalu dari manakah ajaran ini berasal, dari Yesuskah selaku Tuhan mereka? Jawabannya ternyata tidak, ajaran dosa warisan ini adalah ajaran buatan Paulus. Berikut ini adalah dalil-dalil yang biasanya digunakan orang Kristen untuk menjelaskan masalah dosa warisan ini, antara lain:

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang itu telah berbuat dosa.”(Roma5:12)

“Kerana semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dan oleh kasih kurnia telah dibenarkan dengan percuma karena penebusan dalam kristus Yesus.” (Roma 23-24).

Dan ada pula di kitab Korintius 15:21-22.

Ayat yang terdapat dalam kitab Korintius dan Roma hanyalah surat-surat hasil buatan Paulus yang dikirimkan kepada jemaah di Korentus dan Roma. Coba bagi saudara yang punya Injil sekarang dibuka kedua kitab tersebut, diawal surat saudara akan melihat judul besar yang berbunyi: “Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaah di Koretus”, dan “Surat Paulus Kepada Jemaah di Roma”.

Yesus Membantah Ajaran Dosa Warisan

Sekarang mari kita semak bagaimana pendapat Tuhan orang Kristen tentang dosa warisan ini.

“Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang hendaklah dihukum mati karena dosanya sendiri.” (Ulangan 24:16)

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberikan balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah lakunya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” (Yeremia 17:10)

Inilah ajaran yang benar dan masuk akal kerana berasal dari Tuhan. Sedang ajaran warisan yang dibuat Paulus sangat tidak masuk akal dan tidak adil, karena gara-gara dosanya Adam, apakah seluruh manusia menanggung dosa itu juga?

7. Kalimat Syahadat dalam Alkitab

“Inilah hidup yang kekal itu, iaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3).

Jelaslah bahwa Yesus adalah utusan, bukan Tuhan. Bahkan pernyataan itu keluar langsung dari mulut Yesus, di Kitab Yohanes 7:16, yang berbunyi :

“Jawab Yesus kepada mereka : ‘Ajaranku tidak berasal dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus aku’”.

Kristian Mengatakan Bahwa Yesus adalah Allah

Dari manakah orang Kristen mendapatkan ajaran bahwa Yesus itu Tuhan? Jawabnya sederhana, dari mana lagi kalau bukan dari Paulus. Dengan menggunakan perkataan Paulus, mereka mulai menebar berita bohong ini dari waktu ke waktu. Berikut beberapa dalil yang biasa mereka gunakan.

“Sahut Philipus: “Jika Tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah anak Allah.” (Kisah Para Rasul 8:37).
“Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16)

Ayat di atas adalah yang menguatkan pendapat bahwa Yesus adalah anak Allah. Tapi di ayat-ayat lain, mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri. Berikut ini adalah ayat Injil yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah (Tuhan):

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan.” (2 Korentus 1:3)

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai tuhan!” (1 Petrus 3:15)

Masih banyak lagi ayat-ayat lainnya, yang menunjukkan inkonsistensi Injil dalam menyebut diri Yesus, ada ayat yang mengatakan bahwa Yesus itu anak Allah, tetapi di ayat lain dikatakan Yesus itu adalah Tuhan Allah sendiri. Apakah patut, ada agama tetapi Tuhannya tidak jelas, ayat-ayat dalam kitab sucinya bertentangan satu dengan yang lainnya.

8. Injil Melarang Perkawinan Beza Agama

“Berkatalah mereka kepada kedua orang tua itu: ‘Kami tidak dapat berbuat demikian, memberikan adik kami kepada seorang laki-laki yang tidak bersunat (ingat kita pegang hukum setiap laki-laki Kristen harus disunat), sebab hal itu aib bagi kami. Hanyalah dengan syarat ini kami dapat menyetujui permintaanmu: kamu hendaklah sama seperti kami, iaitu setiap laki-laki diantara kamu harus disunat.’” (Kejadian 34:14-15)

Itulah hukum nikah beza agama yang jelas dilarang dalam Alkitab, begitulah hukum yang berlaku sejak dulu dan sepatutnya sekarang.

Theologi Kristian Membolehkan Perkahwinan Beza Agama

Kenapa orang Kristian tetap bersikukuh bahwa nikah beza agama itu dibolehkan? Kalau diteliti, ternyata pernikahan beza agama ini telah dijadikan senjata ampuh untuk melancarkan gerakan dakyah Kristianisasi di tubuh umat Islam. Misi ini dikenal dengan sebutan Misi Kawin Campur, target yang di sasar biasanya bukan pasangan hidupnya, melainkan anak-anaknya.

Lagi-lagi mereka mendapatkan celah untuk mengutarakan dalil mengenai bolehnya nikah beza agama dalam Kristen, namun ingat juga lagi-lagi ini merupakan bukti inkonsistensi Injil dalam menetapkan satu hukum. Dalil yang mereka gunakan dapat dilihat pada kitab 1 Korentus 7:12-14 yang berbunyi:

“Kenapa orang-orang lain aku (Paulus) bukan Tuhan, katakan: “kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.-dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia ceraikan laki-laki itu. Kerana suami yang tak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman dikuduskan oleh suaminya”

Itulah dalilnya Paulus yang membuat hukum sendiri, yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan Hukum Tuhan yang sudah ada sebelumnya.

9. Orang Kristen Mengatakan Batalnya Hukum Taurat

Sebahagian besar orang Kristen menolak ketika ditunjukan dalil yang terdapat pada kitab perjanjian lama, mereka menolak dengan alasan yang sangat lucu. Alasan yang mereka utarakan karena orang Kristen sekarang hanya menggunakan hukum yang ada di dalam perjanjian baru dan hukum taurat (perjanjian lama) itu sudah dibatalkan.

Kebanyakan dari mereka memiliki dalil yang mengatakan kenapa perjanjian lama (hukum taurat) itu dikatakan batal, tetapi lagi-lagi dalil yang mereka pakai lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran Paulus, mari kita simak pernyataan Paulus tentang hukum Taurat yang ada di kitab perjanjian lama berikut ini :

“Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi Dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Tuhan.” (Roma 7: 6) 2

Dapatkah saudara bayangkan bahwa dalam satu kitab suci setengahnya dipakai dan setengahnya lagi tidak terpakai, bukankah seharusnya kita curiga sebenarnya ada apa dengan Kristen ini. Maka sebagai muslim kita hendaklah cross check agar kita tidak menebar fitnah terhadap umat Kristen. Maka salah satu bentuk cross check itu adalah dengan mencari tahu bagaimanakah sikap Yesus selaku Tuhan orang Kristen dalam menyikapi permasalahan ini.

Yesus Membantah Batalnya Hukum Taurat

Sudah menjadi kewajipan bagi orang Kristen untuk mentaati perkataan Yesus selaku Tuhan mereka dari perkataan Paulus yang jelas adalah pembohong besar. Berikut ini perkataan Yesus tentang hukum Taurat:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama ini belum lenyap langit dan bumi ini, satu titikpun tidak akan meniadakan hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:17)

“Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi.” (Ibrani 10:28)

Yesus mengancam mereka dengan hukuman mati tanpa belas kasihan menurut syariat Kristen, masih beranikah mereka membatalkan hukum Taurat?


whbsribahgia2009.