"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

05 November, 2014

BERIMAN DENGAN KITAB-KITAB ALLAH

Di antara bentuk rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada para hamba-Nya adalah Dia mengutus para rasul untuk membimbing manusia kepada jalan yang lurus dan menurunkan kitab-kitab-Nya yang di dalamnya berisi cahaya dan hidayah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ
Kaana alnnaasu ummatan waahidatan faba'atsa allaahu alnnabiyyiina mubasysyiriina wamundziriina wa-anzala ma'ahumu alkitaaba bialhaqqi liyahkuma bayna alnnaasi fiimaa ikhtalafuu fiih

“Pada mulanya manusia itu ialah umat yang satu (menurut ugama Allah yang satu, tetapi setelah mereka berselisihan), maka Allah mengutuskan Nabi-nabi sebagai pemberi khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman dengan balasan Syurga, dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar dengan balasan azab neraka); dan Allah menurunkan bersama Nabi-nabi itu Kitab-kitab Suci yang (mengandungi keterangan-keterangan yang) benar”, (Al-Baqarah: 213)

Di antara ciri orang beriman sekaligus syarat kesempurnaan imannya adalah beriman kepada kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Quuluu aamannaa biallaahi wamaa unzila ilaynaa wamaa unzila ilaa ibraahiima wa-ismaa'iila wa-ishaaqa waya'quuba waal-asbaathi wamaa uutiya muusaa wa'iisaa wamaa uutiya alnnabiyyuuna min rabbihim laa nufarriqu bayna ahadin minhum wanahnu lahu muslimuuna

“Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman): "Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami (Al-Quran), dan kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dan Nabi Ishak dan Nabi Yaakub serta anak-anaknya, dan juga kepada apa yang diberikan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Isa (Injil), dan kepada apa yang diberikan kepada Nabi-nabi dari Tuhan mereka; kami tidak membeza-bezakan antara seseorang dari mereka (sebagaimana yang kamu - Yahudi dan Nasrani - membeza-bezakannya); dan kami semua adalah Islam (berserah diri, tunduk taat) kepada Allah semata-mata". (Al-Baqarah: 136)

Ayat di atas menunjukkan kewajiban beriman kepada para Nabi dan Rasul, dan beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka.

Beriman kepada kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala merupakan salah satu rukun iman. Yakni meyakini dengan keyakinan yang kuat bahawa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki kitab-kitab yang Dia turunkan kepada para Rasul yang dikehendaki-Nya, Dia turunkan dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang terang. Kitab-kitab tersebut adalah Kalamullah (Firman/ Perkataan Allah) bukan makhluk. Maka wajib beriman secara global kepada semua kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala, dan wajib beriman secara terperinci kepada kitab-kitab yang disebutkan namanya secara perinci.

Beriman kepada Kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala meliputi beberapa perkara berikut:

1.   Mengimani bahawa kitab-kitab tersebut benar-benar turun dari sisi Allah subhanahu wa
      ta’ala.

2.  Beriman terhadap kitab yang kita ketahui nama-namanya. kita mengimaninya sesuai dengan namanya, seperti beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab Al-Qur`an.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
syahru ramadaana alladzii unzila fiihi alqur-aanu hudan lilnnaasi wabayyinaatin mina alhudaa waalfurqaani

“Masa yang diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara yang benar dengan yang salah”. (Al-Baqarah: 185)

Allah Subhanahu wa ta’ala menurukan Taurat kepada Nabi Musa ‘alaihis sallam, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ
Innaa anzalnaa alttawraata fiihaa hudan wanuurun

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (terdapat) petunjuk dan cahaya (yang menerangi).” (Al-Ma`idah: 44)

Allah subhanahu wa ta’ala juga menurunkan Injil kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam:

وَقَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِم بِعَيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَآتَيْنَاهُ الإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى
Waqaffaynaa 'alaa aatsaarihim bi'iisaa ibni maryama mushaddiqan limaa bayna yadayhi mina alttawraati waaataynaahu al-injiila fiihi hudan wanuurun wamushaddiqan limaa bayna yadayhi mina alttawraati wahudan wamaw'izhatan lilmuttaqiina 

“Dan Kami utuskan Nabi Isa Ibni Maryam mengikuti jejak langkah mereka (Nabi-nabi Bani Israil), untuk membenarkan Kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya; dan Kami telah berikan kepadanya Kitab Injil, yang mengandungi petunjuk hidayah dan cahaya yang menerangi, sambil mengesahkan benarnya apa yang telah ada di hadapannya dari Kitab Taurat, serta menjadi petunjuk dan nasihat pengajaran bagi orang-orang yang (hendak) bertaqwa”. (Al-Ma`idah: 46)

Demikian juga Kitab Zabur, Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Dawd ‘alaihis salaam:

وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً
waaataynaa daawuuda zabuuraan 

“Dan Kami memberikan kitab Zabur kepada Daud.” (Al-Isra`: 55) “

Allah subhanahu wa ta’ala juga memberitakan tentang Shuhuf Ibrahim dan Shuhuf Musa dalam firman-Nya:

صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى
Inna haadzaa lafii alshshuhufi al-uulaa shuhufi ibraahiima wamuusaa 

“Sesungguhnya (keterangan-keterangan yang dinyatakan) ini ada (disebutkan) di dalam Kitab-kitab yang terdahulu, Iaitu Kitab-kitab Nabi Ibrahim dan Nabi Musa”. (Al-A’la: 18-19)

3. Membenarkan berita-berita yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut. Saperti berita-berita dalam Al-Qur`an, dan berita-berita dalam kitab-kitab sebelumnya yang belum mengalami perubahan atau penyimpangan.

4. Mengamalkan hukum-hukum dalam kitab-kitab tersebut selama tidak dihapus (mansukh), dengan penuh redha dan penerimaan, baik kita memahami hikmah di balik hukum-hukum tersebut ataukah tidak. Adapun kitab-kitab terdahulu maka semuanya telah dihapus dengan kitab Al-Qur`anul Karim.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ
Wa-anzalnaa ilayka alkitaaba bialhaqqi mushaddiqan limaa bayna yadayhi mina alkitaabi wamuhayminan 'alayhi fauhkum baynahum bimaa anzala allaahu walaa tattabi' ahwaa-ahum 'ammaa jaa-aka mina alhaqqi

“Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran, untuk mengesahkan benarnya Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan sebelumnya dan untuk memelihara serta mengawasinya. Maka jalankanlah hukum di antara mereka (Ahli Kitab) itu dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kepadamu), dan janganlah engkau mengikut kehendak hawa nafsu mereka (dengan menyeleweng) dari apa yang telah datang kepadamu dari kebenaran”.  (Al-Ma`idah: 48)

Muhaimin yakni sebagai hakim terhadap kitab-kitab terdahulu. Atas dasar itu tidak boleh mengamalkan hukum apapun yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu kecuali jika dibenarkan dalam Al-Qur`an.

Al-Qur`anul Karim kitab paling mulia

Al-Qur`anul Karim adalah kitab termulia, diturunkan kepada Nabi paling utama, dengan membawa syari’at paling mulia. Al-Qur`an merupakan kitab terakhir, membenarkan kitab-kitab terdahulu sekaligus menyempurnakan syari’at-syari’at sebelumnya. Kitab inilah yang umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya diwajibkan untuk mengikuti syari’at-syari’atnya dan berhukum dengannya, bersama dengan As-Sunnah yang juga merupakan wahyu yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi-Nya di samping Al-Qur`an.

وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ
Wa-anzala allaahu 'alayka alkitaaba waalhikmata wa'allamaka maa lam takun ta'lamu


“ Dan (selain itu) Allah telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Quran) serta Hikmah (pengetahuan yang mendalam), dan telah mengajarkanmu apa yang engkau tidak mengetahuinya”. (An-Nisa`: 113)

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dijadikan pedoman hukum, sekaligus sebagai obat penyakit yang ada di dada, penjelasan segala sesuatu, hidayah, dan rahmat bagi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur`an agar manusia membacanya dengan penuh tadabbur (memperhatikan) mengikuti, dan mengamal kandungannya.

 Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Kitaabun anzalnaahu ilayka mubaarakun liyaddabbaruu aayaatihi waliyatadzakkara uluu al-albaabi 

 “(Al-Quran ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), -Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang berakal sempurna beringat mengambil iktibar.” (Shad: 29)

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلاً لاَّ مُبَدِّلِ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Watammat kalimatu rabbika shidqan wa'adlan laa mubaddila likalimaatihi wahuwa alssamii'u al'aliimu 

“Dan Al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang penuh berkah, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kalian diberi rahmat.” (Al-An’am: 155)

Maka barang siapa membaca Kitabullah dengan penuh tadabbur, mengikutinya, dan mengamalkan kandungannya berarti benar-benar telah beriman dengan kitab tersebut.

Sebagaimana pujian Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمن يَكْفُرْ بِهِ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
alladziina aataynaahumu alkitaaba yatluunahu haqqa tilaawatihi ulaa-ika yu/minuuna bihi waman yakfur bihi faulaa-ika humualkhaasiruuna 

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan penuh tadabbur (sehingga mengikutinya dengan sebenarnya), mereka itu orang-orang yang beriman kepadanya, dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Baqarah: 121)

Mereka adalah orang-orang yang menghalalkan apa yang dinyatakan halal dalam Kitabullah, mengharamkan apa yang dinyatakan haram dalam Kitabullah, mengamalkan ayat-ayat yang muhkam (yang jelas), mengimani ayat-ayat yang mutasyabih(yang butuh penjelasan), mereka adalah orang-orang yang berbahagia, yang mengerti nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat besar ini dan bisa mensyukurinya.

Kitab Taurat dan Injil yang ada di tangan orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen tidak diragukan lagi adalah kitab-kitab yang tidak sah penisbatannya kepada Nabi Musa alaihis salaam, dan kepada Nabi ‘Isa alaihis salaam. Sehingga tidak boleh dikatakan bahawa kitab Taurat yang ada di tangan Yahudi adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam, tidak pula boleh dikatakan bahawa kitab Injil yang ada di tangan Kristen adalah Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa alaihis salaam. Sehingga kedua kitab tersebut yang ada di tangan Yahudi dan Kristen bukanlah Taurat dan Injil yang kita diperintah untuk mengimaninya secara terperinci.

Hal itu disebabkan telah terjadi penyelewengan, pemalsuan, dan perubahan yang dilakukan oleh tangan-tangan lancang orang-orang Yahudi dan Kristen terhadap kitabnya masing-masing. Hal ini sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam Al-Qur`an, di antaranya pada surah Al-Baqarah: 75, al-Ma`idah: 13-15, dan lainnya. Di samping penegasan Al-Qur`an, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahawa Taurat dan Injil yang ada tidak sah dinisbahkan sebagai kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala, antara lain:

1.      Taurat dan Injil yang sekarang ada di tangan Yahudi dan Kristen bukan naskah asli namun terjemahannya.

2.   Dalam naskah Taurat dan Injil yang ada tersebut telah tercampur antara Firman Allah Subhanahu wa ta'ala dengan perkataan manusia.

3.      Baik Taurat maupun Injil yang ada tersebut dibukukan setelah wafatnya Nabi Musa alaihis
salaam dan Nabi ‘Isa alaihis salaam dengan terpaut waktu yang sangat lama. Sementara tidak ada
keterangan tentang periwayatan dipercayai antara zaman penulisan hingga Nabi Musa alaihis salaam
maupun Nabi ‘Isa alaihis salaam. Semakin menguatkan hal ini, Injil muncul dalam beberapa naskah, ada Injil Matius, Injil Yohanes, dll.

4.     Terdapat pertentangan antara naskah-naskah Taurat dan Injil yang ada.

5.     Dalam Taurat dan Injil yang ada di tangan Yahudi dan Kristen tersebut ternyata berisi aqidah-aqidah yang batil dan sesat, berita-berita dusta, dan hikayat-hikayat yang tidak boleh dipertanggungjawabkan.

Maka kewajiban kaum mukminin meyakini, bahawa Taurat dan Injil yang ada di tangan Yahudi dan Kristen tersebut bukanlah kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya, namun itu adalah hasil penyimpangan Yahudi dan Kristen terhadap kitabnya. Maka kita tidak membenarkannya sama sekali kecuali apa yang telah dibenarkan oleh Al-Qur`anul Karim atau oleh As-Sunnah yang mulia. Dan kita dustakan apa yang telah didustakan oleh Al-Qur`anul Karim atau As-Sunnah yang mulia. Adapun yang tidak ada keterangan Al-Qur`an maupun As-Sunnah tentangnya maka kita tidak membenarkan tidak pula mendustakannya.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: Ustadz Ahmad Alfian hafizhahullaahu ta’aalaa
Edit/posted by: HAR

Kesimpulan - Tambahan

Al-Quran mempunyai banyak hikmah yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Pelbagai kajian dilakukan daripada dahulu sampai sekarang, berapa banyak rahsia-rahsianya telah dicungkil keluar. Kajian terhadapnya tidak akan habis sampai bila-bila. Begitulah kelebihan yang ada pada al-Quran, tetapi tidak ramai pun manusia yang ingin mengambilnya sebagai wasilah kehidupan. Tambahan pula orang yang menghafal dan membacanya selalu, maka bertambah-tambahlah keberkatan al-Quran di dalam kehidupannya dan kehidupan orang yang dekat dengannya.

Jangan khuatir, jika kita tidak menghafal al-Quran, boleh jadi suami kita nanti seorang yang menghafal al-Quran, atau isteri kita, atau anak-anak kita, atau cucu-cucu kita kelak. Cuma, kita jangan putus asa berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar diberi kesempatan. Insyaallah, kita akan merasai keberkatannya di dalam kehidupan kita semua jika al-Quran menjadi satu cara hidup.

HAR

03 November, 2014

ISI YANG TERSIRAT DALAM SURAH AL-FATIHAH (1)


Jelas bagi kita bahawa orang yang menafakuri dan menganalisis apa yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah, pasti akan memperolehi hasil yang memenuhi keperluan manusia dalam beragama tentang kehidupan dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu wa ta’ala memulai kitab-Nya dengan  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (bismillah hir Rahma nir rahiim - Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani) sampai akhir Surah Al-Fatihah kerana didalamnya telah tercakup segala rahsia sampai yang sehalus-halusnya.

Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih haiwan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak memerlukan makhluk-Nya, tapi makhluk yang memerlukan-Nya. Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahawa Allah melimpahkan kurnia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahawa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. Setiap perbuatan yang tidak dimulai dengan “Bismillah hir-Rahman nir-Rahim” tidak mempunyai erti apa-apa menurut pandangan Allah Subhanahu wa ta’ala;

SURAH AL-FATIHAH

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Alhamdu lillaahi rabbi al'aalamiina

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (Surah Al-Fatihah: 2)

(Alhamdulillah - الْحَمْدُ للّهِ  ) : “Segala Puji” menunjukkan bahawa Allah Subhanahu wa ta’ala Tuhan Maha pencipta, Penentu, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, yang berhak menerima puji dan pujian yang mutlak.

(Rabbi al'aalamiina -  رَبِّ الْعَالَمِينَ ) : “Tuhan semesta alam” menunjukkan  bahawa Allah Subhanahu wa ta’ala itu Tuhan yang Maha Tunggal dan seluruh alam adalah kepunyaan-Nya, tiada Tuhan selain Allah Subhanahu wa ta’ala. (Lafadz "rabb" tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan)

الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
Ar rahman nir rahiem

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (Surah Al-Fatihah: 3)

(Ar rahman nir rahiem - الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ ) : Menunjukkan bahawa Allah Subhanahu wa ta’ala yang melimpahkan seluruh nikmat dan kebaikan kepada seluruh makhluk dengan curahan kurnia yang timbul dari kemurahan-Nya. Tiada puji dan pujian dengan pengangungan yang sempurna kecuali kepada zat pemberi nikmat Yang Maha Mulia, yang kebaikan-Nya meliputi sebelum, disa’at, sesudah mati.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Maliki yawmid deen

“Yang menguasai di hari Pembalasan” (Surah Al-Fatihah: 4)

(Maliki yawmid deen - مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) : Menunjukkan bahawa Tuhan Allah Subhanahu wa ta’ala, berdasarkan hikmat dan rahmat-Nya, menetapkan hati akhirat sesudah alam fana sebagai hari Pengadilan. Pada hari itu akan ditunjukkan mana manusia yang hakikatnya berbuat baik, dan yang mana berbuat jahat, mana yang zalim dan mana yang menzalim.

Dalam kehidupan dunia kadang-kadang kita terlihat sebaliknya. Orang yang berbuat baik dianggap berbuat jahat, sedangkan orang yang berbuat jahat disanjung dan dipuji.

Yaumiddin (hari pembalasan): Di waktu dimana masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iinu

“Hanya Engkaulah yang kami sembah  dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (Surah Al-Fatihah: 5) 

(Iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iinu - إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) : Menunjukkan bahawa manusia wajib mengetahui cara beribadat yang sebaik-baiknya.

Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagai Tuhan yang disembah, kerana berkeyakinan bahawa Allah Subhanahu wa ta’ala mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

 Nasta'iin (minta pertolongan), diambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Cara beribadat yang ditunjukkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala didalam ayat ini ialah:

1.         Realisasi dalam bentuk tingkah laku yang dimanifestasikan dalam:

            a.  bentuk ibadat yang sesuai dengan tuntutan Allah Subhanahu wa ta’ala dan   
               Rasul-Nya.
           
            b.  bentuk I’tikat yang menegaskan bahawa dirinya tidak dapat melaksanakan 
               ibadatNya kecuali kerana kekuasaan dan pertolongan Allah Subhanahu wa 
               ta’ala semata-mata.

2.         Kesan dalam bentuk tingkah laku yang meninggalkan bekas sebagai akibat dari
           ibadat dan I’tikat yang dilihat dalam kehidupannya:

            a.  selalu merasa senang dalam berbakti kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

            b.  berbudi perkerti lulur (mulia) dan terpuji serta sederhana.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ  اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Ihdinaash shiraathal mustaqiima, shiraathal ladziina an'amta 'alayhim 

‘Tunjukilah  kami jalan yang lurus, (iaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”. (Surah Al-Fatihah: 6-7)

(Ihdinaash shiraathal mustaqiima, shiraathal ladziina an'amta 'alayhim - صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ  اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ) : Menunjukkan bahawa permohonan petunjuk nikmat dan jalan yang pernah diberikan kepada para Nabi, Shiddiqin dan Syuhada, merupakan sifat yang terpuji dan jalan yang direadhai.

غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّين
ghayril maghdhuu bi'alayhim walaladh dhaaliin

“.. bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (Surah Al-Fatihah: 7)

(ghayril maghdhuu bi'alayhim walaladh dhaaliin - غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ) : Menunjukkan bahawa menjauhkan diri dari orang-orang yang celaka yang menurutkan hawa nafsunya serta menambah-nambah agama, salah satu kewajipan manusia.

Yang dimaksud dengan "mereka yang dimurkai" dan "mereka yang sesat" ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Bergaul dengan orang saperti itu akan diwarisi akhlak tercela serta disebarkan perbuatan mereka. Oleh kerana itu, apabila kita ingin mengetahui seseorang, perlulah kita ketahui siapa kawan karibnya.

a.         Syahwat (dorongan ingin mencapai sesuatu) yang tergambar dalam sifat
kebinatangan dan berakibat merugikan orang lain.

b.         Marah, yang tergambar dalam sifat binatang buas lebih berbahaya dari syahwat
yang berakibat merugikan orang lain.

c.         Hawa nafsu yang tergambar dalam sifat syaitan yang merasuk dalam diri manusia dan lebih berbahaya dari dorongan marah. Apabila manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya, ia tidak akan diperdulikan oleh Tuhan-Nya.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

“Kezaliman itu ada 3 macam: Kezaliman yang tidak diampuni, yang akan diperhitungkan, dan yang akan dimaafkan. Kezaliman yang tidak diampuni adalah syirik kepada (mneyekutukan) Allah Subhanahu wa ta’ala. Kezaliman yang akan diperhitungkan adalah kezaliman antara manusia, dan kezaliman yang akan dimaafkan adalah penganiayaan terhadap dirinya sendiri. (Hadits Riwayat Ath-Thaya’lisi dan Al-Bazzar yang bersumber dari Anas)

Adapun kezaliman yang tidak akan diampuni, bersumber dari hawa nafsu, yang dapat menimbulkan kekufuran dan menambah-nambah agama, dan kezaliman yang akan diperhitungkatan (antara manusia) bersumber dari dorongan marah yang dapat menimbukan sifat ujub takabur (sombong), sedangkan kezaliman yang diharapkan dapat dimaaf oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bersumber dari syahwat (dorongan) yang dapat menimbulkan sikap rakus dan kikir.

Sekiranya keenam sifat tersebut diatas (Kufur, Menambah-nambah agama, Ujub, Takabur, Rakus dan Kikir) terkumpul pada diri seseorang, timbullah sifat akhlak yang sangat tercela yang disebut hasud yang menjadi puncak segala kejahatan manusia.

Allah Subhanahu wa ta’ala memberi petunjuk kepada hamba-Nya untuk selalu memohon perlindungan dari perbuatan orang-orang yang menghasut.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
wamin syarri haasidin idzaa hasada

 “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan dengkinya”. (Surah Al-Falaq: 5)

Adapun tingkatan pribadi-pribadi yang sangat tercela dibandingkan dengan pribadi pencuri, ahli zina, tukang judi, pembunuh dan sebagainya, adalah kepribadian syaitan yang selalu mendorong manusia untuk berbuat jahat.

Sebagaiman Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
alladzii yuwaswisu fii shuduuri alnnaasi 

“Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia..”(Surah An-Nas: 5)

Setelah kita mengetahui berbagai penyakit yang terdapat pada manusia dan telah memahami kandungan Surah Al-Fatihah, nyatalah Allah Subhanahu wa ta’ala telah mencipta ubat bagi setiap penyakit. Nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah tersimpul dalam “Bismillah hir-Rahman nir-Rahim” dapat menolak penyakit perbuatan hawa nafsu, marah dan syahwat yang tidak terkendalikan. Ayat-ayat selanjutnya sampai akhir surah, dapat menolak 7 penyakit yang muncul akibat ketiga dorongan yang tidak terkendalikan (Kufur, menambah-nambah agama, ujub, takabur, rakus, kikir dan hasut)

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

اَفَرَءَيۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ
afara-ayta mani ittakhadza ilaahahu hawaahu

 “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…(Surah Al-Jathiyat: 23)

Sekiranya ia mengenal nama Allah Subhanahu wa ta’ala dan tahu bahawa tiada Tuhan kecuali Allah, syaitan dan hawa nafsu akan menjauhi dirinya.

BERSAMBUNG…..
ISI YANG TERSIRAT DALAM SURAH AL-FATIHAH (2)


Barangsiapa yang mengenal sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala bersifat Arrahman, tentu dia tidak akan marah, kerana timbulnya kemarahan itu menuntut kedudukan yang tinggi, sedang kedudukan yang tinggi hanya dimiliki oleh Tuhan yang bersifat Arrahman.

Barangsiapa yang mengucapkan (dan beritikad serta melaksanakan sesuai dengan ucapan itu); “Alhamdulillah” orang tersebut telah memuji syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala serta rela terhadap hasil yang telah diperolehinya.

Barangsiapa yang mengenal bahawa sesungguhnya Allah “Rabbul’alamin” tertolak dari dirinya merbahaya akibat syahwat  kesenangan melaksanakannya, hilanglah kerakusan untuk memperoleh yang belum dimilikinya, serta hilang pula kekikiran akan harta yang dimilikinya, dan yakin bahawa sesungguhnya Allah bersifat “Arrahman, Arrahmin”.

Barangsiapa yang mengucapkan “Maliki yawmiddin”, surutlah kemarahannya. Dan barangsiapa mengucapkan “Iyyaka na’budu” surutlah kesombongannya. Barangsiapa yang mengucapkan “Iyyaka nasta’inu” surutlah sikap ujub (Sikap terlalu yakin dirinya mampu melaksanakan segala tanpa Insha Allah.

Barangsiapa yang mengucapkan “Ihdinasshirathal mustaqiin” tertolaklah darinya hawa nafsu keiblisan. Dan barangsiapa yang mengucapkan “Shirathal ladzina an’amta alaihim” hilanglah kekufurannya. Barangsiapa yang mengucapkan “Ghairil maghdlubi ‘alaihim waladl-dlallin”, tertolaklah dari dirinya sikap menambah-nambah agama, hilanglah merbahaya akibat hawa nafsu yang melahirkan kekufuran dan menambah-nambah agama. Apabila telah hilang akhlak jahat, tertolaklah dari dirinya sikap hasud.

Keseluruhan isi Al-quran merupakan uraian dan perincian surah Al-Fatihah. Keseluruhan akhlak yang hina bersumber dari ketujuh akhlak tersebut diatas (kikir, rakus, takabur, Ujub, menambah-nambah agama, kufur dan hasud)

Dengan demikian Quran merupakan ubat bagi seluruh menyakit akhlak yang hina itu. Dari surah Al-Fatihah dapatlah kita simpulkan bahawa penciptaan makluk itu memerlukan lima (5) sifat:

1.         Pengadaan, yang tercermin dalam nama “Allah” (ketuhanan)

2.         Pengurusan bagi kemaslahatan hidup yang tercermin dalam nama “Arrab” (Pemilik)

3.         Penyediaan tempat dan keperluan hidup yang tercermin dalam nama “Arrahman” (Pengasih)

4.         Penyediaan tempat kembali berserta kehidupannya yang tercermin dalam nama “Arrahim”

5.         Pemindahan roh dan alam dunia kea lam akhirat yang tercermin dalam nama “Malikyaumiddin”

Dengan mengetahui keempat nama yang pertama (Allah, Arrab, Arrahman dan Arrahim) manusia akan mendekatkan diri kepada segala kebaikan dan menjauhkan diri dari segala kejahatan. Dengan mengetahui dan meyakini kelima sifat tersebut diatas, ia akan menerima kenyataan dan berpegang pada 2 prinsip:

a.         (...Iyyaka na'budu  إِيَّاكَ نَعْبُدُ ) - (hanya kepada-Mu kami sembah/mengabadi), kerana sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Maha Penyayang, Maharaja, yang memindahkan manusia dari alam penderitaan ke alam kebahagian.

b.         (...Iyyaka nastainu  إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) – (kepadaMu kami memohon pertolongan), kerana sesungguhnya Allah zat Pemelihara, yang memberi reziki, Maha Penyayang, Pemilik segala-galanya.

Untuk kehidupan dalam perjalanan didunia diperlukan bekal, dan bekal yang paling
baik adalah ibadah. Usaha untuk memperoleh bekal dengan kekuatan dan kekuasaan
manusia, tentu tidak akan memadai.

Oleh kerana itu manusia memohon bantuan dan pertolongan Allah Subhanahu wa
ta’ala yang akan memberi bekal secukupnya bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Setelah manusia memperoleh bekalan dengan bantuan dan pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala, dia akan mengarungi  kehidupan   dunia yang   berliku-liku dan jalan  yang bersimpang  siur, ia tidak akan  mencapai  kebahagian  diakirat kecuali  harus melalui jalan yang telah dirintis oleh para Rasul, para Nabi dan Shalihin. Oleh kerana itu ia memohon petunjuk jalan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan ucapan ...Ihdinaash shiraathal mustaqiima  اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ (Tunjukilah kami jalan yang lurus).

Untuk menempuh jalan yang jauh itu perlu kawan (para shiddiqiin, syuhada dan shalihin) dan petunjuk jalan (para Nabi dan Rasul) yang tersimpul dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

...shiraathal ladziina an'amta 'alayhim  صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِم : Mereka ini tidak termasuk golongan yang tersimpul dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

...ghayril maghdhuu bi'alayhim walaladh dhaaliin غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّين
“.. bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

(Dinukil dari buku berjudul – Ayat-ayat Hukum Tafsir dan Uraian perintah-perintah
dalam Al-Quran karya K.H.Q Shaleh, H.A.A. Dahlan dan H.M.D. Dahlan)
Posted by HAR
Wahai Tuhan kami, hilangkanlah dari kami segala penghalang yang menghalangi kami
dari Engkau, dengan rahmat dan kurnia-Mu, Wahai Maha Penyayang.