"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

14 May, 2018


Menyambut Ramadhan Sesuai Tuntunan Nabi

Tiba saatnya kaum muslimim menyambut tamu agung bulan Ramadhan, tamu yang dinanti-nanti dan dirindukan kedatangannya. Sebentar lagi tamu itu akan bertemu dengan kita. Tamu yang membawa berkah yang berlimpah ruah. Tamu bulan Ramadhan adalah tamu agung, yang semestinya kita bergembira dengan kedatangannya dan merpersiapkan untuk menyambutnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda). (Surah Yunus: 58)

Yang dimaksud dengan “kurnia Allah” pada ayat di atas adalah Al-Qur’anul Karim (Lihat Tafsir As Sa’di).

Bulan Ramadhan dinamakan juga dengan Syahrul Qur’an (Bulan Al Qur’an). Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut dan pada setiap malamnya Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam untuk mengajari Al-Qur’an kepada beliau. Bulan Ramadhan dengan segala keberkahannya merupakan rahmat dari Allah. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dan lebih berharga dari segala perhiasan dunia.

‘Ulama Ahli Tafsir terkemuka Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya:

“Bahwasannya Allah memerintahkan untuk bergembira atas kurnia Allah dan rahmat-Nya karena itu akan melapangkan jiwa, menumbuhkan semangat, mewujudkan rasa syukur kepada Allah, dan akan mengukuhkan jiwa, serta menguatkan keinginan dalam berilmu dan beriman, yang mendorang semakin bertambahnya kurnia dan rahmat (dari Allah). Ini adalah kegembiraan yang terpuji. Berbeza halnya dengan gembira karena syahwat duniawi dan kelazatannya atau gembira diatas kebatilan, maka itu adalah kegembiraan yang tercela.

Sebagaimana Allah berfirman tentang Qarun,

لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
“Janganlah kamu terlalu bangga, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.” (Surah Al Qashash: 76)

Kurnia dan rahmat Allah berupa bulan Ramadhan juga patut untuk kita sampaikan dan kita sebarkan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin. Agar mereka menyedarinya dan turut bergembira atas limpahan kurnia dan rahmat dari Allah.

Allah berfirman :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat dari Rabb-Mu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.” (Surah Adh-Dhuha: 11)

Dengan menyebut-nyebut nikmat Allah akan mendorong untuk mensyukurinya dan menumbuhkan kecintaan kepada Dzat yang melimpahkan nikmat atasnya. Karena hati itu selalu condong untuk mencintai siapa yang telah berbuat baik kepadanya.

Maka sudah sepantasnya seorang muslim benar-benar menyiapkan diri untuk menyambut bulan yang penuh barakah itu, iaitu menyiapkan iman, niat ikhlash, dan hati yang bersih, di samping persiapan fisik.

Ramadhan adalan bulan suci yang penuh rahmat dan barakah. Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka pintu-pintu Al-Jannah (surga), menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu syaithan. Allah ‘Azza wa Jalla melipat gandakan amalan shalih yang tidak diketahui kecuali oleh Dia sendiri. Barangsiapa yang menyambutnya dengan sungguh-sungguh, bershaum degan penuh keimanan dan memperbanyak amalan shalih, serta menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang boleh merusak ibadah shaumnya, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan mengampuni dosa-dosanya dan akan melipatkan gandakan pahalanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berabda:

“Barang siapa yang bershaum dengan penuh keimanan dan harapan (pahala dari Allah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lampau.” (Muttafaqun ‘alahi)

“Setiap amalan bani Adam akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah I berfirman: “kecuali ibadah shaum, shaum itu ibadah untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.” (Hadits Riwayat: Muslim)

Masih banyak lagi keutamaan dan keberkahan bulan Ramadhan yang belum disebutkan dan tidak cukup untuk disebutkan di sini.

Namun yang terpenting bagi saudara-saudaraku seiman, adalah mensyukuri atas limpahan kurnia Allah dan rahmat-Nya. Janganlah nikmat yang besar ini kita nodai dan kita kotori dengan berbagai penyimpangan dan kemaksiatan. Nikmat itu akan semakin bertambah bila kita pandai mensyukurinya dan nikmat itu akan semakin berkurang bahkan boleh sirna bila kita mengkufurinya.

Termasuk sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah, pada bulan yang penuh barakah ini kita ciptakan suasa yang penuh kondusif. Jangan kita nodai dengan perpecahan. Kewajiban kita seorang muslim mengembalikan segala urusan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada para ulama bukan berdasarkan pendapat pribadi atau golongan.

Permasalah yang sering terjadi adalah perbezaan dalam menentukan awal masuknya bulan Ramadhan. Wahai saudara-saudaraku, ingatlah sikap seorang muslim adalah mengembalikan kepada Kitabullah (Al-Qur’an) dan As Sunnah dengan bimbingan para ulama yang terpercaya.
Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam telah menetukan pelaksanaan shaum Ramadhan berdasarkan ru`yatul hilal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Bershaumlah kalian berdasarkan ru`yatul hilal dan ber’idul fithrilah kalian berdasarkan ru`yatul hilal. Apabila (hilal) terhalangi atas kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” Hadits Riwayat.: Al-Bukhari dan Muslim

Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam juga menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan secara kebersamaan.

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:

“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka/beriedul Fitri adalah pada saat kalian berbuka/beriedul Fitri, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.” (Hadits Riwayat: At Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah)

Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits Abu Hurairah di atas dengan perkataan (mereka), ‘sesungguhnya shaum dan ber’Idul Fitri itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah (Pemerintah Muslimin) dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi 2/37)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama pemerintah dan jama’ah (mayoriti) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa 25/117)

Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, Iedul Fithri dan Iedul Adha –pen) keputusannya bukanlah di tangan individu, dan tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada pemerintah dan mayoritas umat Islam, dan dalam hal ini setiap individu pun wajib untuk mengikuti pemerintah dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun pemerintah menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Ash-Shahihah 2/443)

Menaati pemerintah merupakan prinsip yang harus dijaga oleh umat Islam. Terlebih pemerintah kita telah berupaya menempatkan utusan-utusan pada pos-pos ru’yatul hilal di d berbagai daerah di segenap nusantara ini.

Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa mentaatiku berarti telah mentaati Allah, barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah, barangsiapa mentaati pemimpin (umat)ku berarti telah mentaatiku, dan barang siapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (Hadits Riwayat: Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban mentaati para pemerintah dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, 13/120).

Sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pula hendaklah kita hidupkan bulan yang penuh barakah itu dengan amalan-amalan shalih, amalan-amalan yang ikhlash dan mencocoki sunnah Rasulullah. Kita menjauhkan dari amalan-amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah.

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berwasiat :

“Barangsiapa yang membuat-buat amalan baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (Hadits Riwayat: Muslim)

Para ‘ulama berkata : “Bahwa hadits merupakan kaidah agung di antara kaidah-kaidah Islam. Ini merupakan salah satu bentuk jawami’ kalim (kalimat singkat namun bermakna luas) yang dimikili oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hadits ini sangat jelas dalam membatalkan semua bentuk bid’ah dan hal-hal baru yang dibuat dalam agama. Lafazh kedua lebih bersifat umum, karena mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah, walaupun pembuatnya orang lain.”

Termasuk perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan dengan amalan atau ritual tertentu, di antaranya :

1. Apa yang dikenal dengan acara Padusan(berturut-turutan). Iaitu mandi bersama-sama dengan masih mengenakan busana, terkadang ada yang memimpin di suatu sungai, atau sumber air, atau telaga. Dengan niat mandi besar, dalam rangka membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sampai-sampai ada di antara muslimin yang berkeyakinan Kalau sekali saja terlewat dari ritual ini, rasanya ada yang kurang meski sudah menjalankan puasa. Jelas perbuatan ini tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga para shahabat, para salafus shalih, dan para ‘ulama yang mulia tidak ada yang mengamalkan atau menganjurkan amaliah tersebut. Sehingga kaum muslimin tidak boleh melakukan ritual ini.

Belum lagi, dalam ritual Padusan ini, banyak terjadi kemungkaran. Ya, jelas-jelas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan. Jelas ini merupakan kemungkaran yang sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam.

2. Nyekar (Suatu adat menabur bunga) di kuburan leluhur (Nenek moyang).

Tak jarang dari kaum muslimin, menjelang Ramadhan tiba datang ke pemakaman. Dalam Islam ada tuntunan ziarah kubur, yang disyari’atkan agar kaum muslimin ingat bahwa dirinya juga akan mati menyusul saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia lebih dahulu, sehingga dia pun harus mempersiapkan dirinya dengan iman dan amal shalih. Namun ziarah kubur, yang diistilahkan oleh orang jawa dengan nyekar, yang dikhususkan untuk menyambut Ramadhan tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam. Apalagi mengkhusukan nyekar di kuburan leluhur. Ini adalah perkara baru dalam agama. Tak jarang dalam ziarah kubur tercampur dengan kemungkaran. Yaitu sang peziarah malah berdoa kepada penghuni kubur, meminta-minta pada orang yang sudah mati, atau ngalap berkah dari tanah kuburan! Ini merupakan perbuatan syirik!

3. Minta ma’af kepada sesama menjelang datangnya Ramadhan.

Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna.

Tidak diragukan, bahwa meminta ma’af kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.

Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan Ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.

Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlash kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.

Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlash, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Juga perlu adanya kesiapan fisik, agar tubuh kita benar-benar sehat sehingga boleh menjalankan berbagai ibadah dan amal shalih pada bulan Ramadhan dengan lancar.

Puncak dari itu semua adalah semoga puasa dan semua amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini benar-benar bisa mengantarkan kita pada derajat taqwa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang gagal dalam Ramadhan ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan berapa banyak orang menegakkan ibadah malam hari, namun tidak ada yang ia dapatkan kecuali hanya bertahan saja.” (Hadits Riwayat: Ibu Majah)

Juga beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam mendatangiku, dia berkata : ‘Barangsiap yang mendapati bulan Ramadhan namun tidak menyebakan dosanya diampuni dia akan masuk neraka dan Allah jauhkan dia. Katakan amin (wahai Muhammad). Maka aku pun berkata : Amin.” (Hadits Riwayat: Ibnu Khuzaimah dan Ahmad)

Semoga kita termasuk orang yang mendapat keutamaan dan fadhilah dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah menyatukan hati-hati kita di atas Islam dan Iman. Dan semoga Allah menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai jembatan menuju keridhaan Allah ‘Azza wa Jallah dan meraih ketaqwaan kepada-Nya.

Wallähu a’lam..

Posted by: HAR
Sumbangan Artikel: dakwahhikmah/salafy. org

11 May, 2018


KATA-KATA KASAR & CACI-MAKI DALAM ISLAM

Ia mungkin sedikit rasa sakit hati, hati yang "panas" atau pergolakan emosi, jika seseorang mengecam dan menuduh kita. Menggunakan kata-kata yang tidak selesa bahkan tidak sesuai yang keluar dari mulut seseorang yang mendakwa dirinya sebagai seorang Muslim. Seorang Muslim hanya mengatakan yang baik atau mendiamkan diri sahaja. Ini boleh berlaku di dunia nyata dan dunia siber ketika ini. Terutama di ruang siber, kadang-kadang ada orang yang kita tidak tahu, mengulas dengan kata-kata kasar dan kritikan dengan pelbagai tohmahan daripada manusia sekelilingi. 

Rasulullah s.a.w., bersabda yang bermaksud:

''Seorang mukmin bukanlah tukang mencela, tukang melaknat orang, tukang berkata kotor dan berkata rendah'. (Riwayat Tarmizi).

Para ulama menjelaskan bahawa hanya orang jahil yang mengeluarakan kata-kata kasar dan fitnah. Kerana kadang-kadang kata-kata kasar dan menfitnah itu sebenarnya untuk menutupi kebodohannya dan untuk menutupi kekalahan dia didalam perbincangan atau berdebat. Maaf sahaja, orang bodoh hampir seperti orang gila, jadi jika ada orang gila atau bodoh yang mencaci maki, maka tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Sebab orang gila tidak peduli?

Jangan Hiraukan Celaan Muqallid (orang-orang awam yang belum atau tidak sampai kepada derajat ijtihad.)

Berkata al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tabaraka wa ta'ala :

"Adapun orang yang bodoh yang tabiatnya taqlid (membebek) maka jangan engkau pedulikan dia. Sikapnya yang mencelamu, mengkafirkanmu dan menganggapmu sesat, itu tidak akan memberikan pengaruh jelek kepadamu, karena itu bagaikan lolongan anjing.

Maka janganlah engkau menjadikan bagi anjing sesuatu yang punya nilai (kedudukan) di sisimu, dengan engkau membalasnya setiap kali dia melolongkan suaranya kepadamu.

Biarkan dia bergembira dengan lolongannya. Dan bergembiralah engkau dengan karunia yang ada padamu berupa ilmu, iman, dan hidayah. Dan jadikanlah berpalingnya engkau dari dirinya sebagai bagian dari rasa syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu dan yang engkau dibuat senang dengannya."

[Ash-Shawaiqul Mursalah 3/1158]

Kata-kata yang kasar dan caci-maki sudah menunjukkan bahwa niatnya tidak baik, bukan mencari kebenaran dengan berdiskusi. Hanya mencari “masalah” saja. Kita juga diperintahkan agar menjauhi dan berpaling dari orang yang bodoh ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِيْنَ
“Terimalah apa yang mudah engkau lakukan, dan suruhlah dengan perkara yang baik, serta berpalinglah (jangan dihiraukan) orang-orang yang jahil (yang degil dengan kejahilannya)”. (Surah Al-A’raf: 199)

Imam Syafie rahimahullah berkata,

فإن كلمته فرجت عنه .. وإن خليته كمدا يموت
“Apabila kamu melayaninya, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati”

Yang lebih penting lagi adalah urusan di hari kiamat. Ia mencaci-maki kita atau bahkan menyebarkan fitnah, maka di hari kiamat nanti ia akan mencari-cari kita untuk meminta maaf dan membayar dengan pahalanya. Jika pahalanya sudah habis, maka dosa kita diberi kepadanya.

Jadi, diam itu adalah hal terbaik untuk segala permasalahan hidup. Apalagi jika diam kita dengan tujuan tidak ingin mencari permasalahan. Bukankah Singa ditakuti karena dia diam sedangkan anjing dijadikan mainan karena ia menggonggong?

Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

أتَدْرُونَ مِن الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا لَهُ دِرْهَمَ وَلَا دِينَارَ وَلَا مَتَاعَ قَالَ الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ يَأْتِي بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ عِرْضَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُقْعَدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kalian siapakah yang disebut dengan orang yang muflis?” Para sahabat menjawab; “Orang yang muflis menurut kami wahai Rasulullah, adalah orang yang tidak punya dirham dan dinar serta harta benda.” Baginda bersabda: “Seorang muflis daripada kalangan umatku ialah seorang yang datang pada hari Kiamat dengan pahala solat, puasa dan zakat, namun (pada masa yang sama) dia juga membawa dosa mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan memukul orang ini (dan seumpamanya), lalu diberikan kepada orang ini sebahagian daripada pahala-pahala kebaikannya dan diberikan kepada orang itu pula sebahagian pahalanya, hinggalah akhirnya habis pahalanya namun belum lagi terbayar dosa-dosa yang tertanggung atasnya, lalu diambil dosa-dosa mereka tadi dan ditompukkan ke atasnya hingga akhirnya dia dihumban ke dalam neraka (kerana banyak dosa)” (HR Ahmad No: 8062) Status: Hasan Sahih

Ingatlah pesanan Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Daripada Abu Hurairah RA bahawa Rasulullah  SAW pernah bertanya: “Tahukah kamu, apakah ghibah (mengumpat) itu?” Para sahabat menjawab; Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Engkau menyebut tentang hal saudara kamu yang ia tidak sukai.” Baginda ditanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika apa yang ada pada saudaraku sesuai dengan yang aku bicarakan?” Baginda menjawab: “Jika apa yang engkau katakan itu memang benar-benar ada maka engkau telah berbuat ghibah (mengumpat), namun jika tidak benar, maka engkau telah berbuat fitnah.”
(HR Muslim No: 4690)  Status: Hadis Sahih

Dalam kehidupan terkadang kita akan selalu dihadapi dengan berbagai pilihan sikap, barbagai reaksi yang kita pilih dengan bermacam macam sikap dan tingkah laku, ada yang memang sikap dasar bawaan kita ada pula sikap yang kita kamuflase dan disembunyikan untuk alasan tertentu. Baik dilingkungan keluarga, tempat tinggal dan pekerjaan termasuk organisasi, kita cendrung berhadapan dengan berbagai tingkah laku orang lain yang tentunya sangat beragam dalam menghadapi masalah , ada yang meng-counter habis habisan, adapula yang arogan, ada juga yang diam dan tidak bereaksi terhadap serangan dan masalah.

Semoga bermanfaat, Barokalloh Warokhimakumulloh Wayuslihubalakum !!

Posted by: HAR

10 May, 2018


KHUTBAH RASULULLAH MENJELANG RAMADHAN

Di samping memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadan, Rasulullah saw sentiasa memberi nasihat dan mesej. Ini adalah 'azimat' Nabi ketika memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di samping Allah. Hari-harinya adalah hari yang paling penting/utama. Malam adalah malam yang paling penting/utama. Waktu adalah waktu yang paling penting/utama.

Ini adalah bulan apabila kita dijemput menjadi tetamu Allah SWT dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini, nafas kita menjadi tasbih, tidur kita adalah ibadah, amal-amal kita diterima dan doa-doa kita menjadi diijabah. Berdoalah kepada Allah SWT Rabb kita dengan niat ikhlas, tulus dan hati yang suci murni agar Allah SWT membimbing kita untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah mereka yang tidak mendapat pengampunan Allah SWT dalam bulan yang mulia ini. Ingat kelaparan dan dahaga pada hari kiamat. Bersedekah kepada kaum fuqara dan miskin. Hormatilah ibu bapa kita, sayangilah yang muda, sambungkan persaudaraan tali kita, menjaga lidah kita, tahan pandangan kita tentang apa yang tidak halal yang kita melihat dan pendengaran kita dari apa yang tidak halal kita mendengarnya. Sayang anak-anak yatim. Bertobatlah kepada Allah SWT dari dosa-dosa kita. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih sayang; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia!
Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: "Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, iaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'."

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Syaitan-syaitan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: "Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".

 Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'."

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'."

"Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain."

"Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya."

"Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang."

Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, "Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu."

"Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka."

"Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya."

"Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka."

"Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga." (HR. Ibnu Huzaimah).

Posted by: HAR
Rujuk: swaramuslim.net

06 January, 2018

THE SIN OF BREAKING FAMILY TIES

The importance to nurture and maintain a family bond  (Silatur-Rahim) is indeed an extraordinary importance in Islam. To treat another with politeness, kindness and to forgive and forget. It is our duty to be discharged without an eye for reciprocity. To all, ESPECIALLY family.

Islam highlighted the importance of family and priorities their interest above others, with the basis of love and respect.

In a narration, Prophet Muhammad SAW said that: “I command all the people of my followers (Umma), whether present or not, and those generations which are to come till the Day of Judgement (Qiyama), …, to maintain family kinship even if they live at a distance of a year's journey.” (Shaykh al-Kulayni, “Al-Kafi”, vol. 2, p. 151.

In another narration, Prophet SAW states that: “ The best person among you is the one who treats his family members best. And I am the best among you to my family”
( Hadith Ibn Majah, On the authority of Abdullah Ibn Abbas)

Islam paid a great deal of attention in preserving family ties, to put one another first and commands us to do good to each other. A sensible and well-balanced family is indeed the very foundation of a happy life. These verses and narrations about family kinship together with many other ones illustrate the importance of this matter in Islam.

In the verses of the Qur'an explaining the notion of dzawi'l-qurba (closest relatives). is: “And if you (must) turn away from the needy awaiting mercy from your Lord which you expect, then speak to them a gentle word”. (Q.S. 17: 28).

In another verse Allah the Almighty says: “What they should spend. Say, "Whatever you spend of good is (to be) for parents and relatives and orphans and the needy and the traveler. And whatever you do of good - indeed, Allah is Knowing of it."  (Q.S. 2: 215).

The Qur'an also gives high priority to close family/relatives to receive attention (kindness) and prioritized its interests more than others.

A wealthier Muslim is obliged to assist his or her family/relatives, with priority given to the nearest in kin, and then in order of nearness in relationship. A Muslim supports his brothers and relatives in times of need and shares their concerns.

In the Glorious Qur'an we find the saying of Allah the Almighty: "and fear Allah through whom you demand your mutual (rights), and (do not cut the relations of) the wombs (kinship). Surely, Allah is Ever an All-Watcher over you...” (Q.S. 4: 1).

Islam encourages a Muslim to be kind to the family/ relatives even when they are unkind to them, and asks them to continue their relations even when they cut them off. Boycotting relatives and family members falls into the category of a major sin in Islam.
In this case Allah the Almighty says that forbids the breaking of relationship in the Glorious Quran: "So what if you are in power you will make mischief in the earth and break the kinship relationship? They are the ones whom Allah cursed and hears them and blinded their eyes. (Q.S. 47: 22-23).

The verse commands us to be cautious of Allah the Almighty or to execute His command and to stay away from His prohibitions. After that Allah the Almighty commands connect relationships and fulfill their rights, and do not break the relationship. While nearly every religion has emphasized good family relations, Islam has taken it to unprecedented heights. It is a duty to be discharged without an eye for reciprocity. A Muslim is required to be kind even to his non-Muslim relatives. Similarly he is required to be kind to even those relatives who are harsh to him.

Abu Hurairah (may Allah be pleased with him) said: “The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said: ‘Allah the Almighty created the universe, and when He had finished, kinship (al-rahm) stood up and said, “This is the standing up of one who seeks Your protection from being cut off.” Allah the Almighty  said, “Yes, would it please you if I were to take care of those who take care of you and cut off those who cut you off?” It said, “Of course.” Allah the Almighty  said, “Then your prayer in granted.” The Prophet (peace and blessings of Allah he Almighty be upon him) said, “Recite, if you wish (interpretation of the meaning): ‘Would you then, if you were given the authority, do mischief in the land, and sever your ties of kinship? Such are they whom Allah has cursed, so that He has made them deaf and blinded their sight.’ [Muhammad 47:22-23].” (Saheeh Muslim bi Sharh al-Nawawi, 16/112)

We benefit from the above great Hadith that Allah the Almighty  will take care of those who take care and maintain the ties of kinship and we also learn that whoever cuts the ties of kinship, Allah the Almighty will cut them off. Islam calls for the upholding of the ties of kinship because of the great effect that this has on achieving social cohesion and perpetuating cooperation and love among the Muslims.
 It is reason for not entering Paradise; the Messenger of Allah (prayers and peace of Allah be upon him) said: “No person severs ties of kinship would enter Paradise.” [Reported by Muslim 2556]

The Prophet also explained the positive impact on people who make a relationship:
Anas Ibn Malik reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said, “Whoever is pleased to have his provision expanded and his life span extended, then he should keep good relations with his family.”  (Ṣaḥiḥ al-Bukhari 1961, Ṣaḥiḥ Muslim 2557)
Maintaining family ties does to increase provision nor entrant the life period as all these are predetermined. BUT it will surely bring barakah and pleasure to Allah the Almighty. And a simple way of achieving this is to treat family/relatives kindly, and go out of his way to maintain relationship with them.
The Prophet (prayers and peace of Allah be upon him) said: “The one who guides to something good has a reward similar to that of its doer” [Reported by Muslim 1893].Whereupon his life span becomes blessed because of the greatness of his reward when meeting Allah the Almighty.
A rich man, if not willing to help the poor who are not his family, then the anger of the poor is nothing compared to if the poor is his own family.

In ancient times there was a poet who said:
"The deeds of persecution from their own relatives are more painful to the heart than to the sharp sword”.

Islam encourages us to assemble a community of compassion. Thusly, Islam has decided the most commendable individuals are the family/relatives.

In the inheritance law, Islam has decided the remaining parts of the dead as beneficiaries given to the kin, as indicated by the request of closest beneficiaries to the dead.

Allah the Almighty says in the Al-Qurah Surah 4: 7:  "For men there is a right of the inheritance of the father's mother and his relatives, and to the woman there is a right of the inheritance of her father's and her relatives, whether little or much according to the appointed portion".

Ali bin Abi Talhah reported that Ibn `Abbas said that this part of the Ayat, "Refers to a man who is near death and he dictates a will and testament that harms some of the rightful inheritors. Allah commands whoever hears such will to fear Allah, and direct the dying man to do what is right and to be fair, being as eager to protect the inheritors of the dying man as he would be with his own.'' Similar was reported from Mujahid and several others. The Two Sahihs record that when the Messenger of Allah visited Sa`d bin Abi Waqqas during an illness he suffered from, Sa`d said to the Messenger, "O Messenger of Allah! I am wealthy and have no inheritors except a daughter. Should I give two-thirds of my property in charity'' He said, "No.'' Sa`d asked, "Half'' He said, "No.'' Sa`d said, "One-third'' The Prophet said; One-third, and even one-third is too much.) The Messenger of Allah then said: You'd better leave your inheritors wealthy rather than leaving them poor, begging from others. (Hadith: Al-Tabarani: 8:19/21)

Furthermore, as solid confirmation that Islam is worried about the issue of connection is, Islam requires the individuals who can bear to accommodate or provide for the poor of their family/relatives, the youngsters, the grandchildren: father or granddad and so forth.

The majority of Muslims ignored this right, as they did with different rights. Which lead to hatred rather than love and kindness between the family and the siblings in Islam.

Cutting family ties is a disease in the heart

In addition to explaining the virtue of shilaturrahim, so too the Messenger of Allah threatened the one who broke his relatives with his word:

“No person severs ties of kinship would enter Paradise.” (Hadith: Muslim 2556)

It is narrated on the authority of Abu Hurairah (may Allah be pleased with him) that a man came to the Messenger of Allah (prayers and peace of Allah be upon him) and said: “I have relatives with whom I try, to have close relationship, but they sever (this relation). I treat them well, but they treat me ill. I am sweet to them but they are harsh towards me.” Upon this he (prayers and peace of Allah be upon him) said: “if it is so as you say, then you in fact shove hot sand in their mouth’s (upon their faces) and there would always remain with you on behalf of Allah (an Angel to support you) who would keep you dominant over them so long as you adhere to this (path of uniting kinship ties).” (Hadith Muslim 2558)

What punishment could be worse than the curse and the evil home that awaits those who sever the ties of kinship?

Those who cut the ties of kinship deny themselves the reward for upholding the ties of kinship in the Hereafter, in addition to denying themselves much good in this world, which is a long life and ample provision (as we mentioned in a previous Hadith): that the Messenger of Allah said: “Whoever would like his rizq (provision) to be increased and his life to be extended, should uphold the ties of kinship.” (Sahih Al-Bukhari and Sahih Muslim)

Hence; o servants of Allah, o you who have believed in Allah and His Messenger, consider your relations with your family/relatives!

Did you observe uniting their ties of kinship, which is obligatory upon you?

Did you treat them with leniency? Did you meet them with happy face?

Did you open your chests at meeting them?

Did you present to them the love, appreciation and respect that they deserve?

Did you visit them during their being well, for having cordiality? Did you visit them during their illness, because of care and being interested in them?

Did you present to them what they need from money and other things?

Dear beloved brothers and sisters, let’s make doa’ from Allah the Almighty to protect us from all evil, to upholds our family ties, to love and most of all to spread peace.

May Allah the Almighty make us strong when someone is behaving unjustly and find peace in the truth of the situation and that Allah the Almighty is enough as a witness?

To the very core I pray that Allah the Almighty will fill our heart with love to one another, strengthen the family bond and see sincerity in one another and become a family again.

When a man asked Prophet Muhammad (PBUH) about how to treat a relative who had harmed and insulted him, the Prophet (PBUH) answered: “Resume your relationship with the one who has broken family bonds with you, grant the one who has deprived you and forgive the one who has harmed you.  Whenever you do so, God will protect you against them”. (Shaikh al-Kulayni, “Al-Kafi”, vol. 2, p. 150).

And Allah knows best!


-HUSZAINI-

28 November, 2017

KULIAH ISYAK
BUKU INDUK AKIDAH ISLAM (SYARAH AQIDAH WASITHIYAH)
Oleh: Wan Habib Fauzi Al-Qadri
Pada: Selasa 28 November 2017 jam 8.00malam
Tempat: Surau Sri Bahagia, Petra Jaya, Kuching, Sarawak

Sinopsis:

Banyak agama telah memberikan keistimewaan agama tertentu kepada beberapa individu dan membuat ibadah dan iman bergantung kepada kelulusan individu seperti 'rakyat. Dengan kata lain, mereka merupakan perantara antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mereka dan secara palsu mendakwa mereka boleh memaafkan dosa-dosa mereka dan juga mempunyai pengetahuan pada yang ghaib!

Oleh itu, Islam datang untuk memberi penghormatan dan muliakan manusia dan menyangkal idea palsu bahawa manusia ibadah, taubat atau keselamatan adalah bergantung kepada keizinan individu tertentu 'tidak kira berapa yang taat dan berakhlak mulia mereka berada.



Posted by : HAR

23 November, 2017

KULIAH ISYAK

Tafsir Al-Azhar (Surah Al-An'am | Bermula dari ayat 133)
Ustaz Wan Habib Fauzi Al-Qadri
Selasa | 21 November 2017 jam 8pm
Surau Sri Bahagia, No. 8, Jalan Tun Abdul Rahman, Petra Jaya, Kuching, Sarawak


Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Mahakaya yang tidak memerlukan makhluk-Nya.


Perlu diketahui bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul semata-mata kerana kasih sayang-Nya pada hamba-hamba-Nya. Dia sama sekali tidak memerlukan mereka. Keimanan maupun ibadah mereka. Atas dasar sifat kasih itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka berbuat baik dan melarang berbuat buruk/jahat. Jika mereka berbuat baik, itu berarti mereka berbuat baik bagi diri mereka sendiri didunia dan akhirat. Allah Maha Berkuasa.

Penjelasan ini merupakan penjelasan yang meneguhkan, menenangkan, dan memberi keyakinan dalam hati kalangan orang-orang yang beriman.

Layari Video ini untuk penjelasan selanjutnya.
Posted By: HAR

16 November, 2017

Bekal menghadapi Kehidupan abadi

KULIAH ISYAK
At-Tadzkirah (Jilid 2: Bekal menghadapi Kehidupan abadi)
Oleh: Ustaz Wan Habib Al-Qadri
Khamis: 16 November, 2017 jam 8malam
Surau Sri Bahagia. Petra Jaya, Kuching, Sarawak


Mudah-mudahan video ini bermanfaat bagi kita, terutama memberikan nasehat berharga bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan  tidak terperdaya dengan kehidupan yang singkat ini dan untuk mempersiapkan kehidupan abadi kita di akhirat kelak.

Karena itu, pertanyaan yang penting yang harus selalu dapat kita jawab adalah” sudahkah kita menyiapkan bekal untuk keabadian itu?” Jangan sampai penyesalan kita datang tidak pada waktunya.

Posted by: Huszaini

14 November, 2017

TRUE NOBLE AND BRINGING HAPPINESS TO OTHERS
(Dedicated to Brother Ali – A true Noble Man)

Before we specify the hadith, take a couple of moments to make this inquiry: who is the noblest individual you know? For what reason do you think he is the most honorable? 

Now imagine if we can help alleviate the hardships of people in trouble, feeding the hungry, releasing people who are burdened with debt and making others happy.

Numerous times, we judge individuals by certain societal criteria and outer elements, however is this truly the most precise method for judging individuals? We should see by reviewing this hadith.

Narrated Sahl bin Sa`d As-Sa`id:

A man passed by Allah's Messenger and the Prophet (peace and blessings be upon him) asked a man sitting beside him, "What is your opinion about this (passer-by)?" He replied, "This (passer-by) is from the noble class of people. By Allah, if he should ask for a lady's hand in marriage, he ought to be given her in marriage, and if he intercedes for somebody, his intercession will be accepted. Allah's Messenger kept quiet, and then another man passed by and Allah's Messenger asked the same man (his Companion) again, "What is your opinion about this (second) one?" He said, "O Allah's Messenger! This person is one of the poor Muslims. If he should ask a lady's hand in marriage, no one will accept him, and if he intercedes for somebody, no one will accept his intercession, and if he talks, no one will listen to his talk." Then Allah's Messenger said, "This (poor man) is better than such a large number of the first type (i.e. rich men) as to fill the earth." (This Hadith is Sahih. See Book 81, Hadith 36 of Sahih Al-Bukhari.)

“Indeed, the most noble of you in the sight of Allah is the most righteous of you. Indeed, Allah is Knowing and Acquainted.” [Q.S Al-Hujurat: 13]

Narrated Ibn `Umar that a man came to the Prophet and said: Oh Messenger of Allah,which of the people is more beloved to Allah and which of the deeds is so? The Messenger of Allah said: “The most beloved of people to Allah are those who are most beneficial to the people, and the most beloved deeds to Allah, the most High, is to bring happiness to a Muslim, or ease his hardship, or to pay off his debt for him, or to end his hunger. And it is more beloved to me to walk with a brother of mine (in Islam), to run an errand for him than to make I`tikaf (seclusion) in this Masjid (in reference to the Masjid of Al-Madinah) for a month. ( Thabrani in Al Mu'jam Al Kabir No. 13280, 12: 453. Sheikh Al Albani said that this hadith is mentioned as mentioned in Shahih Al Jaami '176).

Al Imam Hasan Al Bashri once sent some of his disciples to help others in trouble. He told his disciples, "Come to Thabit Al Banani, take him with you to help." 

When Thabit was approached, he said, "I'm sorry, I'm sorry." His students then went back to Al Hasan Al Bashri, then they told him. Then Al Hasan Al Bashri said, "O my disciples, do you know that if you walk to help your relatives who need help is better than hajj after the pilgrimage?

Then they went back to Thabit and said like that. Thabit also abandoned the i'tikaf and followed Al Hasan Al Bashri's disciples to help others.

From the above hadith we know how the Prophet SAW strongly advocates to make others happy and let go of their difficulties is better than i'tikaf in Nabawi Mosque for a month.

Nevertheless, usually we don't have a favorable opinion of individuals in light of their great character, taqwa and modesty. Or maybe, we have a favorable opinion of them in view of their riches and status.
 .
The issue here is that riches and status are perspectives that Allah grant a few people with as a test. They are not the indication of extreme achievement all by themselves. 

Allah is The One who gave individuals wonderful bodies as well as riches as a test and Allah needs to perceive what individuals will do with these endowments that He conceded them with. 

This is an update since we regularly fall into this oversight; we get inspired by individuals' outside appearance, degrees, riches, garments/brands, autos, social status… and we accept this as honorability.

If these aspects could expand us in quietude, bring us closer to Allah and want to benefit His deen and serve mankind, then it is an incredible indicator of goodness. However, in the event that these angles are for acclaim among individuals, arrogance, pride, transgression, defiance… and so on, at that point this is an indication of destruction.

When wealth is in abundant take the opportunity to contribute part of what you own to those in need. If you fill their hearts with joy Allah will repay your generosity equally. One thing is true though, in the end you’ll get what you deserve.

“Learn to give without being told. Have empathy to know when a family member, a neighbor or friends are in need. Help them with our resources either with money, time or energy.

Some people may be blessed in worldly possessions, ‘fame and fortune’ but they still feel unhappy inside. And that is the prove that happiness is not measured by wealth, happiness is not measured by luxury, happiness is not measured by fame. The best source oa attaining happiness of the heart and spirit only comes from Him, the almighty Allah Subhanahu wa Ta’ala.

This is why the happiest of mankind on earth is our Prophet Muhammad SAW, and  why is that? Empathy. Our Prophet SAW would always feel our suffering, and always show kindness, sympathy and compassion towards others. He wanted a safe, generous and emphatic place for his ummah.

As explained in verse 128 of Surah At-Taubah, Allah Subhanahu wa Ta’ala says that:

“There has certainly come to you an apostle from among yourselves. Grievous to him is your distress; he has deep concern for you, and is most kind and merciful to the faithful”.

How can Allah Subhanahu wa Ta’ala allow anyone with great compassion to feel grief and sorrow, it would be incomprehensible. There is beyond a doubt to that Allah Subhanahu wa Ta’ala will bring happiness to those who benefits other the most. especially when it comes from pure and sincere intentions.

Hopefully Allah Subhanahu wa Ta'ala makes us the people who always help our brothers, put happiness in their hearts, so that Allah Subhanahu wa Ta’ala gives happiness to us in the world and in the hereafter, Allahumma amin.

-HUSZAINI RAHMAN-

12 November, 2017

TAFSIR AL-AZHAR (SURAH AL-AN’AM DARI AYAT 131)

KULIAH ISYAK – TAFSIR AL-AZHAR (SURAH AL-AN’AM DARI AYAT 131)
OLEH USTAZ WAN HABIB FAUZI PADA 7 NOVEMBER 2017, JAM 8.00MALAM
DI SURAU SRI BAHAGIA, PETRA JAYA, KUCHING, SARAWAK

Sinopsis Ceramah

Cinta dan sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia menetapkan bahawa Dia tidak akan menghukum mereka kerana kemusyrikan dan kekafiran mereka sehingga Dia mengutus para Rasul kepada mereka.

Meskipun Allah telah meletakkan dalam fitrah mereka kecenderungan untuk menuju kepada Rabb mereka (dan fitrah mereka boleh tersesat), telah memberikan mereka kekuatan akal dan daya pemahaman (dan akal dapat saja dibawah tekanan syahwat).

Allah memberikan tugas kepada para Rasul dan risalah-risalah-Nya untuk membangunkan fitrah manusia dari timbunan kotoran.





Posted by: HAR