"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

25 January, 2019

DEMI MASA…

DEMI MASA!!! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam Kerugian..! Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh.

Surat Al ‘Ashr ialah salah satu surat yang ada di dalam Al Qur’an yang sudah banyak dihafalkan oleh berbagai kaum Muslim kerana ayat-ayatnya itu ringkas, dan juga mudah untuk dihafalkan.

Tetapi malangnya, makna yang tersirat di dalamnya sangat sedikit daripada mereka yang boleh mendapatkan makna dan memahami dengan baik. Walaupun surat tersebut dimasukkan dalam  surat pendek, ternyata ia mempunyai makna yang terkandung  sangat mendalam.

Mengungkapkan pendapat Imam Asy Syafi’i rahimahullah:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
“Seandainya setiap manusia merenungkan surah ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka”. (Tafsir Ibnu Katsir 8/499)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Asr:

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ
إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ  . إِنَّ الإِنسانَ لَفي خُسرٍ . وَالعَصرِ
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
“Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian - Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar”.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Maksud perkataan Iman Syafi’I adalah Surah ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beriman, beramal soleh, berdakwah dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahawa manusia cukup merenungkan surah ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at.

Di dalam surat di atas Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahawa semua manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kerugian yang disebut dalam ayat ini boleh menjadi mutlak, yang bermaksud bahawa seseorang dalam kerugian didunia dan di akhirat, tidak mendapat nikmat dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka.

Oleh itu, dalam surah ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahawa kerugian tertentu akan dialami oleh manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria dalam surah Al-Asr iaitu: 1. Beriman  2. Beramal soleh  3. Saling menasihati agar menegakkan kebenaran (berdakwah).  4. Saling nasihat menasihati agar selalu bersabar dalam segala rintangan.

URAIAN DARI 4 KRITERIA – ORANG-ORANG YANG TIDAK MERUGIKAN

1.   KRITERIA PERTAMA: IMAN YANG DILANDASI DENGAN ILMU

Beriman kepada Allah. Akan tetapi, keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu.

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama. Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan agamanya, saperti pokok-pokok keimanan dan syari’at-syari’at Islam,  ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia diperlukan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. 


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مَسْلَمٍ
”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224- sanad shahih).

Sedangkan Imam Ahmad rahimahullah pun Berkata,

يَجِبُ أَنْ يَطْلَبَ مِنَ الْعِلْمِ مَا يَقُوْمُ بِهِ دِيْنَهُ
"Seorang wajib menuntut ilmu yang dapat membuat dirinya mampu menegakan agama" (Al-Furu' li Ibni Muflih, 1/525. Dikutip dari Hushuulul Ma'mul, hal. 12)

Setelah menuntut ilmu, seseorang dituntut untuk mengamalkan ilmu tersebut. Yang berkaitan dengan akidah, ibadah, muamalah dan sebagainya. Semua itu maksudnya,  dia dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Ibnu Mas’ud berkata,”Belajarlah ilmu.  Apabila sudah tahu, maka amalkanlah”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ما كُنتَ تَدري مَا الكِتابُ وَلَا الإيمانُ وَلٰكِن جَعَلناهُ نورًا نَهدي بِهِ مَن نَشاءُ مِن عِبادِنا
Kami beri petunjuk dengannya sesiapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) adalah memberi petunjuk dengan Al-Quran itu ke jalan yang lurus, (Surah Asy-Syuura: 51)

2.  KRITERIA KEDUA: MENGAMALKAN ILMU

Menuntut ilmu dan berniat mengamalkannya, agar ilmu yang diperolehinya membuat perubahan perilaku nyata yang tercermin dalam pemikiran dan perbuatannya itulah amal soleh yang hakiki.

Dengan indahnya seorang soleh Fudhail bun Iyadh rahimahullah berkata:

لاَ يَزَالُ الْعَالِمُ جَاهِلاً حَتىَّ يَعْمَلَ بِعِلْمِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ صَارَ عَالِمًا
“Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim”.

Perkataanya mengandung makna yang dalam, bahawa dengan memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkan-nya, hakikatnya seseorang itu masih bodoh. Dan ini masih tergolong dalam kelompok orang yang merugikan.

Ini sesuai pula dengan sabda  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ
”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.”
(HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).

Semua orang yang belajar ilmu syar’i dengan tujuan bukan untuk mengamalkannya, tidak akan mendapat berkah dan pahala ilmu yang sangat agung.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dari tidak mengamalkan ilmu dengan sabdanya:

مثل الذي يعلم الناس الخير وينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس ويحرق نفسه
Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar” (Hadith Riwayat: Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani).

Ilmu itu sangat berkaitan dengan amal karena amal adalah buah dari ilmu. Oleh karena itu, ilmu tanpa disertai amal bagaikan pohon yang tidak berbuah. Pohon tersebut tidak ada manfaatnya. Tujuan menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Sebaliknya, orang yang beramal tanpa didasari ilmu, dia justru akan tersesat dan amalnya akan sia-sia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهْوَ رَدٌّ
Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, amal tersebut tertolak.” (Hadith Riwayat:. Bukhari dan Muslim)

Surat Al-Fatihah yang senantiasa kita baca,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menyebut orang-orang yang beramal tanpa ilmu sebagai orang yang sesat. Adapun orang-orang yang berilmu, tetapi tidak mau beramal, itulah orang-orang yang dimurkai. Ini adalah dua hal yang harus kita camkan dengan baik.

3.  KRITERIA KETIGA: BERDAKWAH MENGAJAK MANUSIA KEPADA ALLAH

DAKWAH bermaksud tuntutan dan seruan. Berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bermaksud menyeru manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menuntut (mengajak) mereka supaya beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikut syariat-Nya. Ketika seseorang telah mengetahui agamanya dengan baik, hendaklah dia kemudian berusaha mengajak saudara-saudaranya dan menyebarkan kebaikan. Semua Rasul merupakan para pendakwah menurut pengertian diatas.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  kepada nabi-Nya Muhammad SAW:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدٗا وَمُبَشِّرٗا وَنَذِيرٗا ٤٥ وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذۡنِهِۦ وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا
Wahai nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi (terhadap umatmu) dan pembawa berita gembira (kepada orang yang beriman) serta pemberi amaran (kepada orang yang ingkar). Dan juga sebagai penyeru (umat manusia seluruhnya) kepada agama Allah dengan taufiq yang diberi-Nya dan sebagai lampu yang menerangi. 
(Surah Al-Ahzab:45-46)

Ini merupakan satu kemuliaan yang besar bagi seorang muslim agar ia melaksanakan tugas para anbiya dalam menyampaikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia dan memperkenalkan mereka akan jalan kebaikan dan petunjuk.

Allah Subhanahu telah memerintahkan orang yang beriman agar berdakwah dengan firman-Nya:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah (wahai Muhammad): "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang menurutku, menyeru manusia umumnya kepada agama Allah dengan berdasarkan keterangan dan bukti yang jelas nyata. Dan aku menegaskan: Maha suci Allah (dari segala iktiqad dan perbuatan syirik); dan bukanlah aku dari golongan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain." (Surah Yusof: 108)

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). Dan kalaulah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka: orang-orang yang fasik. (Surah A-li'Imraan:110)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala lagi dalam Surah Al-‘Ashr:

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan beramal soleh serta mereka berpesan-pesan sesama mereka dengan kebenaran dan berpesan-pesan sesama mereka dengan kesabaran.”

Sebagaimana juga junjungan besar kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyuruh orang yang beriman dengan sabda baginda:

ألَا فلْيُبلِّغِ الشاهدُ مِنكم الغائب
“Ingatlah kamu semua, bahawa hendaklah sesiapa di kalangan kamu yang hadir dalam majlis ini menyampaikan pula ilmu yang diterimanya kepada sesiapa yang tidak hadir”. (Hadith Riwayat: Imam Bukhari dan Muslim)

Baginda Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda lagi:

بَلِّغُوا عنِّي ولو آية
“Sampaikan ilmu daripadaku walaupun hanya satu ayat”. 
(Hadith Riwayat: Imam Bukhari)

Ketika seseorang telah mengetahui agamanya dengan baik, hendaklah dia kemudian berusaha mengajak saudara-saudaranya dan menyebarkan kebaikan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
"Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun" (Hadith Riwayat: Muslim).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang yang mengajak kepada petunjuk dengan dakwahnya, ia mendapat ganjaran seperti ganjaran orang yang mendapat petunjuk tersebut. Dan orang yang menyebabkan kesesatan dengan seruannya, ia akan mendapat dosa seperti dosa orang yang ia sesatkan tersebut. Karena orang yang pertama telah mencurahkan kemampuannya untuk memberikan petunjuk kepada manusia, dan orang kedua mencurahkan tenaganya untuk menyesatkan manusia. Maka masing-masing dari keduanya berkedudukan seperti orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu tuntutan kerana ia merupakan satu proses ta’lim (pengajaran) dan tarbiah (pendidikan dan pembentukan). Di atas pelaksanaan tuntutan inilah maka akan tertegaknya asas-asas kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan nabi-Nya untuk melaksanakan tugas ini. Kesimpulannya tugas berdakwah merupakan satu kefardhuan syar’ie dan dan keperluan dharuri bagi manusia. Banyak dalil daripada al-Quran dan hadith tentang kefardhuan melaksanakan dakwah.

Antaranya adalah firman Allah SWT:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalanNya, dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk”. (Surah Al-Nahl: 125)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan orang yang beriman agar berdakwah dengan firman-Nya:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam), dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang Berjaya” (Surah A-li'Imraan:104)

Marilah kita simak pula Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata: "Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah)!" (Surah Fussilat: 33)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pula bersabda:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (Hadith Riwayat: Bukhari dan Muslim, dari Sahl bin Sa’ad)

Oleh itu, dengan merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kata-kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, seorang muslim sepatutnya mengetahui kebenarannya, hendaklah dia menyelamatkan para saudara-saudaranya, keluarganya, kerabat, masyarakat dengan mengajak mereka memahami dan melaksanakan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan betul.

Adalah sangat pelik, jika terdapat sekumpulan orang yang mengetahui Islam yang benar, tetapi kita hanya sibuk dengan urusan peribadi masing-masing dan "duduk" tanpa memikirkan kewajiban DAKWAH yang hebat ini.

Pada hakikatnya orang yang lalai akan kewajipan berdakwah masih berada dalam KERUGIAN meskipun ia termasuk orang yang berilmu dan mengamalkannya. Ia masih berada dalam kerugian disebabkan ia hanya mementingkan kebaikan diri sendiri (egois) dan tidak mau memikirkan begaimana cara untuk mengentaskan umat dari jurang kebodohan dan kelalaian terhadap agamanya.

Dengan batas kemampuannya masing-masing,setiap muslim harus melibatkan diri dalam gerak dakwah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفسًا إِلّا وُسعَها
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(Surah Al-Baqarah: 286).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَالَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ لا نُكَلِّفُ نَفسًا إِلّا وُسعَها أُولٰئِكَ أَصحابُ الجَنَّةِ ۖ هُم فيها خالِدونَ
"Dan orang-orang yang beriman serta beramal soleh - (dengan tidak menjadi keberatan kepada mereka, kerana) Kami tidak memberati diri seseorang (dengan kewajipan) melainkan sekadar yang terdaya olehnya, - merekalah ahli Syurga, mereka kekal di dalamnya". (Surah Al-A'raaf: 42)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Dan apa yang diperintahkan bagi kalian, maka lakukanlah semampu kalian” (Hadith Riwayat: Bukhari dan Muslim).

Nasihat Ibnu Taimiyah:

يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ مِنْ الدَّعْوَةِ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُهُ سَقَطَ عَنْهُ وَمَا عَجَزَ لَمْ يُطَالَبْ بِهِ . وَأَمَّا مَا لَمْ يَقُمْ بِهِ غَيْرُهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَيْهِ فَعَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِهِ
“Setiap orang dari umat ini punya kewajiban untuk menyampaikan dakwah sesuai kemampuannya. Jika sudah ada yang berdakwah, maka gugurlah kewajiban yang lain. Jika tidak mampu berdakwah, maka tidak terkena kewajiban karena kewajiban dilihat dari kemampuan. Jika tidak ada yang berdakwah padahal ada yang mampu, maka ia terkena kewajiban untuk berdakwah” (Majmu’ Al Fatawa, 15: 166).

Semoga dengan sedikit penjelasan ini semakin menyemangati kita untuk berdakwah sesuai kemampuan kita. Semoga dengan mengenal keutamaan dakwah berikut ini kita semakin bersemangat. Maka jangan sampai kita berhenti beramar ma’rug nahi munkar dengan alasan kita adalah seorang pendosa.

KRETERIA KEEMPAT: BERSABAR DALAM DAKWAH

Kita wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwah. Kita harus sabar atas segala penghalang dakwah kita dan sabar terhadap gangguan yang kita dapati. Hendaklah kita bersabar atas gangguan yang mungkin kita terima dari masyarakat. Sebagaimana Rintangan ini juga dirasakan dan dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi dan Rasul sebelum beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدِ استُهزِئَ بِرُسُلٍ مِن قَبلِكَ فَحاقَ بِالَّذينَ سَخِروا مِنهُم ما كانوا بِهِ يَستَهزِئونَ
“Dan demi sesungguhnya! Telah diperolok-olok beberapa Rasul sebelummu, lalu orang-orang yang mengejek-ejek di antara mereka ditimpakan (balasan azab) bagi apa yang mereka telah perolok-olokkan itu”. (Surah Al-An’aam:10)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga:

وَلَقَد كُذِّبَت رُسُلٌ مِن قَبلِكَ فَصَبَروا عَلىٰ ما كُذِّبوا وَأوذوا حَتّىٰ أَتاهُم نَصرُنا ۚ وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِماتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَد جاءَكَ مِن نَبَإِ المُرسَلينَ
“Dan demi sesungguhnya, Rasul-rasul sebelummu pernah juga didustakan, maka mereka sabar terhadap perbuatan orang-orang yang mendustakan mereka dan menyakiti mereka, sehingga datanglah pertolongan Kami kepada mereka; dan sememangnyalah tiada sesiapa pun yang dapat mengubah Kalimah-kalimah Allah (janji-janjiNya); dan demi sesungguhnya, telah datang kepadamu sebahagian dari khabar berita Rasul-rasul itu”. (surah Al-An’aam: 34)

Kita wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwah. Kita harus sabar atas segala penghalang dakwah kita dan sabar terhadap gangguan yang kita dapati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya:

يا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأمُر بِالمَعروفِ وَانهَ عَنِ المُنكَرِ وَاصبِر عَلىٰ ما أَصابَكَ ۖ إِنَّ ذٰلِكَ مِن عَزمِ الأُمورِ
"Wahai anak kesayanganku, dirikanlah sembahyang, dan suruhlah berbuat kebaikan, serta laranglah daripada melakukan perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah atas segala bala bencana yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah dari perkara-perkara yang dikehendaki diambil berat melakukannya” (Surah Luqman: 17)

Sabar di dalam berdakwah memiliki peranan amat penting dan sebagai kewajiban bagi seorang da’i. Sabar, secara umum merupakan kewajiban bagi setiap muslim, namun bagi seorang da’i, ia lebih dan sangat ditekan-kan. Oleh kerana itu, Allah memerintahkan kepada pemimpin para da’i dan teladan mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam untuk bersikap sabar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاصبِر وَما صَبرُكَ إِلّا بِاللَّهِ ۚ وَلا تَحزَن عَلَيهِم وَلا تَكُ في ضَيقٍ مِمّا يَمكُرونَ
إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
“Dan bersabarlah (wahai Muhammad terhadap perbuatan dan telatah golongan yang ingkar itu); dan tiadalah berhasil kesabaranmu melainkan dengan (memohon pertolongan) Allah; dan janganlah engkau berdukacita terhadap kedegilan mereka, dan janganlah engkau bersempit dada disebabkan tipu daya yang mereka lakukan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa, dan orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya.” (Surah Al-Nahl: 127-128))

Seorang da’i memerlukan kesabaran yang ekstra kuat, hal ini kerana keberadaan seorang da’i lain dengan masyarakat pada umumnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah memberitahukan bahawa semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin berat ujian yang dihadapinya.

Ketika Rasullullah Shallalahu 'alahi Wassalam ditanya: Wahai Rasullullah, Siapakah manusia yang paling keras ujiannya? Maka beliau shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

 Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه وإن كان في دينه رقة ابتلى على حسب دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشى على الأرض ما عليه خطيئة
“(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)

Marilah kita melihat apa yang terjadi pada da’i teladan kita semua, iaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyak halangan dan gangguan yang beliau dapatkan. Orang-orang kafir Quraisy saat itu mengolok-olok beliau dengan sebutan orang gila, dukun, tukang sihir, pendusta, dan lain-lain sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam Al–Qur’an. Beliau juga dilempari batu sampai berdarah. Beliau juga diancam akan dibunuh. Dalam perang Uhud pun beliau terluka. Akan tetapi, beliau tetap bersabar di atas dakwahnya.

Oleh karena itu, seorang da’i wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus sabar atas segala penghalang dakwahnya dan sabar terhadap gangguan yang ia dapati.
Allah Ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
"Wahai anak kesayanganku, dirikanlah sembahyang, dan suruhlah berbuat kebaikan, serta laranglah daripada melakukan perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah atas segala bala bencana yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah dari perkara-perkara yang dikehendaki diambil berat melakukannya. (Surah Luqman: 17)

Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata:

فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِ [الْعَظِيْمِ]

”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari KERUGIAN dan mendapatkan KEUNTUNGAN yang besar” (Tafsiir Karimir Rohmaan hal. 934).

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.

Posted by: HAR

RUJUKAN: KIBLAT.NET; RUMAYSHO.COM;
TERJEMAHAN AL-QURAN: WWW.SURAH.MY

24 December, 2018

RIZQ  ARE IN THE HAND OF ALLAH SWT


All Praises and thanks are due to Allah, The Beneficent the Merciful. Salaah and Salam Upon The Messenger Of Allah (Sallalahu ‘alaihi Wa Salam)

I will discuss a little about Rizq. It’s not to be directed to anybody in particular but to be understood and reflected in ourselves. Rizq are in the hand of Allah The Almighty who has predestined and determined them and, therefore, no one can increase or decrease them other than Him.

In this regard, Allah The Almighty Says:

فَأَمَّا الإِنسانُ إِذا مَا ابتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقولُ رَبّي أَكرَمَنِ
" As for humans, if their Lord tests it, then He glorifies Him and gives Him pleasure, Then He will say:" My Lord has glorified me ". (The Quran Al-Fajr (89): 15)

وَأَمّا إِذا مَا ابتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيهِ رِزقَهُ فَيَقولُ رَبّي أَهانَنِ
"But when He tests him and tightens for him his provision, he says, ‘My Lord has humiliated me.” (The Quran Al-Fajr (89): 16)

“Now, criticizing the general moral state of the people, it is being said: After all, why shouldn’t the men who have adopted such an attitude in the life of the world, be ever called to account, and how can it be regarded as a demand of reason and justice that when man has left the world, after doing all he could, he should never receive any reward or suffer any punishment for his deeds.

This then is man’s materialistic view of life. He regards the wealth and position and power of this world alone as everything. When he has it, he is filled with pride and says God has honored me; and when he fails to obtain it, he says: God has humiliated me. Thus, the criterion of honor and humiliation in his sight is the possession of wealth and position and power, or the absence of it, whereas the truth which he does not understand is that whatever Allah has given anybody in the world has been given for the sake of a trial. If he has given him wealth and power, it has been given for a trial to see whether he becomes grateful for it, or commits ingratitude. If he has made him poor, in this too there is a trial for him to see whether he remains content and patient in the will of God and faces his hardships bravely within permissible bounds, or becomes ready to transgress every limit of morality and honesty and starts cursing his God”.
(Islamicstudies.info: Towards Understanding the Quran)              

As recorded in Buhari and Muslim: The Prophet (Sallallaahu 'Alaihi wa sallam) said:

 "Whoever Allah wants good for him, he puts them to test. He puts them through difficulties. Like a diamond or some metal that has to be burnt and then that which is bad from it is removed so that you have that which is the pure diamond or the pure gold or whatever. Put them to tests, trials and difficulties." 

One must understand that this world is run by Allah. That one has no control over anything. All that happens is by the will of Allah, you have no power to steer it your way. As we are aware, this world is a place of test. And being so all that is in it is a test. It will last for only so long and then Allah will make it better. No hardship is without purpose, no suffering is without reward. The world will run as Allah wills it to, there is no point in worrying about what comes as difficult. We only need to believe and turn to HIM, Believe and have faith, Believe and earn rewards and the Love of Allah.  The greater the test, the greater the reward, the greater the hardship the greater the reward, the greater the difficulty, the greater the reward from Allah.

So welcome your hardships for they are blessings. Know that Allah loves you. That is why He wishes to purify you. Allah loves you and He has given you an opportunity to come close to Him. Allah loves you and that is why He has allowed you to earn more rewards. He loves you and that is why He put you through tribulations to test your faith and love for HIM. Allah loves you and will never abandon you, He just wishes for you to keep your faith strong in Him and earn more rewards.
           
As narrated by Tirmidhi and Ibn Maajah :  - The Prophet (Sallallahu alaihi wa sallam) said: 

'’The greater reward is with the greater trial or the greater the trial or difficulty of test or hardship is then the greater the reward. And when Allah loves a person, He put them on trial, The people as long as they are in good health, good shape, good condition they are covered. You don't know their true character because they are in good situation, they are in good circumstance. As long as they are in a good circumstances they are covered. But if a trial or difficulty or a hardship comes upon them, then you will see their reality. They will go to their reality. The Mu'min will run to his Iman, the hypocrite will run to his hypocrisy”.

From above-mentioned hadith, we can conclude that a hardship and suffering is a blessing in disguise. It is a moment of test, a test that once you pass with patience, it will grant you reward more than you can imagine.

Allah also states in Surah Al-Baqarah: 155-157

وَلَنَبلُوَنَّكُم بِشَيءٍ مِنَ الخَوفِ وَالجوعِ وَنَقصٍ مِنَ الأَموالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَراتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّابِرينَ
الَّذينَ إِذا أَصابَتهُم مُصيبَةٌ قالوا إِنّا لِلَّهِ وَإِنّا إِلَيهِ راجِعونَ
أُولٰئِكَ عَلَيهِم صَلَواتٌ مِن رَبِّهِم وَرَحمَةٌ ۖ وَأُولٰئِكَ هُمُ المُهتَدونَ
"We will surely test you with a measure of fear and hunger and a loss of wealth, lives, and fruits; and give good news to the patient. —those who, when an affliction visits them, say, ‘Indeed we belong to Allah, and to Him do we indeed return.’ It is they who receive the blessings of their Lord and [His] mercy, and it is they who are the [rightly] guided".

One should be joyous! That Allah is testing you! That Allah has given you an opportunity because Allah loves you and wants the best for you.

It is your patience that will get you through, because you have complete faith in Allah that HE will make it alright. There is nothing worth worrying about when your life is controlled and is in the Hands of Allah The Almighty, The Compassionate, The Most Loving. Run to Him for help. Run to Allah to find solace that this time will be over, Run to HIM for that is what HE is testing you for”. 

Ibn Kathir rahimahullah interpreted the verse above, "In the verse, Allah Ta'ala denies anyone who misunderstands God's intention to expand rizki. God actually made it a test. But he thought with the extent of the rizki, that meant God glorified him. Really not, actually it's just a test. 

As Allah the Exalted says:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ
Do they suppose that whatever aid We provide them in regard to wealth and children [is because], We are eager to bring them good? Rather they are not aware! (The Quran Surah Al-Mu’minum: 55-56)

When Allah takes rizki from us, we often think that He loves us less now and therefore retrieve what we have, but that’s not true at all. Like how Allah gives rizki even to people who may not do good in His name, He can also take rizki from people that He loves. What matters most if how one reacts to the circumstances?

Difficult and challenging situations are inevitably experienced by everyone at some point in life. These conditions are tests from Allah Ta’ala in order to elevate their status and increase their blessings.

I can’t say I’ve done everything right, but I thank God for being patient with me. I’m sure can say you haven’t done everything right also, but you can mightily lift your hands and thank Allah that He’s been patient with you! Allah of course know which is best for his servants.
 Listen to the words of Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wa salam, it will cool your heart, it will take you to that which is right, it will correct you, it will guide you, it will increase your faith, and your patience.
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا(المسلم
"There is no difficulty that happens to a Muslim except that Allah removes a sin because of it even if a thorn pricks him and even to that degree."(Muslim)
Things-To-Do in Times of Hardship

Some practical steps are mentioned below which will help to face the difficult situation:

Offer Salah: Make sure to praying on time that is 5 times a day. Never miss a salah and do your best to pray each Salah with sincerity as if it’s your last salah in this world.

Make Dua: Make dua for removing doubt or mistrust during difficulties.

Read Quran: Quran is a book of guidance by reading Quran you will find the solution of every difficulty that you are facing in your life.

Give Sadaqah or Charity: Give lots of charity, as much as you can, because it helps drive away hardship.

Hardship is Not Lost: Remember one thing, Allah will never forget the injustice and hardship you ever faced in life, so don’t worry about seeking revenge or trying to get justice.

In short, being a Muslim always welcome your hardships for they are blessings. Know that Allah loves you. That’s why He wishes to purify you during hardships. Allah loves you and He has given you an opportunity to come close to Him, He has allowed you to earn more rewards by facing difficulties. He just wishes for you to keep your faith strong in Him and earn more rewards. May Allah give us the strength to be patient during hardships!  Amin

Posted by HAR

11 December, 2018


Rezeki suami ada pada isteri

INGAT, kaum-kaum ISTERI semua, KUNCI SYURGA ISTERI terletak pada SUAMI, ingat 5 PERKARA ini di 5 jari tangan anda sampai bila bila, selagi bergelar isteri iaitu AMANAH, SETIA, TAAT, REDHA DAN YAKIN

Tak cukup 5 perkara ini, maka tak berbau syurga dah. Kalau tiada REDHA bagi pihak Isteri, merangkak macam mana sekalipun si suami mencari rezeki tidak akan sampai dalam rumahtangga kita.. Hakikatnya Allah mengajar kita mengenal DIA melalui sifat REDHA.. Kaum isteri ini amat mudah untuk ke syurga dengan hanya menyediakan segelas air untuk suami. Dan juga amat mudah untuk ke neraka bila berpaling atau jatuh air muka suami. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ‏
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka”. (Surah Ar-Rad: 11)

Dan seterusnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman lagi:

وَفِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ‌ؕ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ
"Dan juga pada diri kamu sendiri. Maka mengapa kamu tidak mahu melihat serta memikirkannya?" (Surah Adz-Dzaariyat: 21)

Jelas dua ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahu kita, tidak akan berubah nasib sesuatu kaum, kalau kaum itu tidak akan berubah nasib mereka sendiri. Dan tidak akan berubah suami kamu itu, melainkan suami kamu itu ubah nasib mereka sendiri. Apa jua masalah, ambil letak pada diri kita, check dan muhasabah diri kita kita buat tak 10 perkara di bawah ini, kenapa rezeki suami tersekat sana sini.

Ini 10 Sifat Isteri Yang Membuat Rezeki Suami Mengalir Dengan Sangat Deras

Ramai suami yang mungkin tidak tahu bahawa rezekinya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala mengalir lancar atas peranan isteri. Memang tidak dapat dilihat secara mata kasar, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual bahawa 10 karakter isteri ini ‘membantu’ menghadirkan rezeki untuk suaminya.

1. Isteri yang pandai bersyukur
Isteri yang bersyukur atas semua kurnia Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rezeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberi kenikmatan sebagai suami isteri, bersyukur.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ‌ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Surah Ibrahim: 7)

2. Isteri yang tawakal kepada Allah
Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rezekinya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ‌
“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya...” (Surah Ath-Thalaaq: 3)

Bila seseorang isteri bertawakkal pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rezekinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanita itu. Boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi rezeki yang banyak pada suaminya, lalu suami itu memberi nafkah yang cukup pada dirinya.

3. Isteri yang baik agamanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan kalau wanita dinikahi kerana empat perkara. Kerana hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (Hadith: Al-Bukhari (no. 5090), Muslim (no. 1466)

Wahai saudaraku, ini bukan berarti bahawa kecantikan itu tidak diperlukan. Tetapi yang dimaksud ialah jangan membatasi pada kecantikan, karena itu bukan prinsip bagi kita dalam memilih isteri. Pilihlah karena agamanya; dan jika tidak, maka engkau tidak akan bahagia.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr secara marfu’, ia mengatakan: “Jangan menikahi wanita karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan memburukkannya; dan jangan menikahi wanita karena hartanya, bisa jadi hartanya membuatnya melampui batas. Tetapi, nikahilah wanita atas perkara agamanya. Sungguh hamba sahaya wanita yang sebagian hidungnya terpotong lagi berkulit hitam tapi taat beragama adalah lebih baik. (Hadith Riwayat: Ibnu Majah (no. 1859)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مِنْ سَعَـادَةِ ابْنُ آدَمَ ثَلاَثَةٌ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْـكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنُ آدَمَ: اَلْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ
“Kebahagiaan manusia ada tiga: Wanita yang shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Sedangkan ke-sengsaraan manusia ialah: Wanita yang buruk (perangainya), tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk.”( Ahmad (I/168) dengan sanad yang shahih)

4. Isteri yang banyak beristighfar
Di antara keutamaan istighfar Iaitu mendatangkan rezeki. Hal semacam itu dapat dilihat dalam Surah Nuh ayat 10 sampai 12. Kalau dengan memperbanyak istighfar, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.

Sebagaiman Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَيۡكُمۡ مِّدۡ , فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّكُمۡؕ اِنّ 
وَّيُمۡدِدۡكُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّبَنِيۡنَ وَيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ جَنّٰتٍ وَّيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ اَنۡهٰرًا ؕ
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,  dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". (Surah Nuh: 10-12)

5. Isteri yang gemar silaturahim
Isteri yang gemar menyambung silaturahim, baik pada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, serta saudari-saudari seaqidah, pada dasarnya dia tengah menolong suaminya membuat lancarnya rezeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (Hadith Riwayat: Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

6. Isteri yang suka bersedekah
Isteri yang suka bersedekah, beliau jua dalam intinya sedang melipatgandakan rezeki suaminya. Kerana keutamaan sedekah misalnya dijelaskan pada surat Al Baqarah, bakal dilipatgandakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai 700 kali lipat. Dan ia boleh dilipatgandakan lebih dari itu menurut kehendak Allah Subhanahu wa Ta’al.

Apabila isteri yang mendapat  nafkah dari suaminya, lantas sebahagiannya dia pakai untuk sedekah, mungkin tidak dibalas melaluinya. Namun mungkin saja dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rezekinya berlimpah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَثَلُ الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَهُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِىۡ كُلِّ سُنۡۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ‌ؕ
وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنۡ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ‏
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah [166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [166] Pengertian menafkahkan "harta di jalan Allah" meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain”. (Surah Al-Baqarah: 261)

7. Isteri yang bertaqwa
Orang yang bertaqwa bakal menerima jaminan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan beliau bakal mendapatkan rezeki menurut arah yang tidak disangka-sangka.

Misalnya firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.

وَمَنۡ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجۡعَلْ لَّهٗ مَخۡرَجًا ۙ‏
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. (Surat Alt-Thalaaq: 2)

وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ‌ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا
“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.(Surah Alt-Thalaaq:3)

8. Isteri yang selalu mendoakan suaminya apabila seseorang ingin menerima suatu hal, dia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Beliau tidak dapat mendapatkan sesuatu itu tetapi dari pemiliknya.

Begitulah rezeki. Rezeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang Maha Pemberi rezeki. Jadi jangan cuma bersandar kepada usaha manusiawi namun perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami supaya selalu mendapatkan limpahan rezeki berdasarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta yakinlah apabila isteri berdoa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala buat suaminya tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabulkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُوۡنِىۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَـكُمۡؕ
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (Surah Al-Mu’min: 60)

9. Isteri yang suka solat dhuha
Solat Dhuha itu adalah solat orang yang mahu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kerana itulah terlalu banyak fadilat solat Dhuha yang disebut sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Solat Sunat Dhuha boleh dianggap sebagai rasa terima kasih seseorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala berkah hidup yang diberikan-Nya.

Allah Shallahu ‘alaihi wassalam menjamin rezeki yang cukup kepada hambanya yang mempunyai masa untuk solat Dhuha. Diriwayatkan daripada Nu‘aim bin Hammar bahawa ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah kamu berasa lemah untuk beribadah kepada-Ku dengan cara mengerjakan solat empat rakaat di awal waktu siangmu, nescaya akan Aku cukupkan untukmu di akhir harimu.” (Hadis Riwayat Abu Dawud)

Daripada Abu Dzar r.a., Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalm bersabda“Hendaklah masing-masing di antara kamu setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu. Maka tiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah. Menyuruh kebaikan adalah sedekah, mencegah keburukan juga adalah sedekah. Dan sebagai ganti daripada itu semua, cukuplah mengamalkan dua rakaat solat Dhuha.”   (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud)

Dalam bingkai rumah tangga, pasangan suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga isteri dan anak-anaknya baik dalam urusan agama atau dunianya, menafkahi mereka dengan memenuhi keperluan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya.

Tanggungjawab suami yang tidak ringan diatas diimbangi dengan ketaatan seorang istri pada suaminya. Kewajiban seorang istri dalam urusan suaminya setahap setelah kewajiban dalam urusan agamanya. Hak suami diatas hak siapapun setelah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, termasuk hak kedua orang tua. Mentaatinya dalam perkara yang baik menjadi tanggungjawab terpenting seorang isteri.

Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (Hadith Riwayat: Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi kereadhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Isteri yang tidak direadhai suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantarantanya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (Hadith Riwayat: Bukhari Muslim)

“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (Hadith Riwayat: Bukhari/Muslim)

Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang isteri taat dalam suaminya, jadi hati suaminya juga damai dan hening. Ketika hatinya damai, dia sanggup berpikir lebih jernih dan kreativitinya ada. Semangat kerjanya juga aktif. Ibadah juga lebih tenang, dan rezeki mengalir dengan lancarnya.

Kalau tidak mampu bantu suami dengan perbuatan, bantu suami dengan nasihat, kalau masih tidak mampu bantu suami dengan nasihat, maka BANTULAH SUAMI DENGAN AMAL...SERAH PADA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.

Janganlah kita bermusuh dan bermasam muka karena PINTU NERAKA terbuka luas untuk kaum isteri sebegitu.
Isteri ingat lagi satu perkara, SEHEBAT MANA KAUM WANITA TETAP TIDAK BOLEH JADI IMAM DALAM SOLAT..

PERCERAIAN BUKAN JALAN PENYELESAIAN TERBAIK..kalau memilih jalan begitu, dimana  lagi kaum isteri hendak mencari kunci syurga...

Kalau 10 perkara ini, isteri tak mampu buat untuk bantu lancarkan rezeki suami, balik muhasabah dan perbetulkan diri dulu adalah lebih baik, daripada merungut suami tak mampu, tak berduit dan sebagainya ya.

Dan hikmah dari melaksanakan dengan tulus semua ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas adalah berlangsungnya bahtera rumah tangga yang harmonis dan penuh dengan kenyamanan. Ketaatan pada suami pun dibatasi dalam perkara yang baik saja dan sesuai dengan kemampuan.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kita semua keluarga yang barakah.

Wallahu ‘alam.

“Dalam mengejar keuntungan atau kekayaan bila bekerja seharian, tiada gunanya sekiranya institusi keluarga di rumah tidak terbuka pada rezeki. Rezeki itu pelbagai, bukan hanya duit yang kita usahakan sahaja, tetapi juga pada keluarga tercinta. Namun, rezeki itu tetap perlu diusahakan”.

Penulis:  Rashidah Abd Hamid
Di-edit oleh: HAR