"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

26 March, 2020


Hukum Beramal dengan hadith Dha’if
Termasuk malapetaka terbesar yang menimpa kaum muslimin sejak zaman dahulu adalah penyebaran hadith-hadith yang dhaif (lemah) dan maudhu (palsu) di kalangan mereka. Dan musibah ini menimpa seluruh umat Islam sehingga para 'ulama (dai') kecuali mereka yang Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan dari para imam dan pengkritik hadith. Kita juga sering mendengar nasihat  atau ceramah dari salah seorang ulama atau ustadz atau khutbah dari seorang pendakwah yang mengandungi hadith dhaif dan Maudhu.

Hal ini sangat berbahaya karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُـتــَـعَمـِّدًا فَلْيــَـتـَـبَوَّ أْ مَـقْعـَدَهُ مِنَ النـــَّـارِ . متفق عليه
Barang siapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja maka hendaknya menempati tempat duduknya di neraka” (Muttafaqun alaih).

Telah berkata ibnu Hibban dalam Muqaddimah kitab shahihnya pasal “Wajibnya masuk neraka seseorang yang menisbatkan sesuatu (perkataan maupun perbuatan) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam padahal orang tersebut tidak mengetahui keshahihan hadith tersebut” kemudian beliau (Ibnu Hibban) mengutip dua hadith yang menunjukkan kebenaran perkataannya:

حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka." (HadithRiwayat: Bukhari No.106)

Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, (merupakan salah satu rawi hadits yang adil) - telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

مَنْ حَدَّثَ عَنـِّي بـــِحَدِ يْثٍ يُرَى أَنـــَّهُ كَذِبٌ فَهُـوَ أَحَدُ كَاذِ بـَـيْنِ . رواه مسلم
Barangsiapa yang mengucapkan suatu hadits dan dia sangka atau duga bahwa hadith ini adalah dusta maka dia satu dari dua pendusta”. (Hadith Riwayat: Muslim)

Dari keterangan di atas, adalah jelas bahawa seseorang yang menyebarkan hadith tanpa memeriksa kesahihannya dahulu, maka dia adalah antara mereka yang berdusta/berbohong atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam padahal Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبِ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتـَعَمــِّدًا فَلْيــَتـَبـَوَّ أْ مَقْعـَدَهُ مِنَ النــَّـارِ . رواه البخاري و مسلم
“Sesungguhnya berdusta atas (nama) ku tidak sama dengan berdusta atas nama seseorang (selain aku) Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja maka hendaknya dia menempati tempat duduknya di neraka” (Hadith Riwayat: Bukhari dan Muslim)

Di sini, kita menyedari betapa pentingnya mengetahui masalah yang kita sedang berbincang, kerana kebanyakan penafsir, ustadz, atau khatib yang menyampaikan hadith dhaif dengan alasan ia adalah sebahagian dari Fadhoilul A'mal (keutamaan-keutamaan amal).

HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADITH DHAIF

Para ‘ulama kita (rahimahullahu) telah berikhtilaf dalam hukum meriwayatkan dan mengamalkan Hadit dhaif.  Ikhtilaf ‘ulama ini terbagi tiga:

PERTAMA:  Bahawa hadith dhaif itu tidak boleh diamalkan secara mutlak (sama sekali) baik dalam masalah hukum, aqidah, targhib watarhib dan lain-lainnya. Yang berpegang pada pendapat ini adalah sejumlah besar dari kalangan ‘ulama hadith seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Yahya bin Ma’in, Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Hazm (rahimahullahu) dan lain-lain.

KEDUA:  Boleh mengamalkan hadith dhaif dalam bab Fadhoilul A’mal, Targhib (menggemarkan melakukan suata amalan), Tarhib (mempertakuti diri mengerjakan suatu amal) namun tidak diamalkan dalam masalah Aqidah, dan Hukum. Yang memegang pendapat ini adalah sebahgian ahli fiqh dan ahli hadith seperti Al Hafidz Ibnu Abdil Barr, Al imam Nawawi, Ibnu Sholah –rahimahullahu-.

KETIGA: Boleh mengamalkan hadith dhaif secara mutlak jika tidak ditemukan hadith yang shahih atau hasan. Pendapat ini disandarkan kepada Imam Ahmad dan murid beliau Abu Daud -rahimahumallahu- .

SYARAT-SYARAT UNTUK MENGAMALKAN HADITH DHAIF

Perlu diketahui bahwasanya para ‘ulama yang membolehkan pengamalan hadith dhaif menetapkan beberapa syarat yang mesti diperhatikan diantaranya:

1. Bahwa hadith tersebut tidak terlalu lemah (bukan hadith dhaif jiddan apalagi maudhu)

2. Hadith dhaif itu tidak boleh diyakini bahawa dia adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka hadith diamalkan hanya karena kehati-hatian dari pada mengamalkan sesuatu yang tidak ada dalilnya .

3. Hadits tersebut khusus untuk Fadhoilul A’mal atau Targhib wattarhib. Tidak boleh dalam masalah Aqidah, hukum, Tafsir Al-Qur’an dan lain-lain yang usul (prinsip) dari Ad Dien ini.
4. Orang yang mengamalkan tidak boleh memperkenalkan hadith tersebut kepada masyarakat awam, karena jika melihat hadith itu mashyur dan banyak diamalkan akan mengira bahawa itu adalah sunnah yang shahih.

Namun syarat-syarat ini telah dijawab dan ditanggapi oleh ‘ulama yang tidak membolehkan mengamalkan hadith dhaif secara mutlak sebagai berikut:

Syarat pertama yang mereka kemukakan ini disepakati oleh seluruh ahli ilmu. Namun syarat ini sangat sulit dipenuhi karena mengetahui dan membezakan antara hadith yang dhaif ringan dan berat sangatlah susah bagi kebanyakan orang disebabkan kurangnya ‘ulama hadith apalagi di masa saat kita sekarang ini dimana keberadaan seorang yang tidak menyebutkan hadith kecuali hadith yang shahih dan menjelaskan kepada masyarakat bahaya hadith dhaif sangat jarang berlaku.

Syarat ini sama dengan syarat yang pertama dalam hal harus mengetahui kelemahan hadith tersebut. Namun kenyataan yang kita lihat bahawa kebanyakan orang-orang saat sekarang ini tidak mengetahui hal tersebut, sehingga ketika mengamalkan mereka mengi’tiqadkan (meyakini hadith itu sebagai sabda atau perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga syarat inipun telah dilanggar.

Syarat yang ketiga ini mengharuskan bagi orang yang mau membawakannya untuk tahu lebih dahulu apakah hadith ini termasuk dalam fadhailul A’mal ataukah Aqidah atau Hukum. Lalu syarat ini tidak boleh diterima sepenuhnya karena sesungguhnya fadhoilul ‘Amal itu juga bahgian dari syariat, maka mana dalil yang menunjukkan bolehnya dibeza-bezakan ?

Syarat yang terakhir ini sangat banyak dilanggar oleh kaum muslimin yang mana saat sekarang ini sangat banyak hadith dhaif yang dikenal dan dipakai sama kedudukannya dengan hadith shahih, bahkan lebih. Karenanya sangat banyak ibadah-ibadah yang tidak benar yang mereka kerjakan lalu mereka meninggalkan ibadah-ibadah yang sudah jelas berdasarkan hadith yang shahih -Wallahul Musta’an.

Dari jawaban-jawaban di atas nampak bagi kita kuatnya pendapat yang pertama. Apalagi syarat-syarat yang ditetapkan oleh para ‘ulama yang berpegang pada pendapat kedua (membolehkan untuk fadhoilul ‘amal) sangat susah untuk diterapkan dan telah banyak dilanggar (sengaja atau tidak sengaja) oleh kaum muslimin sekarang.

Adapun kata-kata Imam Ahmad rahimahullahu (pendapat ketiga) bahawa Beliau - Rahimahullahu - jika dia tidak menemukan hadith yang sahih dalam satu bab maka dia berpegang kepada hadith yang dhaif daripada berpegang pada pendapatnya sendiri atau pendapat lain.

Yang dimaksud hadith dhaif di sini adalah hadith “Hasan” dengan istilah kita sekarang, karena pada zaman mereka ilmu Mustholah belum begitu berkembang sehingga pembahgian hadith yang mereka kenal ketika itu hanyalah shahih dan dhaif, karena yang pertama kali yang memasyhurkan pembahgian hadith menjadi tiga (shahih,hasan, dhaif) adalah imam At Tirmidzi yang mana beliau datang setelah imam Ahmad.

Wallahu A’lam

Penutup dan Kesimpulan
Setelah memperhatikan jawaban dan tanggapan yang telah dikemukakan oleh para ‘ulama yang tidak membolehkan mengamalkan hadith dha’if secara mutlak baik itu untuk fadhailul a’mal maupun yang lainnya, maka jelaslah bagi kita bahawa meriwayatkan dan mengamalkan hadith dhaif untuk berbagai hal adalah hal yang dilarang. berkata Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ahmad Syakir –rahimahullahu- “…Bahwasanya tidak ada perbezaan antara masalah ahkam (hukum-hukum) fadhoilul ‘amal dan yang lainnya tentang tidak bolehnya mengambil hadith dhaif sebagai pegangan, bahkan seorang tidak boleh berhujjah kecuali dari khabar yang datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berupa hadith shahih atau hasan”.

Dan perlu diingat bahawa hadith-hadith yang shahih sangatlah banyak dan sudah cukup untuk mengamalkan Ad Dien ini dan kita tidak memerlukan lagi hadith yang lemah. Sangat benar perkataan Imam Abdullah bin Mubarak –rahimahullahu- :

“Pada hadith shahih kesibukan dari (mengamalkan) hadith yang lemah”

Posted by: HAR
Sumber:  “Hukum meriwayatkan dan mengamalkan hadith dhaif untuk Fadhilul ‘Amal dan yang lainnya” oleh Abu Abdillah Muhammad Yusran Anshar.



No comments: