"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan tiada aku termasuk di antara orang-orang yang musyrik" (QS Yusuf:108)

17 October, 2014

PERSIAPAN KITA MENUNJU HARI AKHIR


Marilah kita senantiasa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadikan hidup dan mati, untuk menguji hamba-hamba-Nya sehingga dibezakan siapa yang paling baik amalannya di antara mereka. Begitu pula kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb yang menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan memuliakan hamba-hamba-Nya yang menaati-Nya. Maka, sungguh berbahagialah orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Dan sungguh rugilah orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang mulia, sayyidina Muhammad ibn ‘Abdillah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya.

Saudara-saudara ku,

Ketahuilah, bahawa kehidupan didunia ini ibarat tempat penyeberangan yang sedang dilalui oleh orang-orang yang hidup di dalamnya. Setiap orang akan melewati dan meninggalkannya, lalu menuju kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dunia ini sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan amalan. Maka setiap orang yang beramal, dia akan melihat balasannya. Dan orang yang lalai akan menyesali perbuatannya. Setiap orang yang menjalani kehidupan dunia ini akan ada saat berakhirnya. Hari pembalasan pasti akan datang, dan apa saja yang akan datang adalah sesuatu yang dekat. Maka janganlah kita tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia yang sementara ini, sehingga melalaikan dari kehidupan yang sesungguhnya di akhirat nanti.

Ingatlah bahawa kematian adalah suatu kepastian yang akan menimpa seseorang. Kematian akan memisahkan dirinya dari keluarga, harta, serta tempat tinggalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala  telah memberitakan melalui firman-Nya, bahwa di antara manusia ada yang akan mendapatkan pertolongan dan mendapatkan berita gembira pada saat kematiannya, serta ada pula yang merasakan ketakutan yang luar biasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang yang bahagia saat kematiannya.

Firman Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Inna alladziina qaaluu rabbunaa allaahu tsumma istaqaamuu tatanazzalu 'alayhimu almalaa-ikatu allaa takhaafuu walaa tahzanuu wa-absyiruu bialjannati allatii kuntum tuu'aduuna

“Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan berkata: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham): "Janganlah kamu bimbang (dari berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap kamu) dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamu. (Surah Fussilat: 30)

Firman Subhanahu wa Ta’ala seterusnya:

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
Nahnu awliyaaukum fii alhayaati alddunyaa wafii al-aakhirati walakum fiihaa maa tasytahii anfusukum walakum fiihaa maa tadda'uuna

"Kamilah penolong-penolong kamu dalam kehidupan dunia dan pada hari akhirat; dan kamu akan beroleh - pada hari akhirat - apa yang diingini oleh nafsu kamu, serta kamu akan beroleh - pada hari itu - apa yang kamu cita-citakan mendapatnya”. (Surah Fussilat: 31)

Sungguh, kita semua tentu mengharapkan berita gembira di saat malaikat maut hendak mencabut nyawa kita. Kerana dengan itu seseorang akan mengawali kehidupan bahagia di alam akhiratnya. Dimulai dengan kenikmatan di alam kuburnya dan kemudahan-kemudahan yang akan terus dialami pada kehidupan akhiratnya. Keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala  kurniakan ini akan dirasakan oleh orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga menerima dan menjalankan syariat-Nya. Iaitu orang-orang yang senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan mengikuti jalan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam dan para ulama yang mengikuti jejaknya. Adapun orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga beribadah kepada selain-Nya dan menyelisihi jalannya Rasulullah  Sallallahu Alaihi Wa Sallam serta jalan para ulama yang mengikutinya, maka dia akan merasakan siksa yang sangat pedih. Dimulai dari saat kematiannya dan begitu pula ketika berada di-alam kuburnya serta kejadian-kejadian berikutnya.

Saudara-saudara ku sekalian,

Ketahuilah bahawa kehidupan di-dunia ini akan berakhir dan akan datang saatnya hari kebangkitan. Seluruh manusia, sejak yang pertama kali diciptakan hingga yang terakhir kali diciptakan akan dibangkitkan dari alam kuburnya, serta akan dikumpulkan di padang mahsyar. Selanjutnya, kehidupan akhirat akan berujung pada dua tempat tinggal yang sebenarnya, iaitu syurga atau neraka. Maka di antara manusia, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, akan menjadi penduduk surga dan dikatakan kepada mereka:

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
Kuluu wa-syrabuu hanii-an bimaa aslaftum fii al-ayyaami alkhaaliyati 

(Masing-masing dipersilakan menikmatinya dengan dikatakan): "Makan dan minumlah kamu makanan dan minuman sebagai nikmat yang lazat dan baik kesudahannya, dengan sebab (amal-amal soleh) yang telah kamu kerjakan pada masa yang lalu (di dunia)!" (Surah Al-Haaqah: 24)

Sementara yang lainnya akan menjadi penduduk neraka. A’adzanallahu waiyyakum minannaar (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari siksa api neraka). Mereka sebagaimana  akan menyesal di akhirat kelak dengan mengatakan:

Sebagaiman dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ
An taqula nafsun ya-asrata ʿala ma farratu fī janbi llahi wa-ʾin kuntu la-mina s-sakhirin

"(Diperintahkan demikian) supaya jangan seseorang (menyesal dengan) berkata: “sungguh besar sesal dan kecewaku kerana aku telah mencuaikan kewajipan-kewajipanku terhadap Allah serta aku telah menjadi dari orang-orang yang sungguh memperolok-olokkan (agama Allah dan penganut-penganutnya)! - (Surah Az-Zumar: 56)

Saudara-saudaraku

Marilah kita berlomba-lomba dalam beramal sholeh dalam kehidupan yang singkat ini. Janganlah kita menjadi orang yang memiliki sifat sombong sehingga menolak kebenaran yang datang kepada kita. Begitu pula, janganlah kita menjadi orang-orang yang mendahulukan dunia dan mengikuti hawa nafsunya, sehingga berani berbicara dan mengamalkan agama tanpa bimbingan para ulama. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya:

فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
Fa-ʾamma man agha wa-ʾathara al-ayata ald-dunya fa-ʾinna al-jaīma hiya al-maʾwa wa-ʾamma man khafa maqāma rabbihī wa-naha n-nafsa ʿani al-hawa fa-ʾinna al-jannata hiya al-maʾwa

“Maka (dapatlah masing-masing mengetahui kesudahannya); adapun orang yang melampau (perbuatan derhakanya), serta ia mengutamakan kehidupan dunia semata-mata, Maka sesungguhnya neraka Jahanamlah tempat kediamannya. Adapun orang yang takutkan keadaan semasa ia berdiri di mahkamah Tuhannya, (untuk dihitung amalnya), serta ia menahan dirinya dari menurut hawa nafsu, - Maka sesungguhnya Syurgalah tempat kediamannya”. (Surah An-Naazi’aat: 37-41)

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung sehingga mendapatkan surga-Nya dan diselamatkan dari siksa api neraka.

Saudara-saudaraku sekalian,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan senantiasa membersihkan dan menyucikan diri-diri kita, dengan menjalankan ketaatan kepada-Nya serta tidak mengotorinya dengan perbuatan kemaksiatan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Qad ʾaflaa man zakkaha wa-qad khaba man dassaha

“Sesungguhnya berjayalah orang yang menjadikan dirinya - yang sedia bersih - bertambah-tambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan), Dan sesungguhnya hampalah orang yang menjadikan dirinya - yang sedia bersih - itu susut dan terbenam kebersihannya (dengan sebab kekotoran maksiat)”. (Surah Asy-Syams: 9-10)

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah, berkaitan dengan ayat ini mengatakan: “Maknanya adalah sungguh telah beruntung orang yang membersihkan dirinya dengan ketaatan kepada Allah l, dan sungguh merugilah orang-orang yang mengotori dirinya dengan bermaksiat (kepada-Nya)….”

Ketahuilah, bahawa setiap amalan yang dilakukan oleh seseorang maka akibatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Baik itu berupa amalan kebaikan ataupun amalan kejelekan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
Man 'amila shaalihan falinafsihi waman asaa-a fa'alayhaa wamaa rabbuka bizhallaamin lil'abiidi

“Sesiapa yang mengerjakan amal soleh maka faedahnya akan terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang berbuat kejahatan maka bahayanya akan menimpa dirinya sendiri; dan Tuhanmu tidak sekali-kali berlaku zalim kepada hamba-hambaNya”. (Surah Fussilat: 46)

Oleh kerana itu, sudah semestinya setiap orang senantiasa memperbaiki dirinya dengan terus bersemangat dalam mempelajari agama dan mengamalkannya. Bukan menjadi orang yang sibuk memerhatikan orang lain sementara dia melupakan keselamatan dirinya. Ketahuilah, setiap orang selama masih bernyawa dan berakal, tentu dia akan melakukan berbagai aktiviti. Maka, seseorang yang melakukan aktivitinya untuk menjalankan ketaatan, bererti dia telah menjual dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan akan diselamatkan dari siksa api neraka. Sedangkan orang yang melakukan aktivitinya untuk berbuat kemaksiatan maka sesungguhnya dia telah mencelakai dirinya sendiri.

Saudara-saudaraku,

Ingatlah, bahawa Allah  Subhanahu wa Ta’ala  telah memerintahkan kepada orang dua malaikat yang akan mencatat setiap aktivitinya.

Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ
Idz yatalaqqa al-mutalaqqiyāni ʿani al-yamīni wa-ʿani sh-shimāli qaʿīd mā yalfiu min qawlin ʾilla ladayhi raqībun ʿatīddun

“Semasa dua malaikat (yang mengawal dan menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya; yang satu duduk di sebelah kanannya, dan yang satu lagi di sebelah kirinya. Tidak ada sebarang perkataan yang dilafazkannya (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa sedia (menerima dan menulisnya)”. (Surah Qaaf: 17-18)

Maka marilah kita berusaha untuk menghitung amalan-amalan kita agar menjadi orang yang senantiasa memperbaiki diri di dunia ini, sebelum datangnya hari perhitungan amalan yang penyesalan pada hari itu tidak lagi memiliki arti. Begitu pula marilah kita berusaha menjaga anggota badan kita dari melakukan perbuatan yang tidak diridhai Allah l, sebelum datang hari yang pendengaran, penglihatan, dan tubuh yang lainnya akan berbicara sebagai saksi.

Allah  Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:

وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Wa-yawma yusharu ʾaʿʾu llāhi ʾilā n-nāri fa-hum yūzaʿūn,  attā ʾidhā mā jāʾūhā shahida ʿalayhim samʿuhum wa-ʾabāruhum wa-julūduhum bi-mā kānū yaʿmalūn. wa-qālū li-julūdihim li-ma shahidtum ʿalaynā qālū ʾanaqanā llāhu lladhī ʾanaqa kulla shayʾin wa-huwa khalaqakum ʾawwala marratin wa-ʾilayhi turjaʿūn.

“Dan (ingatlah) hari dihimpun musuh-musuh Allah untuk dibawa ke neraka, lalu mereka dijaga serta diatur keadaan dan perjalanannya masing-masing. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, (maka) pendengaran dan penglihatan serta kulit-kulit badan mereka menjadi saksi terhadap mereka, mengenai apa yang mereka telah kerjakan. Dan (setelah berlaku yang demikian), berkatalah mereka kepada kulit-kulit badan mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit-kulit badan mereka menjawab: "Allah yang berkuasa menjadikan tiap-tiap sesuatu pandai berkata-kata - telah menjadikan kami dapat berkata-kata; dan Dia lah yang menciptakan kamu pada mulanya, dan kepadaNyalah kamu dikembalikan (untuk menerima balasan”). (Surah Fussilat: 19-21)

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala  menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mengikuti petunjuk Rasul-Nya. Kerana sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara  ibadah yang baru yang tidak sesuai dengan petunjuknya. Setiap aturan yang baru dalam ibadah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya adalah di neraka.

Daripada Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah (r.a), katanya:

“Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam telah menasihati kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan menggugurkan air mata kami. Kami pun berkata kepadanya:  Ya Rasulullah, seolah-olah ianya nasihat ucapan selamat tinggal, maka wasiatilah kami. Baginda  Sallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “ Aku berwasiat kepadamu agar bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa jalla, hendaklah mendengar dan taat walaupun kamu diperintah oleh seorang hamba, kerana sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantaramu selepasku, maka ia akan mengalami banyak perselisihan. Maka hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Ar-Rasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham, awasilah kamu akan pembuat perkara-perkara yang baru, kerana sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.”  (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan at-Tirmizi dan beliau berkata: “ Hadith ini Hasan Shahih.” )

Wallahu A'lam

Dipost/edit oleh: HAR

No comments: